Bagaimanakah Hukum Dzikir Bersama ?

 
Sekarang sedang ngetrend dzikir bersama yang dipandu seorang dai dan disiarkan TV. Bagaimana hukum majlis dzikir itu? Apakah termasuk bid’ah?

 

Jawaban:
1.      Mengenai
dzikir bersama (berjama’ah) dengan mengeraskan suara, apalagi disiarkan
oleh TV, hal itu menjadi perselisihan pendapat di kalangan ulama.
Sebahagian
ulama memakruhkan bahkan mengharamkan dzikir yang cara pelaksanaannya
seperti itu, dengan alasan berlawanan dengan isi firman Allah SWT dalam
surat al-A’raf ayat 205 dan Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari
Abu Musa r.a., serta tidak pernah dilakukan Rasulullah saw, disamping
juga mengganggu konsentrasi orang yang sedang shalat misalnya.
Dalam surat al-A’raf ayat 205, Allah SWT berfirman: 
Artinya: Dan
sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa
takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan
janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.
[QS. al-A’raf (7): 205]
Di dalam Hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Musa r.a., Rasulullah saw bersabda:
أَيُّهَا
النَّاسُ إِرْبَعُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، إِنَّكُمْ لَيْسَ تَدْعُوْنَ
أَصُمَّ وَلاَ غَائِبًا، إِنَّكُمْ تَدْعُوْنَ سَمِيْعًا قَرِيْبًا وَهُوَ
مَعَكُمْ.
Artinya: Hai
manusia, kecilkan suaramu, sebab kamu tidak menyeru kepada orang yang
tuli da jauh, melainkan kamu menyeru kepada Yang Maha Mendengar lagi
Maha Dekat dan Dia bersamamu.
[HR. Muslim]
Dalam
sebuah hadits lain yang sudah begitu terkenal diterangkan, di antara
orang yang mendapat naungan Allah dari terik panas matahari di hari
kiamat ialah orang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sunyi sepi
sehingga mengalir air matanya.
Imam
asy-Syafi’i dalam kitab al-Um juz I halaman 150 menyatakan yang
artinya: “Saya mengutamakan para imam dan makmum berdzikir sesudah
shalat dengan suara pelan, kecuali apabila imam menghendaki supaya
dzikirnya itu dipelajari makmum. Di kala yang demikian itu barulah
dzikir dikeraskannya. Tetapi setelah dirasakan bahwa makmum telah
mengetahui (hafal), maka kembali lagi dzikir itu dibaca pelan”.
Adapun alasan yang dipergunakan Imam asy-Syafi’i, yaitu surat al-Isra’ ayat 110: 
Artinya: Katakanlah:
“Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman, dengan nama yang mana saja kamu
seru, dia mempunyai Al-asmaaul-husna (nama-nama yang terbaik) dan
janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula
merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”.
[QS. al-Isra’ (17): 110]
Sementara
itu ada sebahagian ulama yang membolehkan dzikir berjamaah dengan suara
keras, berargumentasi dengan beberapa hadits yang sebenarnya bersifat
umum tidak menerangkan tentang kaifiatnya dibaca keras.
Menurut
Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, cara
terbaik bagi kita adalah kembali kepada praktik yang dilakukan Nabi saw
dan ulama salaf, yaitu secara pelan-pelan dan dilakukan sendiri-sendiri.
Hal ini karena doa itu adalah ibadah, maka jangan dimasukkan rekayasa
pikiran dan model-model yang tidak ada tuntunan kaifiyatnya.