Jadilah Dokter, Kembalilah ke Muhammadiyah

 
Ciri
seorang pemimpin adalah mempunyai visi, pandangan jauh ke depan, cita-cita,
bahkan mimpi. Anies Baswedan mengatakan pemimpin adalah gabungan dari (Pemimpi
+ N). Pemimpi artinya orang yang mempunyai mimpi, sedangkan N adalah nyali.
Tidak disebut pemimpin jika tidak mempunyai nyali, melainkan sekedar orang yang
suka bermimpi.
 
KHA
Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah lebih dari 100 tahun lalu telah menunjukkan
kelasnya sebagai seorang pemimpin. Beliau memiliki mimpi, terbukti oleh
keberadaan Muhammadiyah yang berhasil memasuki abad kedua. Beliau juga memiliki
nyali, terbukti siap mewujudkan mimpi-mimpinya, menghadapi segala tantangan dan
menembus segala rintangan.
 
Mimpi-mimpi
KHA Dahlan dapat dilihat dari ucapan beliau, seperti, “Muhammadiyah pada masa sekarang ini berbeda dengan Muhammadiyah
pada masa mendatang. Karena itu hendaklah warga muda-mudi Muhammadiyah
hendaklah terus menjalani dan menempuh pendidikan serta menuntut ilmu
pengetahuan (dan teknologi) di mana dan ke mana saja. Menjadilah dokter sesudah
itu kembalilah kepada Muhammadiyah. Jadilah master, insinyur, dan (profesional)
lalu kembalilah kepada Muhammadiyah sesudah itu.”
 
Marilah memahami ungkapan beliau KHA Dahlan beserta
konteksnya saat itu:
1.  Beliau sangat faham, ummat Islam, termasuk
Muhammadiyah haruslah ada yang menempuh pendidikan tinggi, menjadi master, dokter,
insinyur dan professional lainnya.
2.   Beliau merelakan muda-mudi Muhammadiyah
menempuh pendidikan tinggi dimana saja, demi menjadi seorang master, dokter,
insinyur dan professional lainnya.
3.  Namun harus diingat, setelah menjadi master,
dokter, insinyur dan professional lainnya; kembalilah pada Muhammadiyah.
Besarkanlah Muhammadiyah dengan segala kepandaian yang didapat.
Sebuah ungkapan yang lugas dan dalam maknanya. Bagaimana
implementasi ucapan beliau tersebut setelah puluhan tahun, bahkan lebih dari
seratus tahun, beliau ucapkan? Yang jelas beliau bukanlah orang yang
berprinsip: mangan ora mangan asal kumpul, makan tidak makan asal berkumpul.
Beliau rela melepas muda-mudi Muhammadiyah menempuh pendidikan dimana pun demi
tercapainya cita-cita menjadi master, dokter, insinyur dan professional
lainnya.
 
Saat itu
tentu saja belum banyak Perguruan Tinggi Islam atau Muhammadiyah sehingga boleh
jadi muda-mudi Muhammadiyah tsb kuliah di universitas lain, termasuk milik
missi agama lain. Resikonya bisa ditebak, untuk sementara muda-mudi
Muhammadiyah itu harus melepas identitas dan segala atribut Muhammadiyah. KHA
Dahlan sadar bahwa Muhammadiyah kedepan memerlukan orang dengan berbagai
kepandaian dan untuk itu harus ditempuh dengan berbagai cara dan segala
resikonya.
 
Bandingkan
dengan orang-orang sekarang yang mengaku pemimpin. Ditengah segala fasilitas
lengkap, yang difikirkan hanyalah melanggengkan kekuasaannya, balik modal dan
membuat sejahtera krooni-kroninya. Memikirkan kemajuan bangsa? Mengambil segala
resiko untuk mensejahterakan rakyatnya? Rasanya jauh panggang dari api.
 
Selanjutnya,
dan ini yang terpenting, setelah sukses menjadi seorang
master, dokter, insinyur dan professional lainnya, kembalilah pada
Muhammadiyah. Urus Muhammadiyah, urus amal usaha Muhammadiyah, dirikan rumah
sakit, dirikan perguruan tinggi, bangunlah gedung yang megah, dirikan lembaga
keuangan dan permodalan, dirikan baitul mal, panti asuhan, sekolah dsb. Jangan
lepas atau kenakan lagi jaket Muhammadiyah.
 
Silahkan jadi politikus dan duduk di parlemen, tapi suarakan
aspirasi Muhammadiyah. Silahkan ‘njago’ bupati walikota gubernur dan minta
dukungan warga Muhammadiyah. Namun setelah jadi jangan lupakan Muhammadiyah,
perhatikan aspirasi Muhammadiyah. Inilah yang dimaksud kembali pada
Muhammadiyah.
 
Jika pesan KHA Dahlan ini terwujud, sungguh luar biasa
Muhammadiyah sekarang. Apalagi saat ini sudah banyak didirikan perguruan tinggi
Muhammadiyah, tentu mencetak master, dokter, insinyur dan professional lainnya,
bukanlah hal sulit. Kemajuan yang akan dicapai Muhammadiyah tidak lagi
mengikuti deret hitung atau deret ukur, melainkan berupa deret eksponensial.
Orang-orang yang masuk dan dididik di Muhammadiyah, saat keluar akan menjadi
kader persyarikatan yang siap berjuang memajukan Muhammadiyah.
 
Jangan sampai terjadi yang sebaliknya. Orang-orang datang ke
Muhammadiyah hanya untuk menikmati segala fasilitas dan mencari dukungan warga,
namun setelah terwujud keinginannya kemudian lupa pada Muhammadiyah. Atau
seseorang yang sudah dibesarkan Muhammadiyah namun ketika sudah jadi ‘orang’
bukannya kembali pada Muhammadiyah, melainkan ke gedung KPK.
 
Muhammad Haitami