Pluralisme Beda dengan Pluralitas

Pluralisme Bertentangan dengan Pluralitas

Sebagai konsekwensi dari  doktrin bahwa Islamlah satu-satunya agama yang
diridhoi oleh Allah SWT maka tentu saja agama-agama lain yang dianut
dan diyakini oleh sebagian umat manusia ditolak kebenaranya, bukan
keberadaanya. Sekali lagi yang ditolak adalah kebenaranya bukan
keberadaanya ” (Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., MA)
Pluralitas adalah sunatullah 
Pluralitas
bersal dari kata plural yang berarti jamak[1] atau bisa berarti
kebe-ragaman, dan di Indonesia disebut kebhinekaan. Sebagaimana gambaran
Allah SWT tentang penciptaan langit dan bumi dan berlainan bahasa dan warna kulit[2].
Tentang ayat ini, Imam Ibn Katsir menyatakan bahwa penduduk dunia sejak
diciptakannya Adam hingga Hari Qiyamah memiliki dua mata dan dua alis,
satu hidung dan mulut dan tidak akan sama satu dengan yang lain dan
dibedakan oleh bentuk fisik, bahasa dengan logat dan uslub yang berbeda
pula, meskipun kadang sama-sama memiliki rupa yang bagus atau cantik
ataupun buruk, akan tetapi harus dibedakan antara satu dengan yang lain
[3].
Dari penafsiran beliau, dapat dipahami bahwa pluralitas adalah sebuah
keniscayaan yang ada di dunia ini bahkan beliau mengajarkan untuk tetap
menganggap bahwa perbedaan akan selalu ada. 
 
Senada
dengan ayat tersebut, Allah mengabarkan juga tentang manfaat adanya
pluralitas yaitu agar manusia saling mengenal satu dengan yang lain
[4].
Imam Al Qurthuby menafsirkan ayat tersebut bahwa Allah SWT menciptakan
diantara laki-laki dan perempuan, keturunan, kerabat, suku dan bangsa
agar saling mengenal  dan tetap terjalin hubungan yang terus menerus
sebagai hikmah penciptaan yang beragam yang telah ditetapkan-Nya
[5]. 
Pengenalan
terhadap segala yang berhubungan dengan orang lain bukan berarti untuk
menyamakan dan membeda-bedakan tapi untuk saling memahami bahwa
masing-masing individu memiliki kelebihan dan kekurangan. Sebagaimana
petunjuk Rasulullah SAW bahwa Allah SWT tidak melihat seseorang dari
bentuk fisik dan harta, namum Allah SWT melihat hati dan amal perbuatan
[6].
Dalam kesempatan lain beliau juga menegaskan bahwa muslim adalah
bersaudara dan tidak ada kelebihan dalam diri seseorang kecuali
ketakwaan
[7] 
Beberapa ulama yang berpendapat tentang pluralitas (1) Imam
al-Qurthubi menyatakan bahwa Karena berbeda-bedalah maka ALLAH SWT
menciptakan mereka manusia[8] (2) Imam Ghazali menjelaskan bahwa
Bagaimana mungkin ummat akan bersatu mendengarkan satu pendapat saja,
padahal mereka telah ditetapkan sejak di alam azali bahwa mereka akan
terus berbeda pendapat kecuali orang-orang yang dirahmati Allah SWT, dan
karena hikmah perbedaan itulah mereka diciptakan[9] (3) Abu Hayyan
at-Tauhidi mengatakan bahwa Tidak mungkin manusia berbeda pada bentuk
lahir mereka lalu tidakk berbeda dalam hal batin mereka, dan tdk sesuai
pula dg hikmah penciptaan mereka, jika sesuatu yg terus menerus
membanyak sementara tdk berbeda-beda[10] (4) Sayyid Quthb menyatakan
bahwa adalah tabiat manusia untuk berbeda, karena perbedaan adalah dasar
diciptakannya manusia yg mengakibatkan hikmah yg sangat tinggi, seperti
perbedaan mereka dlm berbagai potensi dan tugas yg diemban, sehingga
akan membawa perbedaan dlm kerangka berfikir, kecendrungan metodologi
dan tehnik yg ditempuh. Kehidupan dunia ini akan membusuk jika Allah SWT
tdk mendorong manusia melalui manusia lainnya, agar energi berpencar,
saling bersaing dan saling mengungguli, sehingga mereka akan menggali
potensi terpendam mereka untuk terus berupaya memakmurkan bumi ini yg
akhirnya akan membawa pada kebaikan, kemajuan dan pertumbuhan. Itulah
kaidah umum yg tdk akan berubah selama manusia masih tetap disebut
sebagai manusia[11].
Dan begitu juga (5) Imam Syihabuddin
al-Qarafi bahwa Telah ditetapkan dlm ushul-fiqh bahwa hukum-hukum
syariat seluruhnya dapat diketahui disebabkan oleh adanya ijma’ bahwa
seluruh mujtahid, jika zhan (kecendrungan terkuat menurutnya) mencapai
suatu hukum tertentu maka itulah hukum ALLAH SWT bagi dirinya dan bagi
para pengikutnya[12] (6) Imam Malik (pemimpin mazhab Maliki) pernah
diminta oleh khalifah abu Ja’far al-Manshur untuk menyatukan semua ummat
di dalam mazhab fiqh-nya, maka jawab Imam Malik : “Wahai amirul
mu’minin jangan lakukan itu, karena manusia telah banyak menerima
pendapat ulama lainnya, merekapun telah mendengar dan meriwayatkan
banyak hadits, dan setiap kaum telah berhukum sesuai dengan riwayat
yang telah lebih dulu sampai pada mereka, maka biarkanlah mereka
mengambil hukum sesuai dengan pilihan mereka sendiri[13] dan Lebih
lanjut dimasa Harun ar-Rasyid, Imam Malik kembali diminta untuk
menyatukan manusia dlm mazhab-nya, maka kembali ditolak oleh Imam Malik,
katanya: “Jangan lakukan itu karena sahabat-sahabat Rasulullah SAW
telah berbeda pendapat dlm masalah furu’ hukum dan mereka telah
berpencar di banyak wilayah, dan setiap sunnah telah didengar dan
dijalankan orang.” Mendengar itu khalifah ar-Rasyid merasa puas dan
memuji Imam Maliki seraya berkata : “Semoga Allah SWT memberikan taufiq
kepada anda wahai abu Abdillah[14].
Begitulah beberapa
pendapat para ulama’ mengenai pluralitas yang ada di alam semesta, namun
poin yang diutamakan dalam pluralitas menurut Islam adalah pada
kesamaan amalan hati dan perbuatan yang merupakan perwujudan dari iman
kepada Allah SWT, sebagaimana firman Allah SWT bahwa orang yang paling
mulia adalah orang yang bertaqwa. Maka ukhuwah islamiyah hanya dibangun
diatas kesamaan keimanan dan ketauhidan kepada Allh SWT bukan pada
kesamaan, suku, bangsa, partai, madzhab maupun firqh atau golongan.
Sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT untuk berpegang teguh pada
agama-Nya dan larangan untuk berpecahbelah
[15]Imam Qurtubi menyatakan, dalam ayat ini, bahwa Allah memerintahkan untuk ulfah yaitu
persahabatan, keramahan dan persatuan dan mencegah adanya firqah dalam
agama yang akan menyebabkan kehancuran sebagaimana yang terjadi pada
zahudi dan Nasrani.
Kesamaan tauhid itulah yang menyatukan
pluralitas yang ada sehingga mewujudkan ukhuwah islamiyah; dimana
kondisi empatik timbal-balik yang tinggi dimana perasaan orang lain
lebih berarti. Ukhuwah menjadikan seseorang berada dalam keselarasan
interaksi dalam proses umpan-balik yang mutualistik. Sebagaimana fatwa
pemimpin Salafi paling terkemuka syaikh Abdulaziz bin Baaz (mufti Saudi)
yang sangat berbeda dengan para bawahannya, ketika beliau ditanya
tentang perbedaan berbagai jama’ah Islamiyyah yang ada di negara-negara
kaum muslimin, jawab beliau: Keberadaan jamaah-jamaah ini adalah baik
bagi kaum muslimin dan agar setiap jamah Islam seperti Jama’ah Tabligh,
Ittihad Thalabil Muslimin, Al-Ikhwanul Muslimin, Asy Syubbanul Muslimin,
Anshar as Sunnah al Muhammadiyyah, al Jami’ah asy Syar’iyyah dll
bekerjasama satu dengan lainnya dalam kebenaran yang mereka sepakati dan
agar saling memaklumi akan sisi-sisi perbedaan diantara mereka.
Berdasarkan
pendapat dari para ulama tersebut, maka dapat dikatakan bahwa
pluralisme tidaklah sama dengan pluralitas. Bahkan pluralisme merusak
konsep pluralitas yang ada di dunia ini. Mereka mengajak bahkan memaksa
orang untuk menjadi sama dengan orang lain dan hal ini melanggar hak
asasi manusia atau fitrah yang paling asasi bahwa manusia diciptakan
Allah SWT dalam keadaan yang berbeda.
Pluralisme
Pluralisme
mempunyai beberapa makna secara etimologi yaitu (1) orang yang memegang
lebih dari satu jabatan dalam struktur kegerejaan, memegang dua jabatan
atau lebih bersamaan baik bersifat kegerejaan maupun non kegerejaan (2)
sistem pemikiran yang mengakui adanya landasan pemikiran mendasar yang
lebih dari satu (3) sistem yang mengakui koeksistensi (hidup
berdampingan) keragaman kelompok baik yang bercorak ras, suku, aliran
maupun partai dengan tetap menjunjung tinggi aspek-aspek perbedaan yang
sangat karaktiristik diantara kelompok-kelompok. Jadi bila digabungkan
dari ketiga pengertian tersebut, maka pluralisme adalah koeksistensi
berbagai kelompok atau keyakinan disatu waktu dengan tetap terpelihara
perbedaan-perbedaan dan karesteristik masing-masing[16]
Kata pluralisme sering disandarkan dengan kata agama sehingga muncul istilah pluralism agama.Pluralisme
agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama
dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relative; oleh sebab itu,
setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja
yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan
bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga
[17].
Semua agama pada intinya sama yaitu kepercayaan kepada Tuhan dan nabi
serta moralitas dan yang berbeda hanya formatnya karena factor sejarah
dan kultur atau budaya dimana agama itu muncul. Pluralisme model ini,
sebagaiman yang dianut oleh penganut relativitas, sungguh sangat lugu
dan polos karena memegang pisau bukan pada gagangnya tapi badanya. Kaum
pluralisme mengakui kebenaran semua agama meskipun porsinya tidak sama,
semua agama menjanjikan kebahagiaan meski caranya berbeda. Ada juga
pemahaman lain tentang pluralism dimana karena agama itu berbeda-beda,
mereka menganggap bahwa agama itu tidak ada yang benar dan tidak layak
dipercaya., sebagaimana yang dianut oleh kaum skeptis atau ragu-ragu
Jelasnya, pluralisme agama adalah persenyawaan dari tiga unsure yaitu
(a) semua tradisi agama besar adalah sama, semua merujuk dan menunjuk
pada sebuah realitas tunggal yang suci (b) semuanya menawarkan jalan
keselamatan (c) semuanya tidak ada yang final sehingga agama bisa
direvisi atau dikritik
[18]. 
Sejarah Pluralisme
Pluralisme
telah muncul diindia pada akhir abad ke 15 dalam gagasan-gagasan Kabir
(1440-1518) dan muridnya yaitu guru nanak (1469-1538). Adapun para
pencetus pluralism adalah (a) Ernst Troelsch (1865-1923): seorang teolog
Kristen liberal dalam sebuah makalahnya yang berjudul (posisi agama
Kristen diantara agama-agama dunia) doi berpendapat bahwa dalam semua
agama termasuk Kristen selalu mengandung elemen kebenaran mutlak. konsep
tentang ketuhanan dimuka bumi ini beragam dan tidak hanya Satu (b)
William E. Hocking dalam bukunya Rethinking Mission pada tahun 1932 dan
berikutnya Living Religions and A World Faith doi memperediksikan
munculnya model keyakinan atau agama universal baru yang selaras dengan
konsep pemerintahan global
Dan (c) Arnold Toynbee(1889-1975)
pemikirannya hamper sama dengan Ernst Troelsch dalam karyanya An
Historian’s Approach To Religion (1965) dan dan Crishtianity An World
Religions (1957) (d) Wilfred Cantwell  Smith dalam karyanya Towards A
World Theology (1981) karena gagasan doi inilah pluralisme semakin
berkembang dia menyakinkan perlunya menciptakan konsep
 teologi
universal atau global yang bisa dijadikan pijakan bersama (commond
ground) bagi agama-agama dunia dalam berinteraksi dan bermasyarakat
secara damai dan harmonis[19].
Pluralisme dan Fremasonry[20]
Istilah
pluralisme agama tak hanya terjadi belakangan saja, istilah itu sudah
pernah dikampanyekan gerakan freemanson dan theosofi. Paham yang
mengatakan pada inti semua agama adalah sama,  tidak terlepas dari
pengaruh Freemason. Gerakan ini bermula ketika pengikut Freemason
membentuk gerakan The Theosophical Society. Kelompok ini ini pernah
mendirikan perkumpulan teosofi diindonesia dengan nama Nederlandsch
Indische Theosofische vereeniging (perkumpulan Teosofi hindia Belanda)
yang merupakan cabang dari perkumpulan teosofi yang bermarkas di Adyar,
Madras India. Kaum freemasonry bisa berasal dari berbagai etnis,
berbagai Negara, berbagai status, profesi, ikatan keagamaan, organisasi
dsb tetapi mereka satu kata dalam ideology, symbol keagamaan dan misi
memperjuangkan kepentingan Yahudi internasional[21].
Selain
menyamakan agama-agama kelompok ini juga berupaya menggabungkan
nilai-nilai kebajikan pelbagai agama. Malah menurut mereka pelbagai
agama masih harus disempurnakan lagi dengan ajaran teosofi versi mereka.
Dalam kenyataannya, paham ini dijadikan pondasi untuk melemahkan umat
Islam agar meragukan agamanya dan mudah dibawa kepada ajaran agama lain;
seperti Kristenisasi, Westernisasi, dll.
Dalam konteks ini,
freemasonry dijadikan alat transportasi bagi illuminasi[22] untuk
melancarkan program-programnya.  Illuminati memiliki strategi yang
disusun oleh Weishaupt sebanyak enam yaitu (a) penghapusan dan
penguasaan seluruh penguasa pemerintah negara-negara dunia yang
berpengaruh dengan menjadikan penguasa di Negara-negara tersebut sebagai
kaki tangan dan Amerika telah menjadi kuda tunggangan yang paling
nyaman (b) penghapusan dan penguasaan terhadap seluruh lahan pribadi
dengan cara menyusupkan ide-ide mereka kepada setiap orang melalui
segala perangkat seperti media masa, budaya, lembaga, pendidikan,
ekonomi dan sebagainya (c) penghapusan dan penguasaan terhadap kekayaan
keturunan yaitu kekayaan yang dimiliki berupa sumber daya alam yang
terkandung dalam perut bumi, laut, dan udaya yang dimiliki oleh berbagai
bangsa (d) penghapusan dan penguasaan terhadap jiwa pejuang yaitu
dengan melemahkan spirit pemuda dan pemudi, para generasi muda agar
tidak lagi mau bersusah payah belajar, tidak mau lagi menemukan hal-hal
yang baru yang berguna bagi kemanusiaan dan menjadikan generasi muda
sebagai manusia yang hanya memikirkan kesenangan hidup, hedonism,
foya-foya, hiburan, mengejar kenikmatan dunia berupa pangkat, harta
maupun sexual sehingga hilang jiwa pejuang (e) penghapusan dan
penguasaan ikatan keluarga karena ikatan keluarga adalah benteng yang
amat kuat bagi ancaman dan serangan pihak luar baik psikologis mauoun
nyata. Hal ini dilakukan dengan menekan sisi ekonomi suatu Negara hingga
keluarga hilang rasa solidaritasnya karena sibuk untuk sekedar bisa
bertahan hidup dan (f) penghapusan dan penguasaan terhadap agama-agama
dunia dengan merusak esensi ajaran asli agama-agama yang ada[23].  
Di
kesempatan lain, Rostchild[24] memaparkan 25 butir dalam dokumenya dan
yang yang relefan dengan kajian ini adalah pada butir nomor 17 yaitu
“konspirasi akan membakar semangat rakyat hingga ke tingkat hysteria,
saat itu rakyat akan menghancurkan apa saja yang kita mau, termasuk
hokum dan agama. Kita akan mudah menghapus nama Tuhan dan susila dari
kehidupan” dan butir nomor 24 yaitu “pemuda harus dikuasai dan
menjadikan mereka sebagai budak-budak konspirasi dengan jalan
penyebarluasan dekadensi moral dan paham yang menyesatkan”[25].  
Saat
ini, dalam upaya menyebarkan pluralisme (bersama sekularisme dan
liberalisme) di dunia Islam, berbagai badan internasional Barat
menggandeng sebagian kalangan umat. The Asia Foundation, LSM yang
bermarkas di San Francisco memiliki lebih dari 17 cabang di seluruh
Asia, dan hingga tahun 2003 mengucurkan dana 44 juta dolar AS dan
material pengajaran senilai 28 juta dollar AS[26]. Khusus bagi
Indonesia, diantara komunitas paling agresif menyuarakan Pluralisme,
Sekularisme dan Liberalisme adalah Jaringan Islam Liberal (JIL) dan
komunitas dengan beragam baju, namun aroma liberalis dan pluralisnya
sangat terasa. 
Penutup 
Setelah
mengenal secara umum apakah pluralism itu? Maka masih ada saudara
kandung dari paham tersebut yaitu liberalism dan sekulerisme. Meminjam
istilah Daniel Goleman, penulis buku best seller ‘Emotional Intelligence
dan Social Intelligence” , ketiga paham tersebut bisa dikatakan “Tiga
Sekawanan kelam”. 
 
Singkatnya bahwa pluralisme
adalah KEMUSYRIKAN karena menjadikan orang ragu-ragu akan Allah SWT
sehingga menduakan-Nya, liberalisme adalah KESESATAN karena menjauhkan
individu dari Allah SWT dan sekulerisme adalah KEKAFIRAN karena
menjadikan individu tidak lagi mendasarkan kehidupanya kepada Allah SWT
tapi kepada dunia. Rabbana taqabbal minna innaka antassami’ul ‘alim wa
tub ‘alainaa innaka antattawwaburrahim.  
 
Daftar Pustaka 
Al-Qisthas
al-Mustaqim, hal.61. Bagian dari kumpulan kitab al-Qushur al-Alawi min
Rasa’il al-Imam al-Ghazali. Maktabah al-Jundi, Kairo
Al-Imtina’ wa al-Mu’assanah, juz 3, hal 99, Kairo (tahqiq Ahmad Amin dan Ahmad az-Zain)
Al-Umniyyah
fi Idrak Anniyyah, hal 515, dlm kumpulan kitab Al-Qarafi wa Atsaruhu fi
al-Fiqh al-Islami (tahqiq AbduLLAH Ibrahim Shalah)
Arif, Syamsuddin, 2008, Orientalis & Diabolisme Pemikiran, Jakarta: Gema Insani
Echols, John M dan Hasan Shadikky, 1995, An English-Indonesian Dictionary, Jakarta: PT Gramedia
HujjatuLLAH al-Balighah, Syah Waliullah ad-Dahlawi, juz 1, hal 145.  
Mufradah Al Qur’an Tafsir wa Bayan
Ridyasmara, 2006, Knight Templar Knight Of Christ, Jakarta: Pustaka Al Kautsar
Risalah
ash Shahabah dlm Jamharah Rasa’il al-Arab, Ahmad Zaki Shafwat, no.26
dikutip dari An Nazhariyyah Ammah lisy Syari’ah Islamiyyah, hal 200
Shahih Muslim, Mu’jam at Thabrani dalam Maktabah Syamilah  
Tafsir Ibn Katsir, Tafsir al Qurthubi, Tafsir Fie Dhilalil Quran dalam Maktabah Syamilah
Waskito, 2010, Cukup 1 Gus Dur Saja, Jakarta: Pustaka al Kautsar
[1] Echols dan Shadily, 1995: 435
[2] QS. 30: 22
[3] Tafsir Ibn Katsir, maktabah Syamilah: 309-310.
[4] QS. 49: 13
[5] Tafsir al Qurthubi, Maktabah Syamilah: 517
[6] HR. Muslim
[7] HR. al Thabrani
[8] Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, juz 9, hal 114-115
[9]
Al-Qisthas al-Mustaqim, hal.61. Bagian dari kumpulan kitab al-Qushur
al-Alawi min Rasa’il al-Imam al-Ghazali. Maktabah al-Jundi, Kairo
[10] Al-Imtina’ wa al-Mu’assanah, juz 3, hal 99, Kairo (tahqiq Ahmad Amin dan Ahmad az-Zain).
[11] Fi Zhilalil Qur’an, juz 1, hal 171, 215 dan juz 4, hal 2425.
[12]
Al-Umniyyah fi Idrak Anniyyah, hal 515, dlm kumpulan kitab Al-Qarafi wa
Atsaruhu fi al-Fiqh al-Islami (tahqiq AbduLLAH Ibrahim Shalah)
[13]
Risalah ash Shahabah dlm Jamharah Rasa’il al-Arab, Ahmad Zaki Shafwat,
no.26 dikutip dari An Nazhariyyah Ammah lisy Syari’ah Islamiyyah, hal
200.
[14] HujjatuLLAH al-Balighah, Syah Waliullah ad-Dahlawi, juz 1, hal 145.
[15] QS. 3: 103
[16] Adian Husaini dalam buku Penyesatan Opini
[17] Fatwa MUI Nomor : 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 Tentang PLURALISME, LIBERALISME DAN SEKULARISME AGAMA
[18] (Syamsuddin Arif, 2008: 80-83).
[19] Adian Husaini dalam buku Penyesatan Opini
[20]
Istilah freemasonry awalnya hanya mason yakni sebutan bagi tukang batu
yang konon berasal dari istilah para tukang batu yang ikut membangun
kuil Sulaiman di Yerusalem. Kemudian istilah mason berubah menjadi lebih
bernuansa politis (Ridyasmara, 2006, Knight Templar Knight Of Christ,
Jakarta: Pustaka Al Kautsar, h. 168). Freemason adalah sebuah
organisasi persaudaraan (brotherhood) sekuler yang terbesar di dunia
yang beranggotakan sekitar 6 juta orang dari kurang lebih 120 negara
(Wikipedia).
[21] Waskito, 2010, Cukup 1 Gus Dur Saja, Jakarta: Pustaka al Kautsar, h. 96
[22]
Illuminati didirikan oleh Adam Weishaupt seorang professor dalam bidang
canon-law (hokum gereja) dan juga seorang pastur katolik dari ordo
Jesuit. Secara harfiah berarti “yang tercerahkan” atau “pencerahaan”.
Illuminato (nama lain illuminati) adalah nama dari suatu kelompok dimana
para anggotanya mengaku telah tercerahkan. Ini merupakan suatu
perkumpulan rahasia, sebuah sekte religious yang telah melewati waktu
panjang dan menamakan dirinya dengan illuminati. Kelompok ini dituding
sebagai dalang berbagai peristiea di dunia (Ridyasmara, 2006, Knight Templar Knight Of Christ, Jakarta: Pustaka Al Kautsar, h. 174-175)
[23] Ridyasmara, 2006, Knight Templar Knight Of Christ, Jakarta: Pustaka Al Kautsar, h. 178-181
[24]
Rosthchild adalah seorang Yahudi Jerman yang bernama asli Mayer Amshell
Bauer. Ayahnya, Mosses Amschell Bauer, seorang lintah darat dan tukang
emas yang berpindah-pindah. Dengan kelahiran Mayer, ayahnya memutuskan
untuk menentap di persimpangan Juddenstrasse kota Frankfurt dan membuka
usaha simpan pinjam. Di pintu masuk rumahnya, Moses menggantungkan
tameng merah sebagai merk daganganya yaitu Rosthchild. Usaha ini
diteruskan oleh Mayer ((Ridyasmara, 2006, Knight Templar Knight Of Christ,
Jakarta: Pustaka Al Kautsar, h. 212-213) dan akhirnya sampai saat ini
sirkulasi uang Amerika dikuasai oleh Rosthchild, bahkan dunia.
[25] Ridyasmara, 2006, Knight Templar Knight Of Christ, Jakarta: Pustaka Al Kautsar, h. 208-212