Muhammadiyah Mengentaskan PSK Dolly Dengan Bantuan Modal Usaha


12 dari 18 warga binaan Ormas Muhammadiyah Surabaya, Jawa Timur dari
lokalisasi Jarak dan Gang Dolly, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan
mendapat bantuan usaha. Di tengah suasana di lokalisasi tengah bergejolak akibat
rencana penutupan lokalisasi oleh Pemkot Surabaya pada 18 Juni
mendatang.

Hari Minggu (8/6), ke 12 orang terdiri lima orang pekerja
seks komersial (PSK) aktif, dua eks PSK, mucikari dan warga setempat
itu menerima santunan di Kantor Muhammadiyah di Jalan Sutorejo,
Kecamatan Mulyorejo, Surabaya oleh Lembaga Zakat Nasional Muhammadiyah
(Lazismu).

Bantuan yang diberikan itu, berupa peralatan rumah
tangga, bantuan usaha secara berkala lewat tabungan bank niaga syariah
dan modal usaha berupa uang tunai Rp 400 ribu.

“Saat ini, baru 12
orang yang menerima bantuan itu, sisanya menyusul. Bantuan ini kita
lakukan sembunyi-sembunyi, karena khawatir mereka mendapat intimidasi
dari yang menolak penutupan lokalisasi. Mereka yang mendapat bantuan
usaha itu adalah warga binaan yang berada di lokalisasi Dolly dan
Jarak,” terang Ketua Muhammadiyah Surabaya, Zayin Chudlori.

Menurut
Zayin, pembinaan terhadap PSK, mucikari dan warga di Jarak dan Gang
Dolly terus dilakukan pihaknya untuk mengentas masalah sosial di
masyarakat. Terlebih, adanya rencana Pemkot Surabaya, yang akan menutup
lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara itu pada 18 Juni mendatang.

“Pembinaan
ini rutin kami lakukan. Kita juga mencari solusi sebagai dampak
penutupan yang dilakukan pemerintah. Untuk pembinaan sendiri, kita
memiliki 25 orang relawan yang siap turun melakukan pembinaan. Kita
harus selamatkan mereka dari lembah hitam, kita ajak mereka untuk
bersama-sama menjadi baik,” papar dia.

Senada, Ketua Relawan,
Arif AN menjelaskan, pembinaan yang dilakukannya sejak Oktober 2013
lalu, tidak terpengaruh dengan rencana penutupan lokalisasi yang
dilakukan Pemkot Surabaya. “Ditutup atau tidak, yang kita pikirkan
masalah sosial dan mengentaskan mereka dengan memberi jaminan usaha,”
katanya.

Dia mengatakan, pembinaan yang dilakukan dengan berbagai
cara, seperti pengetahuan agama, memberi bantuan sosial dan pelatihan
kerja. “Pembinaan yang kita lakukan bertahap, kita tidak memaksa mereka
untuk keluar dari kehidupannya yang sekarang, tapi kami memberikan
penyadaran melalui ilmu keagamaan,” tandas dia.

Sedangkan ST
(40), PSK lokalisasi Jarak, yang masih aktif menjajakan diri, mengaku
sangat senang dengan bantuan itu. Dia mengucap banyak terima kasih.
Meski masih kerap melayani tamu-tamunya untuk memberi service cinta satu
malam, dia mengaku sangat ingin sekali bertaubat dan keluar dari
kehidupannya yang sekarang.

“Saya memang masih aktif, saya sudah
10 tahun di Jarak, tapi sekarang sudah jarang. Saya terima kasih
mendapat perhatian, dan saya ingin berhenti dari kehidupan yang sekarang
dan ingin bekerja halal,” ujar PSK yang mengaku beranak dua itu.(sp/md)