Problem Sanad Hadis “Khilafah ala Minhaj an-Nubuwwah”

Muhammad Rofiq Muzakkir, Lc, MA
(Alumnus Universitas al-Azhar Mesir)
حَدَّثَنَا
سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ، حَدَّثَنِي دَاوُدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ
الْوَاسِطِيُّ، حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ سَالِمٍ، عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ،
قَالَ: كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، وَكَانَ بَشِيرٌ رَجُلًا يَكُفُّ حَدِيثَهُ، فَجَاءَ أَبُو ثَعْلَبَةَ
الْخُشَنِيُّ، فَقَالَ: يَا بَشِيرُ بْنَ سَعْدٍ أَتَحْفَظُ حَدِيثَ رَسُولِ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فِي الْأُمَرَاءِ؟ فَقَالَ حُذَيْفَةُ: أَنَا
أَحْفَظُ خُطْبَتَهُ، فَجَلَسَ أَبُو ثَعْلَبَةَ، فَقَالَ حُذَيْفَةُ: قَالَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” تَكُونُ النُّبُوَّةُ
فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ
يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، فَتَكُونُ
مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ
يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا، فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ
يَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا
جَبْرِيَّةً، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا
شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ نُبُوَّةٍ
” ثُمَّ سَكَتَ، قَالَ حَبِيبٌ: ” فَلَمَّا قَامَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ
الْعَزِيزِ، وَكَانَ يَزِيدُ بْنُ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ فِي صَحَابَتِهِ،
فَكَتَبْتُ إِلَيْهِ بِهَذَا الْحَدِيثِ أُذَكِّرُهُ إِيَّاهُ، فَقُلْتُ لَهُ:
إِنِّي أَرْجُو أَنْ يَكُونَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ، يَعْنِي عُمَرَ، بَعْدَ
الْمُلْكِ الْعَاضِّ وَالْجَبْرِيَّةِ، فَأُدْخِلَ كِتَابِي عَلَى عُمَرَ بْنِ
عَبْدِ الْعَزِيزِ فَسُرَّ بِهِ وَأَعْجَبَهُ ” ]رواه أبو داود الطيالسى و أحمد و اللفظ له و
البزار و الطبرانى[
Sulaiman bin Dawud
al-Thayalisiy telah meriwayatkan sebuah hadits kepada kami;
[di mana ia berkata] Dawud bin Ibrahim
al-Wasithiy telah menuturkan hadits kepadaku. [Dawud bin Ibrahim berkata],
Habib bin Salim telah meriwayatkan sebuah hadits dari Nu’man bin Basyir di mana
ia berkata: Kami sedang duduk di dalam Masjid bersama Nabi saw, Basyir adalah
seorang laki-laki yang sedikit bicara. Lalu, datanglah Abu Tsa’labah
al-Khusyaniy seraya berkata, Wahai Basyir bin Sa’ad, apakah kamu hafal hadits
Nabi saw yang berbicara tentang para pemimpin? Hudzaifah menjawab, Saya hafal
khuthbah Nabi saw.  Hudzaifah berkata,
Nabi saw bersabda, Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak
Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak
menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa
khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah;
dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia
berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja
menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang.
Lalu Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan
datang masa raja diktator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan
datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian,
datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaj al-Nubuwwah. Setelah itu, beliau diam
. Ketika
Umar bin  Abd Aziz menjadi pemimpin
dan Yazid bin Nu`man bin Basyir menjadi temannya, maka aku menulis surat
kepadanya   dengan hadis ini, aku ingatkan  dia dengan hadis ini. Aku katakan
kepadanya, sesungguhnya  aku berharap  ia yakni Umar (ibn Abdul Aziz)
menjadi Amirul Mukminin  setelah raja yang lalim dan diktator. Surat ku
ini disampaikan kepada Umar bin  Abd Aziz, lalu  beliau pun merasa
gembira dan tertarik padanya  [HR Abu Dawud
al-Thayalisi, Ahmad dan lafal ini darinya, al-Bazzar dan al-Thabrani].
Takhrij
1.    Abu
Sulaiman Dawud al-Thayalisi (204 H). Musnad al-Thayalisi. Editor:
Muhammad ibn Abdul Muhsin al-Turkiy. Bab “Ahadits Hudzaifah al-Yaman
Rahimahullah”, jilid 1, hal. 349, hadis no. 439. (Mesir:
Dar Hajar, 1419/1999).
2.    Ahmad
ibn Hanbal (241 H). Musnad Ahmad. Editor: Syuaib al-Arnauth. Bab “Hadits
al-Nu’man ibn Basyir an al-Nabiyyi Saw.”,
jilid 30, hal. 355, hadis no
18406. (Kairo: Muassasah al-Risalah, 2001/1421).
3.    Abu
Bakar Ahmad ibn Amru al-Bazzar (w. 292 H). Musnad al-Bazzar. Editor:
Mahfuz al-Rahman Zain Allah. Bab “al-Nu’man ibn Basyir an Hudzaifah”, jilid 7,
hal. 223, hadis no. 2796. (Madinah: Maktabah al-Ulum wa al-Hikam, 2009).  
4.    Sulaiman
ibn Ahmad Abu al-Qasim al-Thabrani (360 H). Mu’jam al-Thabrani. Editor:
Hamdi al-Salafiy. Bab “Ma jaa fi fasad al-nas ‘inda
izhari al-khumur wa ishtilal al-harir wa al-furuj”, jilid 1,
hal. 157, hadis no. 368. (Kairo : Maktabah Ibni Taimiyah, 1994/1415).
  Sanad hadis di atas dibagi
menjadi dua jalur. Jalur pertama adalah jalur al-Thabrani, jalur kedua adalah
jalur al-Bazzar, Ahmad dan Abu Dawud al-Thayalisi.
a. Jalur al-Thabrani
Di dalam jalur al-Thabrani, terdapat dua perawi yang
menjadi problem hadis, yaitu Habib ibn Abi Tsabit dan laki-laki dari
Quraisy.
1.
Habib ibn Abi Tsabit:
Mengenai sosok ini, di dalam kitab biografi
perawi-perawi hadis kita membaca banyak pujian-pujian ulama hadis terhadap dirinya.
Selain kredibel (tsiqah) dan jujur (shuduq), ia juga disebut
sebagai salah satu dari tiga tokoh yang biasa memberikan fatwa di Kufah pada
masanya. Namun demikian, selain pujian tersebut ada pula catatan negatif dari
beberapa kritikus hadis lainnya, seperti Ibnu Hibban dalam al-Tsiqat dan
Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahih-nya yang menilai Habib sebagai perawi
yang mudallis (julukan bagi perawi yang suka menyembunyikan kecacatan
hadis). Dalam Tahdzîbu al-Tahdzib Ibnu Hajar menerangkan bahwa ada
beberapa hadis yang ia klaim telah ia dengar langsung dari beberapa sahabat
Nabi, padahal para ulama hadis meyakini betul bahwa tidak ada pertemuan antara
Habib dan beberapa sahabat tersebut. Seperti klaimnya telah menerima hadis dari
Urwah bin Zubair dan Ummu Salamah. Dalam Taqribu al-Tahdzib, ia disebut selain
suka menyembunyikan kecacatan hadis (melakukan tadlis), juga sering
meriwayatkan hadis secara terputus. Dalam ilmu hadis, syarat seorang mudallis
dapat diterima hadisnya adalah ia tidak boleh menggunakan simbol periwayaan
yang tidak pasti saat meriwayatkan hadis dari perawi sebelumnya, seperti simbol
‘an (dari). Kaedah yang berlaku dalam ilmu kritik hadis adalah jika
seorang mudallis menggunakan redaksi ‘an, maka hadisnya adalah
hadis yang daif dan tertolak. Dalam hadis yang sedang kita bicarakan ini, Habib
justru menggunakan redaksi tersebut.
2.
Laki-laki dari Quraisy:
Selain problem
pada perawi yang bernama Habib, problem lainnya adalah pada perawi sebelum
Habib, alias guru Habib atau orang yang darinya Habib menerima hadis. Dalam
sanad, oleh Habib hanya disebutkan bahwa ia menerima hadis ini dari laki-laki suku
Quraisy, tanpa menyebut siapa nama perawi tersebut. Dalam ilmu hadis perawi
seperti ini disebut sebagai perawi yang mubham. Hukum perawi yang mubham
adalah tertolak laporannya alias hadisnya menjadi hadis daif. Sebuah hadis baru
dapat disebut sahih jika diriwayatkan oleh para perawi yang kredibel (tsiqah)
atau jujur
dan kompeten (dhabt). Jika perawi hadis adalah seorang perawi mubham,
maka tingkat
kredibilitas dan kompetensinya dalam meriwayatkan hadis menjadi tidak dapat
diukur dan diketahui.
b. Sanad al-Thayalisi, Ahmad dan al-Bazzar
Sanad ini adalah sanad yang
terpisah dari sanad al-Thabrani. Atau dengan kata lain leseluruhan perawi dari
jalur ini berbeda dengan perawi dari jalur al-Thabrani. Pada jalur ini
problem hadis terletak pada perawi bernama Dawud ibn Ibrahim al-Washitiy (selanjutnya
disingkat DIW) yang tidak lain adalah guru dari Abu Dawud al-Thayalisi
(selanjutnya disingkat ADT), mukharrij hadis tentang khilafah di atas.
Mengenai DIW, ADT dalam kitabnya Musnad
memberi penilaian bahwa ia adalah perawi yang tsiqah. Ibnu Hibban yang sebenarnya
tidak meriwayatkan hadis ini juga ikut menilai DIW tsiqah dalam kitabnya
al-Tsiqat.
Mengenai penilaian tsiqah
dari Ibnu Hibban tersebut, setelah dilacak ternyata DIW bukanlah perawi yang
riwayatnya ia gunakan. Dengan kata lain riwayat dari DIW tidak ditemukan dalam
kitab Shahih Ibni Hibban. Oleh karena itu, penilaian sahih dari Ibnu
Hibban tersebut tidak diragukan lagi hanyalah ‘kutipan’ dari penilaian ADT, bukan
penilaian yang didasarkan pada pengalaman langsung meriwayatkan hadis DIW.
Selain
itu, dalam menuliskan biografi DIW, Ibnu Hibban juga tampaknya
kurang akurat. Menurut Ibnu Hibban, DIW adalah murid dari Thawus dan Habib ibn
Salim serta guru dari Ibnul Mubarak dan Abu Dawud al-Thayalisi. Padahal menurut
Bukhari dalam al-Tarikh al-Kabir dan Ibnu Abi Hatim dalam al-Jarh wa
al-Ta’dil
, Dawud ibn Ibrahim yang pernah menjadi murid Thawus dan guru dari
Ibnul Mubarak adalah Dawud ibn Ibrahim yang lain (Silahkan pembaca
membandingkan perawi no. 803 dan 804 dalam kitab al-Tarikh al-Kabir dan
perawi no. 1864 dan 1865 dalam kitab al-Jarh wa al-Ta’dil. Lihat pula
komentar Syuaib al-Arnauth dalam catatan kaki hadis no. 18406 Musnad Ahmad).
Mengenai
DIW yang problematis
ada dua hal yang patut dicermati.    
Pertama, ADT [satu-satunya sumber
informasi tentang DIW] hanya menerima satu hadis saja dari DIW. Dalam kitab Musnad
[yang keseluruhan hadisnya berjumlah 2890 hadis] ADT hanya satu kali menyebut
nama DIW, yaitu pada hadis no. 439. Setelah itu dan sebelum itu, nama tersebut
tidak pernah muncul sebagai perawi hadis dalam kitab Musnad miliknya.
Menjadi lebih problematis lagi ternyata nama DIW juga tidak muncul pada
kitab-kitab induk [al-mashadir al-ashliyyah] hadis yang muktabar lainnya,
kecuali pada Musnad Ahmad yang jalurnya adalah jalur yang sama dengan
jalur ADT [karena Ahmad adalah murid ADT]. Hal ini menimbulkan dua pertanyaan;
pertama, mengapa ulama-ulama hadis terkemuka selain ADT tidak meriwayatkan
satupun hadis dari DIW? Kedua, apakah iya seumur hidupnya, DIW hanya memiliki
satu hafalan hadis sehingga hanya itu saja yang ia sampaikan kepada muridnya
ADT?
Kenyataan tentang minimnya hadis
dari DIW tersebut, membuat kita sulit untuk memverifikasi kebenaran penilaian
ADT tentang ketsiqahan DIW. Maka menjadi beralasan jika kemudian kita bersikap skeptis
(meragukan) keterangan tunggal dari ADT tentang keterpecayaan DIW. Dalam ilmu hadis, keberadaan DIW sebenarnya sudah
dapat dikategorikan sebagai perawi yang majhul ain (tidak diketahui
orangnya) karena hanya ada satu orang saja yang pernah menerima riwayat darinya.
Kedua, ada beberapa nama Dawud
ibn Ibrahim lainnya [yang dinilai kadzzab (pendusta) oleh para kritikus
hadis] yang bisa jadi adalah tokoh yang sama dengan DIW versi ADT. Berikut
adalah nama-nama tersebut:
DAFTAR NAMA DAWUD IBN IBRAHIM
Pada kitab al-Tarikh al-Kabir karya Bukhari (w
256 H)
1.
Dawud ibn Ibrahim al-Wasithiy (DIW) dari Wasith Irak.
2.
Dawud ibn Ibrahim dari Yaman. Komentar kritikus :
tsiqah.
Pada kitab al-Jarh wa al-Ta’dil karya Ibnu Abi
Hatim (w 327 H)
1.
Dawud ibn Ibrahim al-Wasithiy (DIW) dari Wasith Irak.
2.
Dawud ibn Ibrahim, Hakim di Qazwin, Irak.  Komentar kritikus: kadzzab (suka
berdusta).
3.
Dawud ibn Ibrahim dari Yaman. Komentar kritikus :
tsiqah.
Pada kitab Mizanul I’tidal karya al-Dzahabiy (w
748 H)
1.
Dawud ibn Ibrahim al-Wasithiy (DIW) dari Wasith Irak.
2.
Dawud ibn Ibrahim, Hakim di Qazwin, Irak.  Komentar kritikus: kadzzab (suka
berdusta).
3.
Dawud ibn Ibrahim al-Uqailiy. Komentar kritikus : kadzzab
(suka berdusta).
4.
Dawud ibn Ibrahim al-Bahiliy. Komentar kritikus : la
yu’raf
(tidak dikenal).
5.
Dawud ibn Ibrahim. Tidak ada komentar kritikus.
6.
Dawud ibn Ibrahim. Komentar kritikus: mastur
(tertutup informasi mengenainya)
7.
Dawud ibn Ibrahim ibn Ruzbah/Abu Syaibah. Komentar
kritikus: tsiqah (terpecaya).
8.
Dawud ibn Ibrahim dari Yaman. Komentar kritikus: tsiqah
(terpecaya).
Abu Dawud al-Thayalisi (w 204 H),
pada zamannya baru menyebut satu orang Dawud ibn Ibrahim, yaitu DIW. Pada zaman
Bukhari (w. 256 H), ada perkembangan di mana diketahui bahwa ada perawi lain
yang memiliki nama yang sama, yaitu Dawud ibn Ibrahim dari Yaman. Pada zaman Ibnu
Abi Hatim (w. 327 H), 71 tahun setelah Bukhari, ada satu nama lagi yang masuk
dalam kitab biografi, yaitu Dawud ibn Ibrahim yang menjadi hakim di Qazwin
(sekarang propinsi Iran). Pada zaman al-Dzahabiy (w. 748 H), atau 492 tahun
setelah Bukhari, jumlah perawi yang bernama Dawud ibn Ibrahim bertambah lagi
dalam kitab biografi perawi (al-tabaqat wa al-tarajim). Setelah 492 tahun
terdata ada delapan orang perawi yang bernama Dawud ibn Ibrahim. Tiga diantara
delapan orang tersebut berstatus tidak dikenal (la yu’raf/mastur) dan
dua diantaranya adalah perawi yang kaddzzab (pendusta). Dua orang Dawud
ibn Ibrahim yang pendusta adalah Dawud ibn Ibrahim hakim di Qazwin dan Dawud
ibn Ibrahim al-Uqailiy.
Ada dugaan yang kuat bahwa DIW
yang menjadi perawi hadis khilafah sebenarnya adalah orang yang sama dengan
Dawud al-Uqaily dan Dawud sang hakim yang disebut sebagai kadzdzab oleh
sebagian kritikus. Jadi ada kemungkinan tiga perawi bernama Dawud ibn Ibrahim
yang disebut berbeda oleh al-Dzahabiy sebenarnya adalah orang yang sama. Dugaan
tersebut didukung oleh beberapa data dari para biograper mengenai sosok bernama Dawud ibn
Ibrahim. Berikut data tersebut (silahkan pembaca memverifikasi kembali).
1.    Abu al-Qasim Tamam
al-Razi. Fawaid Tamam, hadis no. 253.
2.    Ibnu
al-Jauziy, al-Dluafa wa al-Matrukin, perawi no. 1136.
3.    Syaikh
al-Ashfahani, Tabaqat al-Muhadditsin bi Asbahan wa al-Waridin ‘alaiha,
hadis no. 413.
4.    Al-Mizzy,
Tahdzib al-Kamal, ketika menulis murid dari Hisyam ibn Ziyad, perawi no.
6575.
5.    Al-Sakhawi,
al-Tuhfah al-Lathifah fi Tarikh al-Madinah al-Syarifah, ketika menulis
biografi Ahmad ibn Qudamah al-Qazwiniy, perawi no. 249.
6.    Al-Rafi’iy
al-Qazwiniy, al-Tadwin fi Akhbari Qazwin, nama pertama dari bab “dal”.
Kesimpulan
Dari apa
yang ditulis sebelumnya dapat disimpulkan beberapa hal:
1.
Hadis “khilafah ala minhaj
an-nubuwwah” adalah hadis ahad (diriwayatkan hanya oleh sejumlah kecil perawi
pada setiap tingkatannya).
2.
Hadis tersebut memiliki sejumlah
problem sanad.
3.
Pada jalur al-Thabrani problemnya
adalah kedaifan hadis yang disebabkan oleh sosok Habib ibn Abi Tsabit dan
laki-laki Quraisy.
4.
Sedangkan pada jalur al-Thayalisi
problemnya adalah sosok DIW yang hadisnya hanya diriwayatkan oleh ADT saja.
Hadisnya tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadis induk yang muktabar (seperti Kutubus
Sittah
).
5.
Ada pula dugaan kuat bahwa DIW
adalah Dawud ibn Ibrahim yang dinilai pendusta oleh sebagian kritikus
hadis.  Wallahu A’lam.