Perempuan Menurut AI-Qur’an Menurut Buku AI-Mar ‘ah Al-Muslimah Baina Tahrir Al-Quran Wa Taqyid Al-Fuqaha

Memperjuangkan
hak-hak perempuan sama haknya dengan memperjuangkan nilai-nilai
AI-Qur’an itu sendiri, lantaran AI-Qur’an sejatinya adalah Kitab Suci
yang mengangkat derajat wanita sarna seperti laki-Iaki, dalam hak dan
kewajiban. Pada prinsipnya AI-Qur’an melawan segala bentuk
ketidakadilan, eksploitasi ekonomi, penindasan .politik, dominasi
budaya, dominasi jender dan segala bentuk ketidakseimbangan lainnya.
Dalam membicarakan masalah relasi laki-Iaki dan perempuan,
AI-Qur’an menempatkan prinsip kemitrasejajaran maupun kesetaraan sebagai basis
epistemologinya, bahkan dalam beberapa ayat yang ada di dalamnya menegaskan
kesetaraan tersebut (Yunahar lIyas, 2006: 2). Kesetaraan yang paling tinggi
dijelaskan oleh AI-Qur’an adalah memasukkan segala permasalahan perempuan dalam
bingkai keimanan sebagai landasan filosofis teologis. Jadi perempuan dan
laki-Iaki secara prinsip mempunyai kedudukan keimanan di hadapan Allah secara
egaliter (sederajat). Hal ini ditegaskan Allah secara langsung dalam AI¬Qur’an
surat At-Taubah ayat 71:
Dan orang-orang yang beriman, laki-Iaki dan perempuan, sebagian
mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh yang ma’ruf,
dan mencegah dari yang munkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan taat
kepada Allah dan Rasul-NYA. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh,
Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
Kemudian perempuan dan laki-Iaki diciptakan dari dua jenis yang
berbeda dan mempunyai derajat yang sama di hadapan Tuhan. Hal ini ditegaskan
dalam surat AI-Hujarat ayat 13:
Wahai manusia! Sungguh kami telah menciptakan kamu dari seorang
laki-Iaki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa dan
bersuku-suku agar kamu saling mengenal, sungguh, yang paling mulia diantara
kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha
Mengetahui, Maha Teliti
Salah satu hal yang menghambat kesetaraan antara laki-Iaki dan
perempuan adalah pandangan para fuqaha klasik. Meskipun AI-Qur’an membebaskan
perempuan dari belenggu diskriminasi, akan tetapi fiqih klasik justru mereduksi
nilai-nilai Qur’an itu sendiri. Fiqih sejatinya adalah sebuah hasil dialektika
antara mujtahid dan realitas yang bersandarkan pada prinsip-prinsip universal
yang dibawa AI-Qur’an dan Sunnah Nabi. Jadi fiqih sangat berbeda dengan wahyu
yang sakral, lantaran dari segi estimologinya fiqih adalah pemahaman. Menurut
Jasser Auda (2008), fiqih adalah hasil pemahaman manusia dan refleksi (hasil
ijtihad) terhadap teks teks yang menjadi rujukan sumber hukum Islam. Fiqih
menurut Auda adalah proses mental kognitif dan pemahaman manusia. Pemahaman
manusia tersebut mungkin benar dan mungkin salah. Pemisahan antara teks
(AI-Qur’an dan Sunnah) terhadap pemahaman seseorang terhadap teks adalah suatu
keniscayaan.
Adanya perlakuan diskriminasi terhadap perempuan bukan tanpa
didasari alasan. Sebagai contoh dalam masalah hak ijbar atau hak memaksa anak
gadis untuk menikah. Rata-rata fuqaha klasik membolehkan seorang wali
menikahkan anak gadis secara paksa. Perdebatan seputar masalah kawin paksa
(ijbar) ini hanya berkaitan dengan wanita, karena pada kenyataanya para ahli
fiqih klasik sepakat bahwa laki-Iaki tidak boleh dikawinkan tanpa seizinnya.
Padahal suatu pernikahan itu berdasarkan atas asas persetujuan kedua mempelai.
Dalam masalah kepemimpinan hampir dipastikan dalam berbagai
Iiteratur fiqih klasik, para ulama juga sepakat bahwa seorang wanita tidak
boleh menjadi pemimpin, termasuk dalam wilayah kehakiman. Para fuqaha seperti
Malik bin Anas, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa syarat
untuk menjadi hakim adalah laki-Iaki.Dalil normatif yang digunakan oleh
mayoritas ahli fiqih adalah AI-Qur’an surat An-Nisa [4]:34 Kaum laki-Iaki itu
adalah pemimpin. bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian
mereka (Iaki-Iaki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka
(Iaki-Iaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka
wanita yang shalih, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika
suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita
yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka
di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu,
maka janganlah kamu mencari cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah
Maha Tinggi lagi Maha Besar.
Para ahli tafsir mengartikan qiwamah dalam ayat di atas sebagai
“pemimpin, pelindung, pengatur urusan” dan makna semisalnya. Ayat
tersebut banyak ditafsirkan para ahli fiqih kJasik bahwa laki-Iaki mempunyai
superioritas atas perempuan. Hal tersebut pada akhirnya memunculkan stigma bias
gender karena mayoritas ahli fiqih klasik adalah laki-Iaki.Jamal al-Banna
(selanjutnya disingkat Jamal) adalah salah satu pemikir produktif asal Mesir
yang rasional, human is, egaliter, feminis, bahkan liberal. Bersama Qasim Amin,
Jamal juga dikenal sebagai tokoh feminis Islam. Dalam permasalahan fiqih, Jamal
al-Banna patut untuk dikedepankan. lewat ajakan revivalisnya (da’watu ihya)
Jamal ingin mengajak umat untuk bersemangat ke arah pembaruan. Satu hal yang
patut ditiru dari Jamal adalah kecenderungan yang kuat ke arah pembaruan dan
penolakan terhadap taklid. Bagi Jamal kegelapan adalah penghormatan berlebih
terhadap pendahulu dengan mensakralkan ajarannya. Dan realitas serupa terulang
kembali pada umat Islam ,sekarang dengan perwajahan yang berbada. Jamal
membahasakan, “Islam sejatinya menghendaki manusia, akan tetapi pakar
fiqih justru menghendaki Islam” (al-Islam arada al-insan, wa lakinna
al-fuqaha’ aradu ai-Islam).
Jamal al-Banna dalam bukunya al-Mar’ah al-Muslimah baina Tahrir
AI-Qur’an Wa Taqyid Fuqaha (Perempuan Muslimah, antara Pembebasan AJ-Qur’an dan
Belenggu Fukaha) ingin merevolusi stigma negatif yang disematkan pada
perempuan. Paling tidak lewat karyanya ini ia ingin menjembatani pemahaman ahli
fiqih klasik dan nilai-nilai AI-Qur’an. lebih tegasnya lagi, ia ingin
mengatakan bahwa AI­Qur’an datang untuk membebaskan perempuan, bukan membatasi
sebagaimana dilakukan para ahli fiqih. Epistemologi yang digunakan ahli fiqih
klasik kerapkali bertentangan dengan nilai-nilai AI-Qur’an. Hal tersebut
diperparah dengan pengamatan Jamal terhadap para pengkaji perempuan kontemporer
khususnya orientalis, peneliti dan dosen di universitas. Jika mereka ingin
melakukan penelitian perempuan dalam Islam, yang menjadi rujukan utama adalah
para ahli fiqih klasik bukan langsung pada sumbernya yaitu AI-Qur’an.
Pemikiran Jamal memang sedikit
keluar dari mainstream ulama. Sebagai contoh dalam permasalahan talak. Jamal
berpendapat bahwa talak dapat terjadi apabila pasangan suami istri saling ridla
terhadap keputusan. Jamal juga mengatakan bahwa keputusan talak ada di tangan
suami terlalu otoriter. Dalam hal perkawinan Jamal juga mempunyai pendapat yang
sangat “berani”. la mengkritik pandangan mayoritas ulama fiqih yang
memandang pernikahan sebagai akad kepemilikan. Sehingga bermakna perempuan itu
adalah milik laki-Iaki. Misalnya al-Jazairi yang mengartikan bahwa nikah adalah
akad yang dapat memberikan hak kepada laki-Iaki untuk memanfaatkan tubuh
perempuan demi kenikmatan seksualnya. Dari definisi tersebut nampak jelas bahwa
pernikahan hanya dimaksudkan sebagai wahana kenikmatan seksual, ataupun
pelampiasan nafsu semata sebagai tujuan utama, sehingga akan hilang perkawinan
sebagai interaksi memiliki makna kemanusiaan, cinta, mawadah dan rahmah. Selain
itu penikmatan seksual tersebut hanya diberikan kepada laki-Iaki, bukan kepada
perempuan.
Pernikahan seharusnya juga tidak
banyak membebankan suami istri’dengan syarat dan prosedurnya. Menurut Jamal
al-Banna, pernikahan tidak harus membutuhkan wali, saksi maupun mahar. Jamal
mengkritik para fuqaha yang terlalu mengekang sistem pernikahan menjadi seperti
ini. Padahal sejatinya terdapat nash-nash dalam AI-Qur’an yang memerintahkan
adanya wali hanya untuk budak hamba sahaya bukan untuk wanita merdeka. Jamal
berargumen bahwa keharusan wali adalah untuk budakl hamba sahaya yang tercantum
dalam ayatAl-Qur’an suratAn-Nisa ayat 25:
Dan barangsiapa di antara kamu tidak
mempunyai biaya untuk menikahi perempuan merdeka yang beriman, maka (dihalalkan
menikahi perempuan) yang beriman dari hamba sahaya yang kamu miliki. Allah mengetahui
keimananmu, sebagian dari kamu adalah dari sebagian yang lain, karena itu
nikahilah mereka dengan izin walinya.
Dari ayat di atas difahami dengan
mahfum mukhalafah bahwa jika seo­rang budak mengharuskan wali, maka sejatinya
untuk orang yang merdeka tidak mensyaratkan adanya wali.
Metodologi yang digunakan oleh Jamal
al-Banna dalam beristimbat tampaknya lebih mengedepankan dominasi AI-Qur’an
dari pada Sunnah.
Bahkan dalam buku Nahwa Fiqh Jadid
(Menuju Fiqih Baru) ditegaskan untuk memahami fiqih kontemporer sentralitas dan
keunggulan akal lebih dikedepankan daripada wahyu. Tidak sedikit ulama yang
mengkritik ijtihad progresif Jamal, lantaran telah menerobos sesuatu yang
tsawabit (hal-hal yang tetap) dalam agama.(suaramuhammadiyah/SP)
 Royan Utsany, Lc, Staf
Pengajar di Madrasah Muallimin dan Stikes Aisyiyah Yogyakarta.