Berbagi Rasa Membesarkan Muhammadiyah di Ngawi

 
Suatu ketika, saya membayangkan bertemu
dengan Kyai Dahlan, pendiri persyarikatan tercinta ini. Setelah saya
mengucap salam dan dijawabnya, seraya beliau bertanya: Sebagai pimpinan
Muhammadiyah, sudahkan anda menghidup-hidupi Muhammadiyah? Berapa banyak
hartamu yang telah engkau infaqkan? Berapa lama waktumu untuk mengurus
persyarikatan ini?, Berapa banyak sekolah yang anda dirikan? Berapa
banyak rumah sakit anda bangun? Sudahkan anda mencerahkan umat?
Bagaimana anda menggerakkan jama’ah untuk menegakkan Al-Islam,
menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar, demi terwujudnya masyarakat muslim
yang sebenar-benarnya?. Sederetan pertanyaan itu baru sebagian dari
banyak pertanyaan lain dari beliau, yang ternyata semuanya tidak mampu
saya jawab. Saya merasa malu dengan diri sendiri, karena merasa
belum berbuat apa-apa terhadap keberhasilan cita-citanya, yang tidak
lain adalah cita-cita Muhammadiyah. Barangkali diantara kita malah sudah
mampu menjawab jauh sebelum ditanyakan, karena sudah merasa berbuat
banyak untuk membesarkan persyarikatan ini. Wallahu a’lam.

                Dari rasa malu tersebut, kemudian saya coba untuk
berfikir secara jernih penuh kejujuran pada diri sendiri. Jika PDM
periode 2010-2015 ini adalah hasil musyda ke-9, itu berarti bahwa
Muhammadiyah di Ngawi secara de facto maupun de yure
sudah didirikan dan dibangun selama 45 tahun yang lalu. PDM peride
pertama barangkali baru mampu mengenalkan soal nama Muhammadiyah, atau
bahkan mengenalkan dengan rasa malu-malu ataupun sembunyi-sembunyi,
karena situasi sosial politik saat itu yang sama sekali belum memberikan
ruang untuk Muhammadiyah. Peride ke-dua mungkin sudah meningkat ada
amal usaha kajian islam, meskipun terbatas pada internal pimpinan.
Demikian seterusnya, hingga PDM pada periode selanjutnya. Pada zamannya
masing-masing kita semua meyakini bahwa mereka telah berupaya keras
dengan sekuat tenaga membesarkan Muhammadiyah. Dan hasilnya sebagaimana
yang kita lihat dan rasakan hingga sekarang ini.

                Usia 45 tahun adalah usia produktif paling akhir
menjelang usia tua, dan sebentar lagi memasuki usia senja serta manula,
untuk ukuran manusia. Demikian pula usia Muhammadiyah di Ngawi.
Kemudian, hal-hal produktif apakah yang telah kita hasilkan selama ini?
Mengatakan keberhasilan akan memacu motivasi diri untuk berbuat lebih
produktif lagi, dengan catatan tidak diniatkan untuk takabur. Sedangkan
meratapi kegagalan biasanya menjadikan diri kita pesimistis atau bahkan
menjadi patah arang. Berikut akan saya sampaikan beberapa hal produktif
yang telah mampu kita bangun bersama. Selain dimaksudkan untuk mawas
diri, barangkali dapat dipakai sebagai jawaban atas pertanyaan Kyai
Dahlan di depan, dalam persepektif intuitif guna memacu motivasi semata.

  1. Terbukanya hubungan antar struktural-ortom-AUM yang lebih familiar dan
    harmonis dalam semangat ke-Muhammadiyahan. Sebagai contoh, dahulu,
    untuk pergantian kepala sekolah hampir semua proses diwarnai dengan “pertengkaran
    antar personal yang masing-masing merasa memiliki hak untuk menjadi
    kepala sekolah. Bahkan, kepala sekolah yang lama seakan berupaya
    mempertahankan jabatannya selama-lamanya, hingga proses pergantian
    tersebut tidak perlu ada. Pada era sekarang, semua proses sangat
    terbuka, tidak tabu, calon pengganti berani menyatakan siap, dan yang
    diganti legowo dengan berhias senyum penuh keikhlasan. Suatu ketika,
    saya datang silaturrahim ke TK ABA bertemu dengan ibu guru. Yang terjadi
    adalah, kedatangan saya disambut dengan perasaan aneh seperti saya
    telah melakukan hal yang tidak wajar. Ibu guru seraya bertanya, ketua
    PDM kok ngurus TK ABA, apa kaitannya? Memang sama sekali tidak ada yang
    salah dalam permasalahan ini, tetapi semua diantara kita meski harus
    terpelajarkan. Ketika itu saya upayakan untuk mencerahkan tanpa harus
    marah. Kira-kira, memakai pendekatan Al-hanafiatush shamkhah,
    berprinsip tetapi bisa kompromi. Ibu guru TK tersebut adalah warga
    Muhammadiyah, dan saya merasa wajib untuk silaturrahim dengan warga
    Muhammadiyah siapapun, kapanpun dan dimanapun, bukan mengurus TK-nya.
    Alhamdulillah, sekarang semuanya biasa-biasa saja, dan perasaan tabu
    yang dahulu kini telah berubah, subkhanallah.
  2. Kelahiran pontren ULIL ALBAB-2 di Desa Pakah. Kita sama-sama ingat
    saat itu bahwa sebagian warga kita teraniaya oleh orang lain, yang tidak
    perlu diketahui apa sebab musababnya.  Yang pasti kemudian adalah bahwa
    Muhammadiyah menerima ananah lahan dakwah baru penuh tantangan. Puluhan
    kali pimpinan dan semua unsur rapat dan diskusi ternyata lahirlah suatu
    ide cemerlang dari pimpinan-pimpinan, tokoh-tokoh dan kalangan muda
    Muhammadiyah yang semuanya cerdas penuh semangat,  yaitu ide perlunya
    didirikan pondhok pesantren di desa itu. Semua unur PDM bergerilya bahu
    membahu dengan PCM serta unsur lain untuk mencari calon santri dari
    seluruh pelosok desa di Ngawi. Begitu cemerlangnya gagasan itu, dan
    Alhamdulillah seperti yang kita saksikan sekarang ini bahwa calon
    pengganti pimpinan Muhammadiyah di Ngawi sedang dipersiapkan dan
    digodhok di pontren itu. Kembali kepada pertanyaan Kyai Dahlan di depan,
    mari masing-masing kita mencoba menjawab, seberapa besar andil anda
    dalam keberhasilan ini? Jika merasa sudah maka mari kita tingkatkan,
    namun jika merasa belum berbuat apa-apa sesungguhnya masih terbentang
    luas kesempatan.
  3. Kelahiran BTM Bagaskara dan SULI 5. Tatkala Muhammadiyah daerah lain
    sedang sibuk menghitung harta kekayaan persyarikatan sebagai sarana
    dakwah pencerahan, kita justru belum berfikir akan pentingnya dakwah
    ekonomi, bahkan mimpipun tidak. Menyadari hal demikian, semua unsur
    pimpinan dan tokoh-tokoh pemikir Muhammadiyah di Ngawi mencoba
    merintisnya dengan dua amal usaha sekaligus, yaitu BTM Bagaskara dan
    AMDK SULI 5. Hingga saat ini, kedua AUM tersebut berkembang cukup bagus,
    tentu saja atas dukungan kita semua. Jika AUM ekonomi ini kita pandang
    sebagai suatu keberhasilan, mari kita coba jawab kembali pertnayaan Kyai
    Dahlan di depan. Biarkan saja orang bicara dan berpendapat, yang pasti
    masing-masing dari kita hendaknya bertanya pada diri sendiri seberapa
    besar telah ikut berperan, terutama yang mengaku sebagai pimpinan. Setiap diri kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin kelak pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.   
  4. Gedung Dakwah Muhammadiyah. Pimpinan pendahulu kita di masa lampau
    sangat merindukan tempat ini, gedung ini, sebagai sarana dakwah. Mereka
    semua telah memulai merintis pada zamannya, telah memulai, telah
    mengupayakan, dan kebetulan era kita sekarang ini mampu mewujudkan
    secara nyata. Maka dari itu, gedung ini adalah monumental karena telah
    dicita-citakan cukup lama. Kita semua berharap bahwa dengan berdirinya
    bangunan bergengsi ini, semangat dakwah amar ma’ruf nahi mungkar kita
    semakin meningkat. Jika kita mau jujur, sesungguhnya tidak ada yang
    mustahil bagi organisasi besar seperti Muhammadiyah. Dana milyaran
    rupiah untuk membangun gedung ini, siapapun tidak pernah mimpi akan
    mampu memiliki duit sejumlah itu. Nyatanya, kita bisa ujudkan. Sebab,
    kita ini besar, kita ini jama’ah,  kita ini ikhlas beramal. Masalahnya
    sekarang adalah, mampukah kita terus membesarkan Muhammadiyah dengan
    adanya tambahan fasilitas ini? Insya Allah. Keberhasilan ini hendaknya
    juga harus kita jadikan moment untuk menjawab pertanyaan Kyai Dahlan. 
    Sudahkan masing-masing kalian berbuat untuk keberhasilan ini? Jika
    belum, mulailah! Dan jika sudah, teruslah berbuat dan berilah manfaat,
    karena sesungguhnya  khairunnaas anfauhum li naas.

Sekali lagi, apapun keberhasilan yang mampu kita raih, mari kita
syukuri sebagai keberhasilan bersama. Contoh tersebut di atas barulah
sebagian dari semua yang telah kita perjuangkan di medan dakwah. Masih
banyak hal lain yang menunggu buah pikiran kita, menunggu uluran tangan
kita, dan menunggu amaliah kita. Berbuatlah seperti matahari-lambang
milik Muhammadiyah itu kata Kyai Dahlan. Matahari itu ikhlas memberi dan
tidak harap kembali, memberi manfaat bagi siapapun tanpa pernah
diminta, menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga orang lain mau
berbuat apa saja yang seharusnya dibuat dengan kesadarannya sendiri.
Syangnya, masih cukup banyak diantara kita yang baru bisa ngomong namun
belum mampu mengamalkan, hebat dikala berpendapat dalam forum rapat,
namun belum mampu berbuat. Kita belum bisa seperti matahari, dan Kyai
Dahlan pun pasti akan tersenyum meskipun disertai istighfar.

Semoga bermanfaat.

Oleh: Gunadi Ash Cidiq