“Ijtihad Progresif” dan Penyatuan Kalender Islam

DALAM khazanah pemikiran kalender Islam, khususnya di Indonesia, dikenal istilah wujudul hilal dan visibilitas hilal (imkanur rukyat).
Kehadiran wujudul hilal merupakan sintesa kreatif atau “jalan tengah”
antara teori ijtimak (qabla al-ghurub) dan teori visibilitas hilal atau
jalan tengah antara hisab murni dan rukyat murni. Karenanya bagi teori
wujudul hilal metode yang dibangun dalam memulai tanggal satu bulan baru
pada kalender Islam tidak semata-mata proses terjadinya konjungsi
tetapi juga mempertimbangkan posisi hilal saat matahari terbenam
(sunset). Dengan kata lain awal bulan kamariah dimulai bila telah
terjadi konjungsi, konjungsi terjadi sebelum matahari terbenam, dan
matahari terbenam terlebih dahulu dibandingkan bulan (moonset after sunset).

Sementara itu visibilitas hilal adalah bangunan teori yang bersumber
dari pengalaman “subjektif” para pengamat. Sehingga melahirkan beragam
varian, misalnya teori visibilitas hilal yang dikembangkan MABIMS, Turki
(1978), Mohammad Ilyas, Mohammad Syawkat Audah (Odeh), dan Hamid Mijwal
Naimiy. Teori ini menyatakan awal bulan kamariah dimulai bila memenuhi
syarat-syarat yang ditentukan, seperti telah terjadi konjungsi,
konjungsi terjadi sebelum matahari terbenam, elongasi, umur bulan,
mukuts, dan ketinggian hilal.

Ada pertanyaan yang perlu diajukan, mengapa teori visibilitas hilal
lebih populer di lingkungan astronom? Menurut saya, para astronom,
sesuai dengan era perkembangan awalnya, masih dipengaruhi oleh pola
pikir positivistik-empirik. Meskipun demikian dalam hierarki dan
klasifikasi hisab, wujudul hilal dan visibilitas hilal masuk satu rumpun
yaitu hisab ijtimak dan posisi hilal di atas ufuk. Sekilas tampak jelas
bahwa keduanya bersumber dari pemahaman dan pengalaman serta memiliki
tingkat kepastian yang sama.

Namun dalam perjalanannya implementasi visibilitas hilal di Indonesia
tidak sesuai konsep awal yang dirumuskan. Dalam praktiknya visibilitas
hilal hanya digunakan sebagai pemandu observasi hilal, khususnya dalam
menentukan awal bulan Ramadan dan Syawal. Sehingga tidak salah bilamana
sebagian masyarakat menganggap visibilitas hilal tak ubahnya seperti
rukyatul hilal karena telah terjadi pergeseran makna, tidak memiliki
kepastian, dan tidak empirik. Bukti kongkret aplikasi teori visibilitas
hilal MABIMS di Indonesia dalam penentuan awal bulan Rajab 1434 H. Data
hisab menunjukkan konjungsi terjadi pada hari Jum’at 10 Mei 2013 pukul
07.28 WIB, elongasi 4 derajat 40 menit 54 detik, umur bulan 10 jam, dan
ketinggian hilal 3 derajat 41 menit 45 detik.

Berdasarkan teori visibilitas hilal MABIMS, data di atas memungkinkan
hilal teramati. Namun realiatasnya para pengamat tidak berhasil, seperti
dilaporkan oleh Tim Lajnah Falakiyah PB NU dan Kemenag RI yang
melakukan observasi di Balai Bukit Condrodipo Gresik Jawa Timur.
Meskipun hilal tidak teramati awal bulan Rajab 1434 H tetap jatuh pada
hari Sabtu 11 Mei 2013 sebagaimana yang telah ditetapkan oleh teori
wujudul hilal. Peristiwa ini bukanlah yang pertama. Adalah pertanyaan
yang sulit dijawab bagaimana “logika berpikir” tersebut dapat
dioperasionalisasikan di lapangan ketika umat Islam menginginkan
penyatuan kalender Islam.

Bahkan Mohammad Syawkat Audah menyatakan saat ini dunia Islam yang
memiliki kalender Islam yang mapan adalah Turki dan Malaysia. Keduanya
secara konsisten menggunakan teori visibilitas hilal sejak Muharam
hingga Zulhijah tanpa menunggu hasil observasi. Pernyataan ini dalam
konteks Indonesia mengisyaratkan bahwa wujudul hilal lebih mapan dan
memberi kepastian dalam struktur kalender Islam dibandingkan visibilitas
hilal. Artinya visibilitas hilal yang digunakan pemerintah Indonesia
belum diakui di tingkat global. Sebab dalam praktiknya untuk menentukan
awal bulan kamariah, khususnya awal Ramadan dan Syawal masih harus
menunggu hasil observasi. Dengan kata lain visibilitas hilal yang
digunakan tidak sesuai makna asal.

Oleh karena itu diperlukan terobosan melalui “ijtihad progresif “ bahwa
penyatuan penentuan awal bulan kamariah di Indonesia tidak semata-mata
penyatuan metode hisab dan rukyat. Apalagi memaksakan penggunaan
visibilitas hilal yang tidak autentik alias visibilitas hilal cum rukyatul hilal.
Tetapi yang diperlukan adalah “penyatuan kalender Islam” berbasis riset
yang komprehensif. Sehingga umat Islam Indonesia memiliki kalender
Islam yang mapan bersendikan agama dan sains. Semoga………

Wa Allahu A’lam bi as-Sawab
Susiknan Azhari
 Sumber Foto : Dokumen Museum Astronomi Islam