Analisa 1 Ramadhan 1435 H (2014 M) berdasarkan Kriteria Wujudul Hilal (WH), MABIMS dan LAPAN

Mari
Sambut Ramadhan !

Alhamdulillah,
saat ini kita sudah masuk pada bulan Rajab 1435 H, yang secara urutan dalam
kalender hijriyah berarti sekitar 1 bulan lagi kita akan memasuki bulan yang
dinanti-nanti oleh umat Islam, yaitu bulan Ramadhan. Tentu ini menjadi
pengingat bagi seluruh umat Islam, khususnya di Indonesia bahwa jika anda masih
memiliki “hutang” shaum pada ibadah shaum Ramadhan tahun lalu, maka
bersegeralah anda meng-qadha-nya,
sekaligus menjadi harapan bagi kita semua agar Allah menakdirkan kita masih
bisa bertemu Ramadhan kali ini dan dapat menjalankan segala ibadah dengan
kemuliaanya secara optimal.  Tidak lupa,
penulis akan mengetengahkan urutan nama-nama bulan dalam kalender hijriyah yang
saat ini mungkin kalah populer dibanding
nama-nama bulan miladiyah (masehi), yaitu :

  1. Muharram,
  2. Shafar,
  3. Rabi’ul Awwal,
  4. Rabiu’ul Akhir,
  5. Jumadil Awwal,
  6. Jumadil Akhir,
  7. Rajab,
  8. Sya’ban,
  9. Ramadhan,
  10. Syawwal,
  11. Dzulqo’idah, dan
  12. Dzulhijjah.
Namun,
seperti halnya pada tahun yang sudah-sudah yang juga merupakan kekhasan umat
Islam di Indonesia yang tentu kita berharap akan segera berakhir bahwa akan
hadir beberapa pertanyaan yang akrab jika mendekati bulan Ramadhan dan Syawwal,
yaitu “Apakah akan terjadi lagi perbedaan
?”
.
Untuk
menjawab pertanyaan yang sederhana namun memiliki konsekwensi yang cuku luar
biasa tersebut, penulis mencoba memberikan sedikit ulasan mengenai penetapan
bulan Ramadhan, Syawwal sekaligus Dzulhijjah berdasarkan 3 kriteria-kriteria
yang cukup tren untuk umat Islam di
Indonesia, yaitu Kriteria : Wujudul Hilal
(WH), Imkanur Ru’yah MABIMS (IR
2-3-8), dan Imkanur Ru’yah LAPAN
(4-6,4).
Berikut
pula penulis sampaikan kriteria-kriteria 3 sistem kalender hijriyah diatas :
1)       
Wujudul Hilal (WH)
(i)       
Telah terjadi
ijtima’ (konjungsi),
(ii)       Ijtima’ terjadi sebelum Matahari terbenam, dan
(iii)     Pada saat Matahari terbenam  Bulan masih di atas ufuk
2)       
Imkanur Ru’yah MABIMS (IR 2-3-8)
(i)       
Ketinggian minimal 2o (derajat) ,
(ii)     
Jarak bulan-matahari minimal 3o (derajat),
dan
(iii)   
Umur  bulan
minimal 8 jam
3)       
Imkanur Ru’yah LAPAN (IR 4-6,4)
(i)       
Beda tinggi
Bulan-Matahari 4o (derajat), dan
(ii)       Jarak Bulan-Matahari 6,4o (derajat).
Dari
kriteria-kriteria sistem kalender diatas, mari kita lihat data astronomis untuk
bulan Ramadhan, Syawwal dan Dzulhhijjah. Data diambil dari aplikasi Accurate Hijri Calculator 2.2.1 karya
Abdurro’uf untuk Lokasi Jakarta Pusat (6o11’8” LS dan 106o49’46”
BT) , yaitu :
(1)    Ramadhan 1435 H
a.   
Ijtima’                                            
a.1    Tanggal Ijtima’                  = Jumat, 27 Juni 2014
a.2    Waktu Ijtima’                    = 15:8:28

Gambar 1.

Simulasi Ijtima’ Jum’at 27 Juni 2014 Pkl.
15:8:28 Lokasi Jakarta mengunakan aplikasi Stellarium


b.   
Matahari
b.1    Terbenam                           =
17:48:40
b.2    Azimuth                             = 293o21’35”
c.   
Hilal/Crescent
c.1    Altitude/tinggi                   = -0o11’14”
c.2    Azimuth                           = 288o36’40”
c.3    Beda Azimuth                  = 4o44’54”
c.4    Umur Hilal                        = 2:40:12

Gambar 2
Simulasi 
Jum’at 27 Juni 2014 Pkl. 17:48:40 (saat Sunset) Lokasi Jakarta mengunakan aplikasi Stellarium


(2)    Syawwal 1435 H
a.   
Ijtima’                                            
a.1    Tanggal Ijtima’                  = Ahad, 27 Juli 2014
a.2    Waktu Ijtima’                   = 5:41:50


Gambar 3.
Simulasi 
Ahad 27 Juli 2014 Pkl. 5:41:50 Lokasi Jakarta mengunakan aplikasi
Stellarium

b.   
Matahari
b.1    Terbenam                           =
17:54:7
b.2    Azimuth                             = 289o11’30”
c.   
Hilal/Crescent
c.1    Altitude/tinggi                     = 3o8’23”
c.2    Azimuth                             = 283o39’7”
c.3    Beda Azimuth                    = 5o32’23”
c.4    Umur Hilal                         = 12:12:17
Gambar 4.
Simulasi 
Ahad 27 Juli 2014 Pkl. 17:54:07 (saat Sunset) Lokasi Jakarta mengunakan
aplikasi Stellarium
(3)    Dzulhijjah 1435 H  
a.   
Ijtima’                                            
a.1    Tanggal Ijtima’                  = Rabu, 24 September 2014
a.2    Waktu Ijtima’                   = 13:13:44
Gambar
5.
Simulasi  Rabu, 24 September 2014 Pkl. 13:13:44 Lokasi
Jakarta mengunakan aplikasi Stellarium

a.   
Matahari
b.1    Terbenam                           =
17:45:56
b.2    Azimuth                             = 269o22’15”
b.   
Hilal/Crescent
c.1    Altitude/tinggi                     = -0o8’45”
c.2    Azimuth                             = 267o23’15”
c.3    Beda Azimuth                    = 1o59’2”
c.4    Umur Hilal                         = 4:32:12
(a)
(b)
Gambar
5.
Simulasi  Rabu, 24 September 2014 Pkl. 17:46:56 (saat Sunset) tanpa horizon (a) dan dengan
horizon (b) Lokasi Jakarta mengunakan aplikasi Stellarium

Dari data-data diatas, dapat
kita tarik kesimpulan bahwa :
–         
Bulan
Ramadhan 1435 H :
(i)       
Menurut Wujudul Hilal (WH) bulan Ramadhan 1435 H
jatuh pada tanggal 27 Juni 2014 M, artinya sejak Matahari terbenam (Maghrib) pada Jum’at 27 Juni 2014 M
telah masuk bulan Ramadhan 1435 H mengingat dalam sistem kalender hijriyah hari
dimulai pada saat Matahari terbenam (Sunset)
dan pada tanggal sabtu 28 Juni 2014 M akan melaksanakan ibadah shaum untuk hari pertama,
(ii)       Menurut Imkanur
Ru’yah
MABIMS (IR 2-3-8) jatuh pada 28 Juni 2014 M, artinya pada saat maghrib pada Jum’at 28 Juni 2014 M baru
masuk bulan Ramadhan karena saat maghrib
pada tanggal 27 Juni 2014 M belum terpenuhinya syarat-syarat yang ada pada
kriteria IR 2-3-8 ini, dan pada Ahad 29 Juni 2014 baru melaksanakan ibadah shaum  yang pertama,
(iii)      Menurut Imkanur Ru’yah LAPAN (IR 4-6,4) sama
seperti IR 2-3-8
–         
Bulan Syawwal
1435 H :
(i)       
Menurut Wujudul Hilal (WH) bulan Syawwal 1435 H
jatuh pada 27 Juli 2014 M, artinya pada saat maghrib pada Ahad 27 Juli 2014 M telah masuk bulan Syawwal 1435 H,
dan pada Senin 28 Juli 2014 M merupakan hari Idul Fitri,
(ii)       Untuk IR MABIMS (IR 2-3-8) dan IR LAPAN (IR 4-6,4)
bulan Syawwal 1435 H sama menurut kriteria Wujudul
Hilal
(WH)
–         
Bulan
Dzulhijjah 1435 H :
(i)       
Menurut Wujudul Hilal (WH) bulan Dzulhijjah 1435
H jatuh pada Rabu 24 September 2014 M, artinya sejak Matahari terbenam (maghrib) pada Rabu 24 September 2014
telah masuk bulan Dzulhijjah 1435 H, dan Idul Adha akan jatuh pada 4 Oktober
2014 M (sejak maghrib/sunset pada
Jum’at 3 Oktober 2014 M telah masuk pada 10 Dzulhijjah 1435 H, mengingat sekali
lagi bahwa pergantian tanggal pada kalender hijriyah adalah saat Matahari
terbenam) dan berdasarkan Wujudul Hilal (WH)
ummat Islam akan melaksanakan Sholat Idul Adha pada Sabtu 4 Oktober 2014 M,

(ii)       Menurut IR MABIMS (IR 2-3-8) dan IR LAPAN (IR
4-6,4) bulan Dzulhijjah 1435 H jatuh pada Kamis 25 September 2014 M, artinya
sejak Matahari terbenam (maghrib)
pada Kamis 25 September 2014 baru masuk bulan Dzulhijjah 1435 H, dan Idul Adha
akan jatuh pada 5 Oktober 2014 M (sejak maghrib/sunset
pada Sabtu 4 Oktober 2014 telah masuk 10 Dzulhijjah 1435 H) dan berdasarkan IR
MABIMS (IR 2-3-8) dan IR LAPAN (IR 4-6,4) ummat Islam akan melaksanakan sholat
Idul Adha pada Ahad 5 Oktober 2014 M.
Tabel 1.

Ramadhan,
Syawwal dan Dzulhijjah 1435 berdasarkan Wujudul
Hilal
(WH), IR MABIMS (IR 2-3-8) dan IR LAPAN (IR 4-6,4)

Kriteria
Ramadhan 1435 H
Syawwal 1435 H
Dzulhijjah 1435 H
Idul Adha 1435
WH
27 Juni 2014 M
27 Juli 2014 M
24 September 2014 M
4 Oktober 2014 M
IR MABIMS
28 Juni 2014 M
27 Juli 2014 M
25 September 2014 M
5 Oktober 2014 M
IR LAPAN
28 Juni 2014 M
27 Juli 2014 M
25 September 2014 M
5 Oktober 2014 M

Keterangan
:
Tanggal
diambil berdasarkan permulaan kalender hirjiyah yang dimulai saat maghrib.
Demikian
ulasan sinngkat yang penulis paparkan untuk menggambarkan Ramadhan, Syawwal dan
Dzulhijjah 1435 H berdasarkan kriteria Wujudul
Hilal
(WH), Imkanur Ru’yah MABIMS
(IR 2-3-8) dan Imkanur Ru’yah LAPAN
(IR 4-6,4). Memang masih terdapat perbedaan, jatuhnya awal Ramadhan dan awal
Dzulhijjah, namun perbedaan itu bukanlah suatu yang harus di besar-besarkan.
Sekali lagi, penulis mengajak untuk segenap umat Islam khususnya di seluruh
Indonesia untuk mepersiapkan diri menyambut datangnya bulan yang dinanti-nanti
yaitu bulan Ramadhan, dan bagi yang masih memiliki “hutang”/tanggungan ibadah shaum Ramadhan tahun lalu segeralah
untukmelunasinya dengan berpuasa sunnah.
Semoga ulasan singkat ini bermanfaat, dan tentunnya penulis terbuka atas kritik
dan saran terkait kekurangan dan ke-alfai-an
tulisan ini.
Wa Allahu a’lam bishshowwab
Fastabiqul Khoirot
Nasrun Min Allah wa Fathun Qoriib
Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuh
Adi
Damanhuri
Sekretaris
PD. Pemuda Muhammadiyah Kota Depok
Anggota
Divisi Hisab Majelis Tarjih dan Tajdid PW Muhammadiyah Jawa Barat

Mahasiswa
Pascasarjana Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB)