Hubungan Sila Pertama dan Tauhid

 Untuk Islam di Indonesia amat beruntung berhasil
memiiki dasar negara
“Pancasila” yang sila pertamanya adalah “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Mengapa
beruntung? Karena sila pertama dalam Pancasila tersebut diletakkan pada
urutan pertama dan dalam sejarahnya diakui sebagai sila yang menyinari 4
(empat) sila yang lain. Begitulah kata Bung Hatta yang dikutip oleh Prof Dr Mr H R Kasman Singodimedjo 75 Tahun (1982,
hlm 125).

Perjuangan para
legislator, atau tepatnya para pendiri negara (founding fathers), ketika
berpikir keras untuk merumuskan substansi dan struktur dasar negara, perlu
mendapat apresiasi tinggi. Bahwa tidak mudah di tengah-tengah suasana revolusi
kemerdekaan yang di dalamnya suasana itu bercampur-aduk antara keinginan untuk
merumuskan ketatanegaraan awal, merebut kemerdekaan dari penjajah, dan
mempertahankan kemerdekaan di satu pihak serta rongrongan dari sebagian
orang-orang yang masih ragu-ragu terhadap arti besar dari “kemerdekaan selaku bangsa dan negara”
dan ancaman kembalinya para penjajah dengan kekuatan militer beserta
diplomasi politiknya di pihak lain untuk tetap berpikir jernih dan memegang
prinsip tanpa diombang-ambingkan keadaan yang sering-sering
cenderung sekadar berusaha “memaklumi keadaan” atau mengalah yang bisa fatal akibatnya di
kemudian hari. Bahwa di tengah kemelut dan di tengah gelora revolusi
kemerdekaan yang penuh ketegangan semacam itu, masih ada tokoh Muslim yang bisa menyeimbangkan antara keharusan ikut
berjuang dalam kancah perjuangan
kemerdekaan secara strategic, namun di sisi lain tetap teguh dalam
prinsip mempertahankan prinsip­prinsip
keyakinan agama yang tidak harus dapat digoyahkan oleh keadaan waktu
itu. Tokoh tersebut adalah Ki Bagoes Hadikoesoemo, kebetulan tokoh
Muhammadiyah.
Ki Bagoes Hadikoesoemo dalam sidang rapat Panitia Persiapan
Kemerdekaan (PPKI), dengan tanpa meninggalkan jiwa
patriotisme dalam dadanya tetap teguh memperjuangkan ,”t ujuh kata”
dalam Piagam Jakarta yang sebelumnya telah disahkan, tetap sebagaimana aslinya
tatkala akan dimasukkan ke dalam Pembukaan
Undang-Undang Dasar 1945, yang “tujuh kata” tersebut (yaitu kata-kata
“dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi
pemeluk-pemeluknya”) harus tetap utuh bisa masuk ke dalam rumusan dalam Pembukaan
Undang-Undang Dasar 1945. Ketika Ki Bagoes Hadikoesoemo dikerubuti untuk dibujuk agar “tujuh kata” yang menyertai
kata “Ketuhanan” dalam
Piagam Jakarta tersebut dicoret/dihapus, maka Ki Bagoes Hadikoesoemo
tetap bersikap tegas untuk memegang prinsip keyakinan agamanya. Walaupun
bujukan dan tekanan dari kiri­kanan, balk
lawan-lawannya, juga teman-teman baiknya sendiri, Ki Bagoes Hadikoesoemo
tetap bertahan pada prinsipnya.
Ketika bujukan dan tekanan psikologis juga politic
tersebut sudah
sedemikian kuatnya, Ki Bagoes Hadikoesoemo masih tetap menawar, yaitu dicoretnya “tujuh kata” yang menyertai kata
“Ketuhanan” dalam Piagam Jakarta harus diganti dengan kata-kata “Yang Maha esa” yang menurut
pemahaman Ki Bagoes Hadikoesoemo
adalah sama persis dengan istilah “tauhid” dalam keyakinan
(akidah) Islam.
Menurut keterangan Prof HR Kasman
Singodimedjo dalam buku yang telah disebut
pada permulaan tulisan ini. Bung Hatta sendiri juga memaknai kata-kata
“Yang Maha Esa” itu adalah dengan pengertian “tauhid”, yaitu
bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu tidak lain
adalah Allah Yang Maha Tunggal (1982, hlm 125). Dengan jaminan makna
“Yang Maha Esa” adalah “tauhid”, maka Ki Bagoes
Hadikoesoemo bersedia mundur selangkah
untuk menang satu langkah. Merasa menang karena Ki Bagoes Hadikoesoemo merasa berhasil untuk menjaga dan
mengamankan akidah atau keyakinan rakyat Indonesia berakidah “tauhid”, mengesakan Allah, Pencipta langit dan bumf
ini, Jadi, bukan akidah yang gampang menjurus ke syirik, dalam arti menduakan,
menigakan, bahkan membanyakkan Tuhan. Tampaknya Ki Bagoes Hadikoesoemo tetap
merasa berhasil walaupun harus melakukan pilihan yang paling pahit dalam menegakkan prinsip keyakinan tidak karena
sekadar tuntutan revolusi pada waktu
itu., Ki Bagoes Hadikoesoemo tetap siap menjadi bagian yang tak
terpisahkan dalam perjuangan kemerdekaan, tetapi beliau sekaligus tetap
mempertahankan keyakinan “tauhid”-nya. Sejarah dalam fakta dan
sejarah yang tertulis telah menorehkan
fakta dan bukti semacam itu dan tidak akan terhapus selamanya.
Sekalipun setelah zaman berlalu dan zaman mulai dinikmati sebagai kemakmuran dan kedamaian serta orang mulai menafsir­ nafsirkan
kata-kata “Yang Maha Esa” menurut versi keyakinan agamanya
sendiri-sendiri, namun fakta dan bukti sejarah yang benar-benar historic tidak akan bisa direkayasa seperti apa pun juga.
Kata-kata “Yang Maha Esa” benar-benar autentik, asli, eksplisit, dan sangatjelas pengertiannya.
Pengertiannya tunggal, tidak dapat dipecah atau dimetaforakan, atau
diartikan yang bukan arti yang sesungguhnya. Oleh karena itu bagi generasi yang tidak pernah merasakan awal-awal kemerdekaan
dalam hal pertarungan pemikiran
tentang sila pertama Pancasila yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha
Esa” di atas sudah semestinyalah
mengamalkan secara nyata sila pertama Pancasila tersebut secara jujur
clan konsekuen. Apabila bersemangat mengamalkan
sila pertama Pancasila tersebut dapatlah disebut telah menjalankan
keyakinan berdasar prinsip “tauhid”, yakni mengesakan Allah SwT.
Insya Allah Perjungan Ki Bagoes Hadikoesoemo adalah “benar. Wallahu a’lam
bishshawab.

Oleh: Dr Mohammad Damami, MAg