Apakah Setiap yang Haram itu Najis ?

Terkadang
kita sempat bingung untuk barang yang haram dan barang yang najis. Apakah
setiap yang haram itu najis? Misal saja khomr (miras), Dideh ( Darah
sembelihan yang mengalir ) dan yang lainya yang sudah kita pahami keharamnya,
apakah dihukumi pula najis sehingga tidak boleh disentuh ?.
Ulama’ besar
Ibnu Taimiyah rahimahullah yang telah menjadi rujukan ilmu fiqhnya
oleh ulama-ulama setelah beliau telah memberikan kita kaedah mudah
untuk memahami najis dan haram. Beliau berkata,
كُلُّ نَجِسٍ مُحَرَّمَ الْأَكْلِ
وَلَيْسَ كُلُّ مُحَرَّمِ الْأَكْلِ نَجِسًا
Setiap najis diharamkan untuk
dimakan, namun tidak setiap yang haram dimakan itu najis
.” (Majmu’atul
Fatawa
, 21: 16).
Kaedah ini bermakna setiap yang
najis haram dimakan. Sedangkan sesuatu yang haram, belum tentu najis, bisa jadi
pula suci.
Permisalan dari Penerapan Kaedah
diatas
1- Racun itu haram untuk dikonsumsi karena
memberikan dhoror (bahaya) pada tubuh. Namun jikalau haram,
tidak semata-mata dihukumi najisnya. Karena keharaman belum tentu
mengkonsekuensikan najis.
2- Makanan yang dicuri diharamkan untuk dikonsumsi
karena tidak ada izin si empunya atau pula tidak diizinkan oleh syari’at. Akan
tetapi sesuatu yang haram ini tidak menunjukkan najisnya. Tetapi haram disini
dari segi cara mendapatkanya bukan haram dari segi zatnya.
3- Khomr sudah disepakati haramnya, namun -menurut pendapat
terkuat- khomr
tidaklah najis
. Karena hukum asal segala sesuatu itu suci sampai ada dalil yang najisnya. Imam Asy
Syaukani rahimahullah berkata mengenai firman Allah,
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ
وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ
Hai orang-orang yang beriman,
sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi
nasib dengan panah adalah kotor termasuk perbuatan syaitan
” (QS.
Al Maidah: 90). Khomr di sini dikaitkan dengan anshob (berhala)
dan azlam (anak panah). Ini sudah mengindikasikan bahwa yang
dimaksud adalah kotor maknawi dan bukan najis syar’i (Lihat Ad Daroril
Mudhiyyah Syarh Ad Duroril Bahiyyah
, hal. 62-63).
إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ
الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ
فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Sesungguhnya Allah hanya
mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang
disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa
memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
” (QS. An Nahl: 115).
Yang dimaksudkan darah yang
dialirkan disebutkan dalam ayat,
قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ
إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ
دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ
لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ
غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah: “Tiadalah aku
peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi
orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai,
atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua
itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa
yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula)
melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

(QS. Al An’am: 145).
Namun meskipun darah diharamkan
tetapi tidaklah najis
. Hukum darah itu kembali pada hukum asal segala
sesuatu yaitu suci sampai ada dalil yang menyatakan najisnya. Darah yang
dianggap najis hanyalah darah haidh, selain itu dihukumi akan sucinya. Lihat
pembahasan Imam Asy Syaukani dalam Ad Daroril Mudhiyyah, hal. 61.
Mengenai
kaedah di atas dijelaskan pula oleh Imam Ash Shon’ani,
“Sesuatu yang najis tentu saja
haram, namun tidak sebaliknya. Karena najis berarti tidak boleh disentuh dalam
setiap keadaan. Hukum najisnya suatu benda berarti menunjukkan haramnya, namun
tidak sebaliknya. Diharamkan memakai sutera dan emas (bagi pria), namun
keduanya itu suci karena didukung oleh dalil dan ijma’ (konsensus para ulama).
Jika engkau mengetahui hal ini, maka haramnya khomr dan daging keledai jinak
sebagaimana disebutkan dalam dalil tidak menunjukkan akan najisnya. Jika ingin
menyatakan najis, harus didukung dengan dalil lain. Jika tidak, maka kita tetap
berpegang dengan hukum asal yaitu segala sesuatu itu suci. Siapa yang mengklaim
keluar dari hukum asal, maka ia harus mendatangkan dalil. Sedangkan bangkai
dihukumi najisnya karena dalil mengatakan haram sekaligus najisnya.”
(Lihat Subulus Salam, 1: 158).
Semoga bermanfaat.
Hanya Allah yang memberi taufik.
Referensi:
1- Ad Daroril Mudhiyyah,
Al Imam Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan
pertama, tahun 1432 H.
2- Al Harom fii Syari’atil
Islamiyyah
, Dr. Quthb Ar Risuni, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama,
tahun 1432 H.
3- Majmu’atul Fatawa,
Taqiyuddin Ahmad bin Taimiyah Al Harroni, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan
keempat, tahun 1432 H.
4- Subulus Salam Al Muwshilah
ila Bulughil Marom
, Muhammad bin Isma’il Al Amir Ash Shon’ani, terbitan Dar
Ibnul Jauzi, cetakan kedelapan, tahun 1432 H.
Penulis: Agus Faizal (Anggota Muhammadiyah Magelang)