Ka’bah Dicuci dengan Air Zamzam dan Harum Bunga

Pekan lalu, tepatnya 29 Mei 2014 atau 30 Rajab 1435 H, Ka’bah dicuci
oleh Gubernur Makkah Pangeran Mish’al bin Abdullah bin Abdul Aziz. Ia
mewakili penguasa Kerajaan Arab Saudi, Raja Abdullah bin Abdul Aziz.
Menilik namanya, Mish’al adalah putra Abdullah.
 
Prosesi pencucian Rumah Allah SWT  pada pagi hari itu berjalan
lancar. Ketika tiba di pelataran thawaf, ia disambut oleh Ketua Lembaga
Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Dr Abdul Rahman Al Sudais. Lalu
Pangeran Mish’al dan rombongan – antara lain para ulama, tokoh
masyarakat, pejabat, dan diplomat dari negara-negara Islam –
melaksanakan ibadah thawaf, yakni memutari Ka’bah sebanyak tujuh kali
dan diakhiri dengan menyentuh Hajar Aswad.

Sheikh Al Sudais
sendiri baru menjabat sebagai Ketua Lembaga Urusan Al Haramain (Majidil
Haram dan Masjid Nabawi) setahun lalu. Sebelumnya, ia merupakan imam
Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Lalu menjadi kepala para imam di kedua
masjid itu. Sebagai imam, Sheikh Al Sudais tentu hafal seluruh ayat
Alquran. Bahkan lantunan suaranya bisa diunduh di internet dan kini
menjadi model bacaan para imam di Indonesia. Al Sudais juga akrab dengan
para ulama di negera kita. Beberapa kali ia berkunjung dan memberi
ceramah di pesantren, perguruan tinggi, dan majelis taklim.

Usai
thawaf, Pangeran Mish’al lalu menerima kunci pintu Ka’bah yang dibungkus
dalam sebuah tas terbuat dari beludru berwarna hijau dari perwakilan
Bani (Suku) Shaiba. Yang terakhir ini secara turun-menurun merupakan
pemegang kunci pintu Ka’bah sejak zaman Rasulullah Muhammad SAW.

Setelah
memasuki Ka’bah lewat tangga kayu yang disediakan, Pangeran Mish’al dan
rombongan secara bergantian melaksanakan shalat dua rakaat di tempat
yang, konon, Nabi Muhammad SAW pernah berdoa di sana. Setelah rombongan
keluar, Pangeran Mish’al lalu memimpin prosesi pencucian Ka’bah.
Mula-mula lantai Ka’bah kemudian dinding bagian dalam dan seterusnya.
Pencucian dengan menggunakan air Zamzam yang dicampur dengan wewangian
berbagai bunga dan parfum oud dan misk, lalu dikeringkan dengan kain
putih. Proses pencucian Ka’bah hanya berlangsung sekitar satu jam.

Lalu
apa yang menarik dari prosesi pencucian Ka’bah tersebut? Toh, pencucian
Rumah Allah SWT itu dilakukan secara rutin setiap tahun dua kali. Yaitu
menjelang datangnya bulan Ramadhan seperti sekarang dan menjelang
pelaksanaan ibadah haji. Prosesi, upacara, dan tata-cara pencuciannya
pun hampir sama. Kalaupun ada perbedaan adalah orang-orang yang
melakukannya. Sementara itu, kiswah atau baju Ka’bah juga diganti rutin
setahun sekali. Kiswah yang lama oleh Lembaga Urusan Al Haramain lalu
dipotong-potong dan diberikan kepada tamu-tamu kehormatan Kerajaan Arab
Saudi sebagai hadiah.

Yang menjadi perhatian saya justeru
bagaimana reaksi jamaah haji atau umrah yang kebetulan menyaksikan
prosesi pencucian Ka’bah tersebut. Bahkan sering terdengar ada jamaah
yang bersedia membayar mahal biro perjalanan yang bisa memasukkan ke
dalam rombongan prosesi pencucian Ka’bah. Saya pun teringat beberapa
tahun lalu ketika ikut menyaksikan prosesi pencucian Ka’bah menjelang
pelaksanaan ibadah haji.

Prosesi pencucian Ka’bah berjalan
seperti biasa seperti yang dijelaskan di atas. Namun, usai pencucian
banyak jamaah yang berusaha mengejar apa pun yang telah digunakan untuk
menbersihkan Rumah Allah itu. Ada yang mengejar tangga berjalan yang
baru digunakan untuk mencuci Ka’bah dan kemudian ramai-ramai
menciuminya.

Ada yang berusaha mendapatkan air bekas mencuci
Ka’bah dan lantas menyiramkannya ke sekujur badan. Bahkan ada yang
meminumnya. Malah ada yang mengejar petugas pencuci Ka’bah dan menciumi
tangannya. Saking berebutannya, pernah beberapa kali kejadian ada jamaah
yang terinjak-injak dan bahkan ada yang meninggal dunia hanya untuk
dapat menyentuh tangga atau mendapatkan air bekas mencuci Ka’bah.

Potongan
atau robekan kiswah Ka’bah pun kini menjadi barang buruan para jamaah.
Banyak jamaah yang berani membayar mahal untuk sepotong robekan kiswah.
Bahkan setahun lalu ada jamaah haji kita yang berusaha menggunting
kiswah. Jamaah ini lalu ditangkap dan menjadi urusan aparat keamanan
Saudi.

Saya tidak tahu bagaimana orang-orang itu rela berdesakan
dan bahkan terinjak-injak hanya untuk dapat mencium tangga, mendapatkan
air bekas mencuci Ka’bah, dan memburu robekan kiswah Ka’bah. Semua
barang-barang itu tentu tidak ada hubungannya dengan agama. Keberkahan
pun juga tidak ada. Saya memang menyimpan potongan kain kiswah yang saya
bingkai dan saya gantung di dinding rumah. Potongan kiswah itu saya
peroleh dari Ketua Lembaga Urusan Al haramian ketika saya menjadi
tamunya. Namun, barang itu hanyalah sebagai kenangan. Tidak lebih. Bukan
jimad, apalagi mengharapkan keberkahan hanya dari sepotong kain kiswah
Ka’bah.

Bukan hanya itu. Untuk bisa mencium Hajar Aswad, banyak
jamaah yang rela berdesakan dan malah terinjak-injak. Juga untuk mencium
makam Ibrahim AS di samping Ka’bah, berupa bangunan kecil dari besi
berlapis emas dan kaca. Di dalamnya terdapat cetakan kaki, yang konon
bekas telapak kaki Nabi Ibrahim AS ketika membangun Ka’bah. Padahal
mencium Hajar Aswad hanyalah sunat. Bahkan cukup hanya melambaikan
tangan. Sedang yang disunatkan di makam Ibrahim adalah shalat dua
rakaat.

Padahal pula, rumah Hajar Awsad yang terbuat dari
tembaga/kuningan berlapis emas dan rumah makam Ibrahim yang ada sekarang
adalah baru. Yang dibuat pada masa pemerintahan Kerajaan Arab Saudi.
Sedang yang lama kini tersimpan di museum Al Haramain yang berada di
pinggiran Kota Mekah. Tidak jelas di mana rumah makam ibrahim dan Hajar
Aswad dibuat. Namun, benang sutera untuk mebuat kiswah Ka’bah konon
diimpor dari negeri Cina.
Perilaku jamaah haji dan umrah selama di
Mekah dan Madinah jelas menggambarkan bagaimana kualitas keagamaan umat
Islam secara menyeluruh. Saya khawatir apa yang pernah dikatakan
almarhum Presiden Soekarno masih terjadi pada umat Islam sekarang ini.
Yaitu apa yang dilaksanakan oleh umat Islam bukan api agama tapi
asapnya. Wallahu a’lam bis shawab.

Ikhwanul Kiram Mashuri