144 Pandu HW PTM Ikuti Jambore Nasional

Sukoharjo – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah,
Sukriyanto AR mengingatkan bahwa perkembangan iptek, informasi,
transportasi dan migrasi penduduk yang begitu cepat menjadikan tantangan
berat bagi kepanduan Hizbul Wathan (HW).
 

“Karena itu, HW harus segera mengambil langkah-langkah strategis dan
taktis,” tandasnya di depan Seminar Akselerasi Gerakan Kepanduan Hizbul
Wathan Sebagai Pandu Modern dan Pandu Sejati,” di Auditorium Universitas
Muhammadiyah Surakarta (UMS), Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Sabtu
(23/8).

Sukriyanto meminta pimpinan HW harus ada peningkatan gerak organisasi,
sekaligus harus mau menekuni, mengembangkan HW baik dari aspek
organisasi, ideologis maupun aktifitas konkrit. HW harus membangun
sumber daya manusia, banyak melakukan pelatihan-pelatihan baik teoritik
keilmuan, fisik ketrampilan, disamping juga melakukan studi banding baik
dalam negeri maupun luar negeri.

HW musti mau melakukan sosialisasi, khususnya di lembaga-lembaga
pendidikan dan juga di berbagai kampung, desa, kecamatan, daerah dan
propinsi yang belum ada Muhammadiyahnya. “HW harus jadi pelopor”,
ujarnya.

Ke depan HW harus dipersiapkan antara lain dengan menanamkan visi dan
misinya. HW harus menegaskan kembali visinya sebagai kader Muhammadiyah,
kader umat dan kader bangsa. Misi HW seperti yang tersebut dalam
simbol-simbol, perjanjian dan undang-undang  harus selalu ditampilkan
diwujudkan dalam masyarakat.

 

144 Pandu HW PTM Ikuti Jambore Nasional

Sebanyak 144 Pandu Hizbul Wathan (HW) Perguruan Tinggi Muhammadiyah
(PTM) mengikuti Jambore Nasional HW 2014 yang diselenggarakan (21 –
24/8) di Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). “Mereka
berasal dari 25 PTM dari seluruh Indonesia,” jelas Ketua Umum Kwartir
Pusat Gerakan Kepanduan HW, Uun Harun Syamsuddin , di Kampus UMS,
Sukoharjo, Jumat kemarin (22/8).

Uun mengatakan, Jambore Nasional kali ini adalah jambore penuntun atau
penegak kalau Pramuka untuk pertama kali setelah kepanduan HW dibekukan
oleh pemerintah tahun 1961 lalu. Tujuan jambore kali ini sebagai ajang
silaturahim dalam rangka mempererat ukhuwah kepanduan HW. Selain itu,
untuk menyamakan persepsi kepanduan HW, baik model, metode latihan,
sekaligus memperbarui metode yang sudah tidak sesuai dengan jamannya.
“Tentu saja itu semua untuk membangkitkan kembali kepanduan HW yang
sempat ditidurkan sejak tahun 1961, dan kini beberapa tahun belakangan
ini dibangkitkan lagi,” jelasnya.[sp/muhammadiyah.or.id]