AR Fachruddin : Mari Memahami Muhammadiyah ( Bahan Renungan Kader )

(Ditulis oleh Pak AR Fachruddin)
Kita telah mengetahui bahwa Muhammadiyah adalah Gerakan tajdid. Kita
telah mengetahui bahwa Muhammadiyah adalah gerakan Islam. Juga kita
telah mengetahui bahwa tujuan gerak Muhammadiyah adalah dakwah Islam
amar makruf nahi munkar. Kita telah mengetahui bahwa Muhammadiyah
berasas Islam. Juga kita telah mengetahui bahwa Islam yang dianut oleh
Muhammadiyah adalah Islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah
Rasulullah. Dan, tentulah kita sebagai warga Muhammadiyah, lebih-lebih
kita sebagai Pimpinan Muhammadiyah, tentu sudah sama hafal maksud dan
tujuan Muhammadiyah ialah: Menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam
sehingga terwujud Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Dalam Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah telah ditegaskan bahwa sebagai dasar-dasar amal usaha Muhammadiyah;

  1. Hidup manusia harus berdasar tauhid gembira beribadah dan taat kepada Allah.
  2. Hidup manusia itu haruslah bermasyarakat.
  3. Mematuhi ajaran-ajaran Agama Islam dengan berkeyakinan bahwa
    ajaran-ajaran Islam itu satu-satunya landasan kepribadian dan ketertiban
    bersama untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.
  4. Menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam dalam masyarakat adalah
    kewajiban sebagai ibadah kepada Allah dan berbuat ihsan kepada
    kemanusiaan.
  5. Ittiba’ kepada Rasulullah saw. bukan saja dalam soal-soal ibadah
    khusus, tetapi juga bagaimana cara perjuangan Rasulullah saw. dalam
    menegakkan dan mengembangkan Agama Islam.
  6. Melancarkan amal usaha dan cara memperjua­ngkan Agama Islam dengan ketertiban Organisasi.

 

Muhammadiyah Gerakan Islam

Muhammadiyah adalah Gerakan. Maka, apabila berada di suatu tempat dia
harus bergerak dan meng­gerakkan. Warga-warganya harus bergerak. Dan
warga-warga Muhammadiyah itu harus menggerakkan masyarakat yang ada di
sekitarnya. Bila Muhammadi­yah ada di suatu tempat tetapi tidak bergerak
dan tidak pula menggerakkan, maka itu berarti belum Muham­madiyah dan
bukan Muhammadiyah.

       Muhammadiyah adalah Gerakan Islam. Dasarnya Islam. Ruh yang
menggerakkan Muhammadiyah adalah Islam. Yang digerakkan adalah Islam.
Islam yang tidak campur bid’ah, khurofat dan takhayyul. Sifat-sifat dan
bentuk-bentuk geraknya juga Islam. Yang dituju pun Islam. Maksud dan
tujuannya adalah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga
terwuud masyarakat Islam yang harmonis, di negara kita Republik
Indonesia.

       Muhammadiyah, gerakan Islam. Karena berdasar Islam. Sifat Islam
itu sendiri harus bergerak. Kalau ada umat Islam tiada bergerak, maka
itu ada tanda-tanda kekurangan. Mungkin karena belum meresapnya Islam
pada jiwa mereka. Mungkin pula ada hal-hal lain yang mencampuri
Islamnya, sehingga Islamnya beku. Tetapi apabla Islam yang benar-benar,
pasti bergerak. Bergerak yang bermanfaat dan tiada mencelakakan
masyarakat bahkan membahagiakan.

Muhammadiyah Gerakan Dakwah

Muhammadiyah, gerakan dakwah. Artinya, gerak Muhammadiyah, bersifat
dakwah, bertujuan dakwah, berbentuk dakwah. Dan memang Muhammadiyah
bergerak untuk dakwah. Dakwah Islam. Mengajarkan Islam. Menyerukan
Islam, kepada perorangan dan kepada masyarakat.

       Kepada perorangan, kepada mereka yang belum mengerti Islam,
kepada mereka yang belum memahami Islam, Muhammadiyah ingin mengertikan
dan memahamkan Islam. Mudah-mudahan dengan petunjuk Allah, setelah
mereka mengerti dan memahami, mereka dengan sukarela, dengan tiada
terpaksa mau melaksanakan agama Islam. Dan berbahagialah mereka yang mau
mematuhi ajaran-ajaran Islam.

       Kepada yang sudah memeluk Islam, mereka oleh Muhammadiyah,
diajak menyempurnakan Islamnya. Menurut Al-Qur’an. Menurut Sunnah
Rasulullah Muhammad Sallallahu ’alaihi wasallam.

       Kepada masyarakat, Muhammadiyah ingin memperingatkan dan ingin
memahamkan bahwa Indonesia, yang mayoritas penduduknya beragama Islam
mau melaksanakan Islam, insya Allah akan bahagia lahir dan batin.
Keamanan, ketentraman dan kesejahteraan serta kebahagiaan akan luas dan
merata. Tenteram aman tidak khawatir dan tiada ketakutan.

 

Muhammadiyah Gerakan Tajdid

Tajdid artinya: pembaharuan. Yang dimaksud tajdid ialah mengembalikan
Islam kepada sumber hukum yang sebenar-benarnya ialah ajaran-ajaran
Allah, wahyu-wahyu Allah yang tersebut di dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an
adalah kitab Allah, wahyu dari Allah. Bukan karangan manusia. Bukan
karangan Muhammad. Tetapi benar-benar wahyu Nabi yang menjadi Utusan
Allah.

       Muhammad Rasulullah menjadi Nabi dan Utusan Allah, atas kehendak
Allah, bukan atau maunya Muhammad sendiri. Muhammad tiada meminta.
Muhammad tiada melamar untuk menjadi Nabi dan menjadi Utusan Allah.

       Muhammad Rasulullah Sallallahu ’alaihi wasallam diutus adalah
untuk kebahagiaan seluruh manusia tanpa kecuali, dalam kehidupan lahir
dan batin, secara individu dan secara bersama, secara mikro dan makro,
dunia dan akhirat.

       Muhammadiyah ingin mengajak ummat Islam khususnya dan masyarakat
pada umumnya untuk bertajdid dengan arti kembali kepada tuntunan Islam
yang sebenar-benarnya sambil menyadari tujuan hidupnya sebagai manusia
sejati menurut kehendak Allah dalam menciptakan manusia itu sendiri.

 

Muhammadiyah Yakin

Apabila agama Islam yang sebenar-benarnya menurut sumber yang asli murninya, jauh dari laku-laku bid’ah, baik bid’ah hasanah maupun bid’ah sayyi’ah,
takhayul dan khurofat serta tanpa dicampuradukkan dengan
fikiran-fikiran manusia, terutama dibersihkan dari nafsu keinginan
interest manusia masing-masing dan diterangkan dengan sebaik-baiknya,
dengan kebijaksanaan yang sesempurna mungkin, dan kemudian yang
menerimanya itupun dengan membersihkan dirinya dari interes-interes yang
ada, maka insya Allah akan terasa benar-benar betapa kebenaran,
kesempurnaan dan perlunya Islam itu bagi hidup dan kehidupannya.

       Muhammadiyah mempunyai keyakinan, alangkah tepat dan cocoknya,
kalau negara kita Republik Indonesia, yang kini tengah dibangun
penduduk/warga negaranya dengan sesungguh-sungguhnya dalam menuju negara
yang adil dan makmur materiil dan spirituil ini, dapat pula berkegiatan
atas dasar keinsyafan, kesadaran dan keikhlasan melaksanakan
ajaran-ajaran Islam yang murni, pasti sudah, bahwa negara kita akan
menjadi negara yang penuh nikmat melimpah-limpah karena mendapatkan
keridhaan Allah Subhanahu wata’ala.

 

Memahami Agama Islam
”Mereka yang tidak mempunyai sesuatu, tidak mungkin memberikan sesuatu”

Pimpinan Muhammadiyah, pimpinan Gerakan Islam bermaksud mendakwahkan
Islam. Untuk itu, maka pimpinan Muhammadiyah wajib memahami bahkan,
menguasai apakah Agama Islam yang menjadi dasar Muhammadiyah itu. Agama
Islam yang menjadi dasar penggerak Muhammadiyah. Dan Agama Islam yang
menurut faham Muhammadiyah menjadi rahmatan lil ’alamin itu.

       Memahami Agama Islam, bukan dengan membaca risalah kecil ini.
Hendak memahami Muhammadiyah harus mau memahami Al-Qur’an, mau memahami
al-Hadis yang shahih, memahami sunnah-sunnah Rasulullah, memahami
sedalam-dalamnya dengan mempergunakan akal pikiran yang sehat, sesuai
dengan jiwa Agama Islam itu sendiri.   

Agama Islam itu ada akidahnya, ada cara-cara ubudiyahnya, ada uraian
tentang akhlak dan adapula yang mengatur bagaimana cara bermuamalah
duniawiyah. Semua itu perlu difahami, dikuasai benar-benar untuk
diamalkan, untuk dipatuhi, untuk dipedomani dan untuk didakwahkan dengan
cara-cara yang melihat situasi dan kondisi.

 

Apakah Harus Menunggu?

Mendakwahkan Agama Islam kepada sanak keluarga, kepada sahabat dan
handai taulan, kepada tetangga yang dekat rumah yang semuanya itu belum
Islam, merupakan kewajiban bagi setiap Muslim putra dan putri, baik tua
maupun muda, baik yang ’alim maupun yang belum ’alim.

       Mendakwahkan Agama Islam tidak harus menunggu seseorang, sampai benar-benar menjadi ’alim atau ’allamah.
Mendakwahkan Islam tidak harus menunggu kalau sudah lengkap mengamalkan
lima rukun Islam secara sempurna. Tidak harus menunggu kalau sudah
menjadi Kyai atau menjadi Nyai. Juga tidak harus menunggu kalau sudah
menjadi sarjana dari Perguruan Tinggi Agama Islam.

       Ballighu ’anni walau a-yatan. (Sampaikanlah (ajaran) dariku walaupun hanya satu ayat).

       Karena itu maka setiap Pimpinan Muhammadiyah, setiap warga
Muhammadiyah putra-putri, tua dan muda, kaya miskin, pandai atau tidak,
wajib menyampaikan dakwah Islam. Tidak harus di Masjid. Tidak harus di
Madrasah. Tidak harus di Mushalla. Di mana saja, di rumahnya sendiri,
atau di rumah yang didakwahi, di rumah orang yang diajak. Dan tidak
harus dengan pidato-pidato. Juga sama sekali tidak harus dengan pengeras
suara.

 

Memantapkan Gerakan Dakwah

Muhammadiyah harus memantapkan dirinya menjadi gerakan Dakwah Islam.
Maksudnya kata-kata itu, Muhammadiyah hanyalah bekerja menyampaikan
ajaran-ajaran Islam. Kepada siapapun. Lapisan masyarakat yang manapun.
Golongan apapun.

Muhammadiyah tidak hanya mengelompok kepada golongan atau partai
tertentu saja. Muhammadiyah harus berhubungan dengan semua golongan atau
partai itu, karena hendak menyampaikan ajaran-ajaran Islam.

Muhammadiyah harus dapat berhubungan dengan baik dengan para pejabat,
para penguasa, mulai yang terbawah sampai yang teratas, mulai yang di
desa-desa sampai yang di kota-kota untuk menyampaikan ajaran-ajaran
Islam, supaya para pejabat, para penguasa menjadi orang-orang yang
bertambah baik, yang bertambah jujur, yang bertambah adil, yang boleh
dipercaya, yang bertanggung jawab, yang menguntungkan negara,
menguntungkan rakyat, nusa dan bangsa. Penguasa yang diridhai Allah,
ialah penguasa yang tidak sewenang-wenang, yang tahu tepa slira, yang tiada dumeh, yang memberikan pengayoman kepada rakyat dan tiada mementingkan diri sendiri, isteri sendiri, anak sendiri, keluarga sendiri.

Muhammadiyah harus berusaha agar bertambah kuat dalam halnya membina
dirinya menjadi Muhammadiyah yang berkepribadian, mempunyai keyakinan
dan cita-cita, tahu diri, tiada ingin mencari untung sendiri.
Muhammadiyah bertujuan menyelamatkan negara dan masyarakat dari kutukan
Allah, dari laknat Allah, dari siksa Allah.

Muhammadiyah harus menjadi Gerakan Dakwah Islam yang tidak akan mencari
pangkat, tidak mencari kedudukan dan tiada akan mencari kekayaann.
Kalau ada orang-orang Muhammadiyah yang berkuasa, yang berkedudukan,
yang beruang atau berharta, maka sebagai orang-orang Muhammadiyah harus
dapat menjaga dan membahagiakan Negara Republik Indonesia dan
membahagiakan penduduknya, yang berbagai suku-sukunya, bermacam-macam
kepercayaan dan agamanya, dan harus tetap berusaha menjaga dan
memelihara Negara Republik Indonesia yang berbentuk kesatuan ini.

Karena itu, Muhammadiyah harus pandai menghormati, menghargai serta
mengemong atau menenggang kesemuanya itu, sambil tetap menjaga kemurnian
Agama Islam yang diridhai Allah Swt. [sp/tabligh.muhammadiyah.or.id]