Blunder Penulis Buku “Muhammadiyah itu NU”

Fakultas
Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga pada menyelenggarakan acara bedah
buku dengan judul “MUHAMMADIYAH ITU NU! Dokumen
Fiqih yang Terlupakan”. Acara ini mengundang penulis buku Mohammad Ali
Shodiqin dengan pembahas KH Muzamil (tokoh NU) dan Wawan Gunawan Abdul
Wahid Lc, MA (tokoh Muhammadiyah).

 
 
Secara umum pembaca buku tersebut merasakan kesan bahwa buku tersebut memberi informasi data yang tidak komprehensif.
Memang muncul pertanyaan kenapa buku tersebut di berikan judul
“Muhammadiyah itu NU” di berbagai kesempatan penulis menceritakan jika
judul tersebut adalah dari pihak penerbit bukan penulis, sehingga ketika
kita tahu itu judul dari penerbit maka logika kita mengatakan bahwa
motivasi finansial tentunya yang jadi pertimbangn penerbit memberi judul
buku tersebut.


Kemudian di bawah panggung, saat menunggu acara dimulai, terjadi
obrolan ringan dengan pembawa acara yang bertanya kepada penulis terkait
kalimat kedua dari judul : “…
Dokumen Fiqih yang Terlupakan”, menurut njenengan siapa yang melupakan?
Jawaban penulis, yang melupakan penerbitnya…. he he he. Dan penulis
mengungkapkan, bahwa beliau akan meminta maaf terkait dengan isi buku
bila mengganjal dan akan melepas peci sebagai simbol bahwa meski beliau
NU, memiliki cara pikir bernuansa Muhammadiyah. Namun pembawa acara
katakan ndak
perlu lah, ndak ada yang salah, kita santai saja…. Tapi akhirnya tetap
saja dilepas ketika penulis telah naik panggung.
Diskusi
bedah buku pun berjalan tampak penulis tidak menguasai materi buku yang
ditulisnya sering kali tidak menjawab atau membantah apa yang
disampaikan pembicara lain sehingga sering kali penulis mendapat sorakan
riuh dari mahasiswa UIN yang menghadiri bedah buku tersebut, berikut
beberapa catatan oleh Ustadz Wawan Gunawan Abdul Wahid yang menjadi
pembicara dalam bedah buku tersebutPenulis buku menurut Wawan Gunawan Abdul Wahid tidak siap dan cenderung pasrah karena
apa yang dinyatakan oleh beliau sama sekali tidak dibantahnya. Padahal
diskusi bukan waktunya mengalah, namun waktunya meyakinkan pendengar
bahwa bukunya benar. Sayangnya yang terjadi malah sebaliknya. 
Lalu
menurutnya buku tersebut sarat dengan keluguan dan kenekadan. Bahkan
sejak awal sudah diawali kekeliruan karena penulis menggunakan dokumen yang dimiliki
Majelis Pustaka PP Muhammadiyah tanpa izin. Yang dilakukan penulis sama saja dengan
pencurian dokumen dan penulis tidak membantah hal tersebut.

Ustadz Wawan mengatakan bahwa yang dilakukan
Muhammadiyah adalah mengamalkan ajaran Muhammad ibn Idris asy-Syafi’i
tanpa menyebut dirinya mazhab Syafi’i. Kata Imam asy-Syafi’i, “idzaa
shahhal hadiitsu fa huwa madzhabii”, jika suatu hadis itu shahih maka itu
jalan fikiran (madzhab) saya. Itulah mengapa Muhammadiyah meninggalkan
praktek qunut subuh dan shalat qiyamuramadlan 23 rakaat. Hal tersebut
karena didasarkan pada hadis-hadis yang tidak valid.


Lalu penulis
tidak bisa membuktikan bahwa Muhammadiyah Kyai Dahlan bermazhab
Syafi’i seperti yang penulis asumsikan. Bagaimana bisa dikatakan bahwa Kyai Dahlan bermazhab Syafi’i
sementara kitab yang dibacanya beragam. Misalnya, Al I’tishom dan al
Muwafaqat yang bermazhab maliki, at-tawassul wal-wasiilah dan Zaadul
ma’ad yang bermazhab Hanbali. dan Tafsir al-Manar yang bermazhab
Mu’tazaili.

Ketika penulis memasukan pembabakan fikih Muhammadiyah
pada mazhab Wahabi, yang menjadi ukurannya adalah masalah-masalah yang
tidak menjadi ciri wahabi. Misalnya Muhammadiyah dilabeli wahabi karena
menunaikan shalat hari raya di lapangan, padahal wahabi pun menunaikan
shalat hari raya di mesjid. apalagi jika menyangkut soal rukyat dan
hisab dalam penentuan Ramadhan dan Syawwal. Jelas wahabi lebih aswaja
daripada Muhammadiyah, karena wahabi menggunakan rukyat, sementara
Muhammadiyah menggunakan hisab.

Poin
terbesar yang menjadi
kebohongan penulis adalah ketika dia berniat menulis buku “Muhammadiyah
itu NU” untuk menyatukan dua ormas terbesar ini. Padahal yang
ditulisnya justru lebih sering menistakan Muhammadiyah alih – alih ada
upaya mengedepankan sikap tasamuh dan menghormati yang terjadi penulis
selalu menyalahkan muhammadiyah hanya berdasar asumsi dan imajinasi
penulis.

Penulis
buku terlihat nekad karena tanpa pengetahuan yang cukup menuliskan
beberapa paragraf yang malah memperlihatkan ketidaktahuannya. Misalnya
saat dia menulis bahwa kiblat masjid Raya Yogyakarta saat dikoreksi oleh
Kiai Dahlan dinilai sudah benar, sebab arah kiblat bagi Yogyakarta dan
seluruh wilayah Nusantara, adalah arah barat, bukan ke timur, utara atau
selatan. Sehingga bengkok 25 derajat itu masih dapat diterima.
Pertanyaannya apakah benar bengkok arah kiblat dalam angka 25 derajat
masih dapat diterima? 
Penulis menuliskan sesuatu tanpa ilmu. Arah kiblat
kota-kota di Indonesia menghadap ke arah barat dengan kemiringan
bervariasi ke utara dari 22o s.d 25o . Hal ini merupakan perhitungan
menggunakan segitiga bola pada permukaan Bumi. Sehingga posisi Indonesia
yang berada di sebelah timur Mekah, memiliki arah ke Ka’bah menghadap
ke arah barat serong utara. Untuk wilayah Yogyakarta sendiri dengan
lintang dan bujur yang dipakai yaitu 7o 48’ LS dan 110o 21’ BT, sudut
kiblat dihitung dari titik barat 24o 43’ 1, 25” ke arah Ka’bah. Sehingga
jika bengkok 25 derajat itu kurang tepat. Karena daerah yang berada di
khatulistiwa sendiri memiliki penyimpangan 1 derajat = 111 km.

Lalu
ketika Ali Shodiqin menulis Imam Maliki dan Imam Hanafi untuk Imam
Malik bin Anas dan Imam Abu Hanifah, terang sekali penulis tidak punya
perspektif yang bagus tentang fiqih. Hal tersebut semakin memperlihatkan
keNekadannya dalam menulis buku. Hanafi dan Maliki itu nama Mazhab
sedangkan nama orang pendirinya Imam Malik dan Imam Abu Hanifah.

Saat beramah tamah, penulis mengatakan bahwa beliau sama sekali tidak
mengatakan Muhammadiyah itu wahabi. Sayangnya kata wahabi ada di
berbagai halaman bukunya. Lalu kita bisa menilai apa makna dari kata
wahabi yang ada di buku tersebut. 
Penulis
berdalih mengedepankan sikap tawadhu sehingga enggan mengikuti
perdebatan soal isi buku tersebut namun hal ini dinilai masih kurang
tawadhu. Justru Tokoh NU yang bernama Kyai Muzamil itu lebih tawadlu.
Ketika dia belum menemukan dalil yang benar bahwa Umar shalat tarawih 23
rakaat dia mengakui dengan jujur. Sementara penulis terlihat tidak
punya amunisi untuk bicara.
Jadi apa yang digemborkan
penulis bahwa bukunya adalah untuk mempersatukan Muhammadiyah dan NU itu
hanya bualan dan kamuflase saja untuk mendongkrak royalti buku karena
buku tersebut lebih banyak mendeskriditkan Muhammadiyah tanpa dasar yang
jelas, selain itu berulang kali penulis di laman facebooknya menulis
pernyataan yang justru memilukan dan memalukan tidak menggambarkan orang
yang dewasa menyikapi perbedaan tapi malah memprovokasi perbedaaan
dengan selalu menempatkan Muhammadiyah sebagai pihak yang bersalah ,
sebuah perilaku yang konyol dan jumawa terhadap realitas. (SP)