Rukyat Legault, Ijtimak Sebelum Gurub, dan Penyatuan Kalender Islam

Yogyakarta – Berhasilnya rukyat yang dilakukan Ilmuan Perancis Thierry
Legault dengan menangkap hilal pada sudut elongasi terkecil pada saat
terjadi Ijtima’ , seakan memberi  harapan baru disatukannya metode hisab
rukyat dalam menentukan bulan baru dalam penanggalan Kamariyah. Menurut
ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Syamsul Anwar, sudah
sekitar 1500 tahun umat Islam belum mampu mempunyai system kaleder
terpadu, padahal bangsa Sumeria telah mempunyai kalender berdasarkan
bulan 3000 tahun sebelum masehi. Untuk itu menurutnya, sudah saatnya
Islam mempunyai system pananggalan terpadu yang mampu diterima seluruh
umat Islam di dunia.
Bagaimana kontribusi Rukyat Legault terhadap penyatuan kalender Islam? atau bagaimana teori Ijtimak sebelum Ghurub yang diyakini  Ustaz Agus Musofa mampu menjawab perbedaan pandangan Hisab
dan Rukyat? Berikut pemaparan Ketua Majels Tarjih dan Tajdid PP
Muhammadiyah, Prof. Dr. Syamsul Anwar, MA, dalam tulisan berjudul :
Rukyat Legault, Ijtimak Sebelum Gurub, dan Penyatuan Kalender Islam.
Artikel dapat diunduh di  sini .
Apabila tidak dapat mengunduh, berikut isi artikel;


Oleh: Syamsul Anwar
(Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga
dan Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah)

Hari Selasa kemaren (29 Jumadil Akhir 1435 H / 29 April
2014 M) Kantor Pusat Muhammadiyah Jakarta atas prakarsa Ketua Umum PP
Muhammadiyah mengadakan ceramah hisab dan rukyat (di kantor tersebut)
dengan menghadirkan Thierry Legault, ahli astrfotografi Perancis, bersama
Ustaz Agus Mustofa dan Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah
sebagai nara sumber. Semula direncanakan juga untuk hadir menjadi nara
sumber KH Masdar Farid Masudi dari PBNU, namun beliau berhalangan dan
tidak bisa hadir. Acara ini disambut dan ditutup oleh Prof Dr HM Din
Syamsuddin, MA.

Tiga hari sebelumnya, tepatnya Sabtu s/d Senin (26-28 April
2014), di Surabaya diadakan acara Worshop Astrofotografi yang juga
menghadirkan Thierry Legault. Acara tersebut berlangsung tiga hari,
dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan juga dihadiri oleh
Prof Din selaku Ketua Umum PP Muhammadiyah dan selaku Ketua Umum MUI.
Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengirim 6 (enam) peserta.
Acara ini diprakarsai oleh Ustaz Agus Mustofa, Penulis Buku ‘Jangan Asal Ikut Hisab dan Rukyat’.

Thierry Legault berhasil membuat satu rekor rukyat hilal
saat ijtimak dengan elongasi terkecil. Rekor ini adalah rukyatnya
terhadap hilal Jumadil Awal 1431 H pada hari Rabu, 14 April 2010 M dari
Montfaucon, Lot, Perancis, dengan jarak sudut bulan-matahari (elongasi)
4,554º. Kemudian jelang Ramadan tahun lalu ia berhasil pula merukyat
(dengan teleskop) hilal Ramadan 1434 H saat ijtimak pukul 09:14 Waktu
Perancis (14:14 WIB) pada hari Senin, 8 Juli 2013 dengan jarak sudut
matahari-bulan 4,6º dari Elancourt, pinggiran kota Paris.

Keberhasilan Legault ini di Indonesia bagi beberapa
kalangan dirasa membawa optimisme baru untuk mendekatkan dan mengurangi
perbedaan antara penganut hisab dan penganut rukyat. Optimisme ini
memang bukan suatu yang berlebihan dan dalam beberapa kasus benar
adanya. Sebagai contoh diperkirakan untuk memasuki Ramadan 1435 H yang
akan datang akan ada perbedaan dalam memulai 1 Ramadan antara penganut
hisab wujudul hilal dan penganut rukyat. Tinggi (piringan atas) bulan
adalah 0,5º di Yogyakarta pada hari ijtimak dan ini belum memenuhi
kriteria imkanu rukyat yang diterapkan oleh Kemenag RI. Oleh karena itu
diperkirakan akan terjadi perbedaan memulai puasa Ramadan 1435 H.

Ijtimak jelang Ramadan yang akan datang terjadi hari Jumat,
27 Juni 2014 M dengan jarak sudut (elongasi) matahari-bulan dari
Pelabuhanratu saat ijtimak pukul 15:09:39 WIB adalah 4,496º (4º 29’ 47”)
dan di Yogyakarta  4,510º (4º 30’ 37”). Elongasi ini masih di bawah
besaran elongasi yang menjadi  dari rekor Legault 4,554º. Namun pada
pukul 17:00 WIB elongasi membesar menjadi 4,602º (4º 36’ 10”) di
Pelabuhanratu, dan 4,668º (4º 40’ 04”) di Yogyakarta. Besaran elongasi
ini telah di atas besaran elongasi yang menjadirekor Legault sehingga
ada harapan untuk dapat dirukyat dengan teleskop Legault meskipun masih
tergantung kepada keadaan cuaca. Apabila diandaikan hilal dapat dilihat
saat ijtimak atau beberapa waktu setelah ijtimak hingga terbenam
matahari dan diterima sebagai rukyat yang sah oleh Pemerintah dan
masyarakat pendukung rukyat, maka perbedaan tadi dapat dihindari. Ustaz
Agus Mustofa mengatakan bahwa Legault akan diundang ke Indonesia jelang
Ramadan 1435 H yang akan datang. Mudah-mudahan beliau dapat datang dan
berhasil merukyat hilal Ramadan yang akan datang sehingga potensi
berbeda itu dapat diatasi.

Itulah sisi optimismenya. Atas dasar itu beberapa pengamat
dan ahli mengusulkan kriteria untuk menentukan awal bulan kamariah baru,
yaitu ijtimak sebelum terbenamnya matahari (al-ijtima’ qablal gurub).
Dasar pemikirannya adalah bahwa saat ijtimak hilal sudah terlihat
(dengan teleskop) dan ia kian membesar menjelang terbenamnya matahari.
Meskipun tidak terlihat dengan mata telanjang, namun hilal sudah ada,
buktinya terlihat saat ijtimak atau beberapa saat kemudian sebelum
matahari tenggelam. Ini sisi titik temu rukyat dengan hisab wujudul
hilal. Oleh karenanya sore itu, saat matahari terbenam, sudah dapat
dipandang sebagai bulan baru. Karena ijtimak terjadi sebelum matahari
tenggelam, maka tinggal menggenapkan hari itu hingga sore hari saat di
mana matahari terbenam. Lebih jauh, tempo antara ijtimak dan
tenggelamnya matahari di waktu sore memberi peluang rukyat lebih besar
dan karenanya juga lebih memudahkan dibandingkan rukyat saat matahari
terbenam karena peluang rukyat saat itu amat kecil lantaran hilal berada
di ufuk hanya sesaat untuk kemudian terbenam di balik ufuk. Lebih
lanjut menurut pendukung ijtimak sebelum gurub, saat ijtimak itu adalah
saat berakhirnya bulan berjalan dan mulainya bulan baru. Namun karena
hari berakhir pada sore hari saat gurub, maka hari digenapkan hingga
sore. Penggenapan bulan berjalan dengan melewati keesokan harinya
sehingga bulan baru dimulai lusa, seperti praktik yang terjadi, berarti
penggenapan lebih dari 24 jam, dan penggenapan dengan lebih dari 24 jam
itu tidak logis. Penggenapan, sebagaimana dalam ijtimak sebelum gurub,
hanya dari saat ijtimak hingga sore hari saja dan tidak melampaui hingga
keesokan hari.

Meskipun pada beberapa kasus ijtimak qablal gurub yang
didasarkan kepada keberhasilan rukyat saat ijtimak membawa optimisme,
namun dalam beberapa kasus lain ijtimak qablal gurub bukannya tanpa
masalah. Beberapa di antaranya dapat disebutkan sebagai berikut. Pertama,
tidak semua saat ijtimak hilal akan dapat dirukyat manakala saat itu
elongasi sangat kecil sehingga tidak ada permukaan bulan yang tersinari
matahari yang menghadap ke bumi. Misalanya saat ijtimak yang bersamaan
dengan gerhana atau mendekati gerhana menjelang terbenamnya matahari.
Misalnya ijtimak jelang Zulhijah 1437 H yang jatuh hari Kamis, 01
September 2016 M pukul 16:03 WIB dengan elongasi yang sangat kecil [dari
Jakarta elongasinya 0,955º (0º 57’)]. Pada pukul 17:30:26 WIB mulai
gerhana parsial dan sore itu matahari tenggelam pukul 17:52:45 WIB dalam
keadaan gerhana parsial. Sore itu di Jakarta bulan terbenam lebih
dahulu beberapa detik, yaitu pada pukul 17:52:04 WIB.


Kedua, Sangat mungkin sekali bahwa meskipun saat
ijtimak bulan dapat dirukyat dengan teleskop, namun di sore hari saat
matahari tenggelam, bulan telah terlebih dahulu terbenam. Dengan kata
lain saat matahari terbenam bulan sudah di bawah ufuk. Contohnya adalah
kasus di atas. Contoh lain Syawal 1437 H di mana ijtimak jelang Syawal
terjadi hari Senin, 04 Juli 2016 M pada pukul 18:00:58 WIB. Matahari
tenggelam di Banda Aceh pada hari itu pukul 18:56:25 WIB dan bulan
terbenam pukul 18:50:11 WIB. Jadi saat matahari terbenam bulan sudah di
bawah ufuk. Elongasi dari Banda Aceh saat ijtimak pada hari itu di atas
besaran elongasi yang menjadi rekor Thierry Legault sehingga ketika
ijtimak itu hilal sangat mungkin dilihat dengan teleskop.

Dalam kasus seperti ini timbul masalah baru, apakah syarat
bulan terbenam sesudah terbenamnya matahari (orang sering menyebutnya
bulan di atas ufuk, tetapi lebih tepat bulan tenggelam sesudah
tenggelamnya matahari) dapat diabaikan. Apabila kita memegangi kriteria
ijtimak sebelum gurub, maka bulan baru tetap dimulai malam itu dan
keesokan harinya walaupun saat matahari terbenam bulan sudah lebih
dahulu terbenam. Ini akan menjadi lebih radikal dari wujudul hilal,
karena menurut wujudul hilal apabila bulan sudah di bawah ufuk (sudah
terbenam lebih dahulu dari matahari), maka keesokan hari belum merupakan
bulan baru.

Menurut mereka yang memegangi wujudul hilal tenggelamnya
matahari lebih dahulu daripada bulan adalah parameter yang harus
dipenuhi. Kalau tidak terpenuhi, maka bulan berjalan digenapkan menjadi
30 hari dan bulan baru dimulai lusa. Dasarnya adalah surat Ya Sin ayat
40 yang menegaskan bahwa tidak layak matahari mengejar bulan dan bahwa
malam tidak mendahului siang. Pernyataan “tidak layak mengejar bulan”
artinya tidak berposisi di belakang bulan dalam arti tidak tertinggal
oleh bulan, melainkan berposisi mendahului bulan. Pertanyaannya:
mendahului bulan di mana? Pernyataan “malam tidak mendahului siang”
mengisyaratkan adanya fenomena ufuk yang menandai pergantian siang kepada malam. Ayat ini meminta perhatian kita supaya jangan melihat perubahan malam kepada siang
di mana ada fenomena ufuk juga, tetapi itu adalah ufuk yang menandai
terbitnya matahari. Sebaliknya ayat ini menyatakan malam tidak
mendahului siang, yang berarti kita harus memperhatikan perubahan siang kepada malam
di mana ada fenomena ufuk yang menandai terbenamnya matahari. Jadi
apabila dihubungkan kepada pernyataan bahwa matahari tidak berposisi
terlambat dari bulan, maka ditemukan jawaban bahwa tidak terlambat dari
(tidak berada di belakang) bulan itu adalah pada saat terbenamnya di
balik ufuk. Artinya saat terbenam di balik ufuk yang menandai peralihan
siang kepada malam, matahari tidak tertinggal oleh bulan, sebaliknya
matahari terbenam mendahului bulan, dan bulan belum terbenam saat
matahari terbenam.

Beberapa penulis menyatakan tafsir ini keliru, dan ayat
tersebut tidak menegaskan hal seperti itu karena masing-masing benda
langit itu beredar pada orbitnya sendiri-sendiri. Perlu ditegaskan bahwa
tafsir tidak sekedar sebuah “erklaren”, yakni menjelaskan pernyataan
ayat seperti apa adanya secara faktual matematis positivistik. Tafsir
lebih dari itu, ia juga merupakan upaya mencari dan kemudian memproduksi
“makna”; mencari sesuatu yang berarti dan berguna bagi kehidupan kita.
Karena itu tafsir senantiasa berkembang dan makna-makna baru terus
terproduksi. Dalam usul fikih dan ilmu tafsir makna itu tidak sekedar dalatul-‘ibarah, tetapi juga ada dalatul-isyarah, dalalatul-iqtida’, dan dalalatud-dalalah.
Ruang makna bukan suatu ruang solid dan terdefinisikan secara abadi,
melainkan merupakan ruang dinamis yang terus berevolusi. Ruang makna
dalam tafsir teks syariah ditentukan oleh relasi makasid syariah, teks
(nas), dan konteks. Kebenaran pun juga bukan sekedar kebenaran
korespondensi yang memang cocok untuk ilmu kealaman, tetapi juga ada
kebenaran koherensi dan kebenaran pragmatis. Sepanjang suatu tafsir
memiliki alur logika yang lurus, tidak mengandung kontradiksi dan
membawa manfaat kepada kehidupan kita, maka tidaklah dapat dinyatakan
keliru apabila tafsir itu diterima.

Jadi dari ayat 40 surat Ya Sin diperoleh suatu syarat bahwa
saat matahari tenggelam bulan belum tenggelam. Oleh karena itu apabila
bulan sudah lebih dahulu tenggelam dari matahari, maka malam itu dan
keesokan harinya belum dapat dinyatakan sebagai bulan baru. Bulan
berjalan harus digenapkan 30 hari dan bulan baru dimulai lusa.

Penggenapan dengan menambah satu hari seperti ini tidak
berarti lalu penggenapannya lebih dari 24 jam sehingga tidak logis.
Penggenapan dihitung sejak berakhirnya hari ke-29 bulan berjalan, yakni
sejak terbenamnya matahari pada hari itu. Jadi penggenapannya tidak
melebihi 24 jam. Penggenapan tidak dapat dihitung sejak terjadinya
ijtimak karena pada saat terjadinya ijtimak hari dan bulan belum
berakhir. Bulan berakhir saat matahari terbenam, bukan saat ijtimak,
karena bulan dan hari berakhir bersamaan. Seperti halnya hari berakhir
pada saat matahari tenggelam, bulan pun berakhir pada saat matahari
terbenam. Karena awal bulan dimulai saat matahari terbenam, maka bulan
itu diakhiri saat matahari terbenam pada hari ke-29 bulan tersebut
apabila parameter tertentu terpenuhi. Apabila belum terpenuhi, maka
ditambah satu sebagai penggenapan sehingga bulan menjadi 30 hari. Dengan
penambahan 1 hari (24 jam), maka usia bulan sejak terbenamnya matahari
pada awal bulan hingga terbenamnya matahari pada akhir bulan yang
digenapkan, tidak lebih 30 hari. Nabi saw bersabda, “Bulan itu terkadang
29 hari dan terkadang 30 hari.” Penambahan 1 hari itu atau pencukupan
usia bulan 29 hari sebagaimana disabdakan oleh Nabi saw sebenarnya
adalah suatu bentuk koreksi kalender Islam. Ini adalah kekhasan kalender
kamariah karena setiap bulan dilakukan koreksi sehingga tidak akan
pernah ada kelebihan hari sebagaimana dalam kalender urfi termasuk
kalender Masehi yang juga bersifat urfi.  


Ketiga, kriteria ijtimak sebelum gurub (qablal gurub)
sebenarnya merupakan parameter tunggal, yaitu terjadinya ijtimak
sebelum gurub itu sendiri. Karena merupakan parameter tunggal, yaitu
ijtimak sebelum gurub, maka timbul pertanyaan tipe ijtimak mana yang
seharusnya menjadi parameter: apakah ijtimak geosentrik atau ijtimak
toposentrik? Ijtimak geosentrik yang terjadi sesudah tengah hari selalu
mendahului ijtimak toposentrik. Bisa jadi ijtimak geosentrik terjadi
sebelum gurub, sementara ijtimak toposentrik terjadi sesudah gurub, lalu
yang mana yang dipedomani dan mengapa? Problem ini bisa timbul dalam
kriteria ijtimak qablal gurub dan tidak timbul pada kriteria dengan
parameter berlapis seperti wujudul hilal.

Sebagai contoh adalah Syawal 1437 H. Ijtimak geosentrik
jelang Syawal 1437 H terjadi hari Senin, 04 Juli 2016 M pada pukul
18:02:09 WIB. Matahari terbenam di Banda Aceh sore itu pukul 18:56:25
WIB. Ijtimak toposentrik dari Banda Aceh terjadi pukul 19:41:54 WIB,
artinya sesudah matahari tenggelam di Banda Aceh. Jadi apabila dipegangi
ijtimak geosentrik, maka 1 Syawal 1437 H jatuh pada hari Selasa, 05
Juli 2016 H, karena ijtimak (geosentrik) terjadi sebelum gurub. Tetapi
apabila dipegangi parameter ijtimak toposentrik, maka 1 Syawal 1437 H
jatuh hari Rabu, 06 Juli 2016 M, karena terjadinya sesudah matahari
terbenam. Bagi kriteria dengan parameter berlapis seperti wujudul hilal,
tidak ada problem tipe ijtimak, karena parameternya bukan satu-satunya
ijtimak itu, melainkan akan tersaring oleh parameter berikutnya,
misalnya, dalam kasus wujudul hilal, parameter bulan tenggelam sesudah
tenggelamnya matahari. Dalam kasus Syawal di atas ternyata di Banda Aceh
bulan tenggelam lebih dahulu dari matahari sehingga, menurut kriteria
wujudul hilal, 1 Syawal 1437 H jatuh pada hari Rabu, 06 Juli 2016 H.
Jadi tidak ada problem tipe ijtimak yang harus dipegangi.  

Semua apa yang dibicarakan di atas sebenarnya adalah hisab
dan rukyat tradisional, yaitu hisab dan rukyat yang dilakukan pada
lokasi tertentu saja dan dalam perspektif lokal terbatas. Semestinya
kita berfikir dan melihat permasalahan ini dalam suatu perspektif global
dan lintas kawasan. Hal itu karena salah satu bentuk ibadah Islam itu
dilaksanakan pada lokasi tertentu, namun terkait dengan peristiwa di
kawasan lain. Dalam hal ini adalah puasa sunat Arafah yang dilakukan di
tempat masing-masing seperti kita melakukannya di Indonesia, namun
terkait dengan peristiwa di tempat lain, yaitu terjadinya wukuf di
Arafah, Mekah. Oleh karena itu kita jangan hanya memikirkan bagaimana
menentukan masuknya bulan baru hanya di lokasi tertentu seperti hanya di
Indonesia saja, tetapi harus memikirkan koneksitasnya dengan kawasan
lain. Jatuhnya tanggal 1 bulan baru harus serentak di seluruh dunia,
antara Mekah dan tempat lain seperti negeri kita Indonesia. Inilah
artinya kita memerlakukan suatu sistem kalender pemersatu dengan prinsip
satu hari satu tanggal di seluruh dunia.

Rukyat tidak lagi dapat menampung kebutuhan ini. Ini adalah
realitas yang harus kita akui dengan rendah hati. Ini bukan soal
mazhab, tetapi adalah kenyataan alam yang harus kita atasi. Rukyat saat
visibilitas pertama terbatas kaverannya di muka bumi. Di sebelah barat
bumi rukyat mungkin terjadi, namun di sebelah timur bumi tidak dapat
dilakukan. Belum lagi soal faktor kondisi bumi dan atmosfir. Bisa jadi
hilal Zulhijah terlihat di Mekah, namun karena suatu atau lain sebab
tidak terlihat di Indonesia pada hari yang sama sehingga tanggal 1
Zulhijah di Mekah mendahului 1 Zulhijah di Indonesia. Ini akan berdampak
kepada perbedaan jatuhnya tanggal 9 Zulhijah di kedua tempat itu yang
menimbulkan kapan pelaksanaan puasa sunat Arafah bagi kita di Indonesia.
Peralihan dari rukyat kepada hisab bukan berarti pengingkaran terhadap
hadis-hadis Nabi saw yang memerintahkan rukyat, melainkan hanya menarjih
salah satu maknanya yang mungkin dan perluasan terhadap makna yang
ditarjih itu. Salah satu makna yang mungkin itu adalah makna faqduru lahu
yang dapat ditafsirkan dengan hisab. Kemudian makna hisab di situ
diperluas sehingga mencakup seluruh keadaan, tidak hanya saat ada awan.
Mengapa kita harus menarjih dan memperluas makna yang ditarjih itu
sehingga mencakup seluruh keadaan adalah karena tuntutan realitas alam
dan kebutuhan kita untuk dapat menyatukan hari-hari ibadah kita dan
membuat satu penanggalan Islam pemersatu. 

Penulis selalu mengulang-ulang pernyataan bahwa suatu
kenyataan memilukan di mana dalam usia hampir 1500 tahun peradaban Islam
belum memiliki kalender pemersatu (unifikatif) hingga hari ini. Yang
ada hanya kalender lokal yang satu sama lain saling berbeda dan hanya
memperhatikan lokal masing-masing. Memang ada kalender hisab urfi yang
dapat menyatukan secara global, namun kalender ini kini telah
ditinggalkan karena mengandung sejumlah kelemahan, antara lain karena
tidak mengikuti gerak faktual bulan di langit.

Tidak hadirnya kalender unifikatif ini adalah karena kita
sangat kuat memegangi tradisi merukyat, sementara rukyat itu terbatas
kaverannya di muka bumi dan tidak memungkinkan untuk membuat kalender,
apalagi kalender unifikatif. Oleh karena itu dengan rendah hati kita
harus bersedia untuk menerima hisab yang merupakan satu-satunya sarana
yang memungkinkan pembuatan kalender unifikatif. Penerimaan hisab ini
bukan karena mengikuti mazhab orang lain, melainkan karena konteks kita
telah berubah di mana kita hidup dalam dunia global yang memerlukan satu
sistem penanggalan yang dapat menyapa semua kita di seluruh penjuru
muka bumi. Selain itu juga kita memerlukan kalender global agar kita
dapat menepatkan jatuhnya salah satu hari ibadah, yaitu puasa Arafah
kita, serentak dengan peristiwa wukuf di Padang Arafah. Kita harus
mengakhiri era di mana peradaban Islam tidak memiliki kalender
pemersatu. Oleh karena itu pemikiran kalender lokal sudah saatnya kita
tinggalkan. Kita harus membuat kriteria kalender yang berperspektif
global. Walaupun orang di tempat lain belum mau menerimanya karena
mereka pun masih berfikiran lokal, namun kita dapat mendesakkannya
dengan alasan bahwa ini menyangkut suatu hal yang penting, yakni
mengenai keabsahan ibadah kita, dan sebelum mendesakkan keperluan kita
itu, kita tentu harus telah mempunyai tawaran yang telah teruji secara
syar’i dan astronomi.

Dalam pembuatan kalender Islam global sangat perlu
memperhatikan dua zona waktu, yaitu zona waktu ujung timur dan zona
waktu ujung barat. Sebuah kalender pemersatu jangan sampai memaksa orang
Muslim di suatu tempat (zona ujung timur) memasuki bulan baru pada hal
mereka belum mengalami ijtimak pada hari sebelumnya. Sebaliknya kalender
pemersatu itu juga jangan sampai menahan satu kelompok orang untuk
tidak masuk bulan baru, pada hal hilal sudah terpampang secara jelas di
ufuk mereka. Dalam konteks ini rukyat Legault yang berdasarkan kepadanya
dibuat kriteria ijtimak sebelum gurub dalam beberapa kasus akan
meradikalisasi masuk bulan baru dan dalam konteks kalender Islam global
dapat memaksa suatu zona memulai tanggal 1 bulan kamariah pada hari
tertentu sementara ijtimak di kawasan itu terjadi setelah fajar hari
itu. [Uraian lebih luas dapat dibaca dalam buku yang akan segera terbit
dengan judul Diskusi dan Korespondensi Kalender Global Hijriah].