Nucleus Alternatif, Menuntun Revitalisasi Mahasiswa

Sangat tepat dan sugestif untuk merekam sejarah mahasiswa Indonesia pada masa sekarang untuk bisa membaca masa depan mahasiswa. Tentunya, dalam beberapa dekade akhir-akhir ini pembicaraan tentang mahasiswa sangatlah menarik perhatian untuk dikaji, sehingga mampu mentaksir makna revitalisasi. Yang kemudian revitalisasi di hadapkan pada perwujudkan “Indonesia Merdeka” era kontemporer yang kita nanti kemunculannya.
Apabila pada permulaan abad reformasi ini mahasiswa kita hanya merasa tetapi tak pandai berkata di bawah tindasan imperalisme, kapitalisme kolonial reformasi, sehingga petani, buruh, pemerintah pandangannya tidak lebih luas dari batas lahan garapan yang dikerjakannya. Maka mahasiswa Indonesialah yang seharusnya maju kedepan untuk menjelaskan imperalisme, kapitalisme kolonial era-reformasi, dengan runtut sampai menemukan ujung pemikiran post reformasi bagi mereka. Dengan kata lain bahwa mahasiswa di tuntut untuk mengarahkan posisi sekarang yang kita alami.
Sekarang yang kita takutkan bahwa Universitas kita mewarisi tradisi diktator. Universitas yang kita punya sekarang merupakan sistem yang mencetak seorang tenaga pekerja. Sampai-sampai pelajar kita mulai muncul perlakuan individualis tanpa melihat perubahan yang secara cepat tanpa di barengi dengan produk pemikiran sebagai antisipasinya.
Seperti ungkapan H.A.R Tilaar ketika bicara pendidikan, sehingga mengisaratkan “peran ganda pendidikan menempatkan pendidikan bukan semata-mata untuk menyiapkan tenaga kerja tetapi mempunyai tujuan yang sangat jauh, yaitu membangun coheveness dari suatu masyarakat”. Ungkapan ini muncul ketika H.A.R Tilaar merespon industri dan sumber daya manusia merupakan bagian dari hidup industri itu sendiri. Kesimpulan sementara yakni keluaran dari sistem pendidikan kita kurang lebih akan menjadi aktor hidup-hidupnya industri imperalisme kapital. Dan tidak banyak kita temukan aktor yang menjadi inti intelletual dalam lingkup masyarakat.
Sekilas balik menengok sejarah Uni Soviet, yang hampir mendekati yang kita alami saat ini. dimana Uni Soviet di bawah kekuasaan Stalin, Indonesia dibawah pemimpin seorang diktator sampai muncul reformasi. Pandangannya bahwa, ketika itu proletariat Rusia belum cerdas. Untuk mengejar ketinggalan Uni Soviet yang tidak sedikit dari negara kapitalis, Stalin memperhebat bangunan industri. Untuk itu di perlukan kaum intellectual sebanyak-banyaknya, terutama insinyur dan ahli tehnik berbagai rupa. Demikian pula Indonesia mengirim mahasiswanya untuk belajar keluar negeri, harapanya sepulang bisa memajukan industri nasional. Lanjut Stalin, bahwa dengan itu-sesuai dengan teori dialektika-ia mencetak lawanya sendiri, yaitu ahli-ahli ilmu dan tehnik yang berfikiran kritis. Pikiran kritis itu adalah pembawaan orang berilmu, karena dengan tinjauan kritis ilmu bisa maju.
Tidak heran, kalau orang mengatakan sekitar tahun 1958 angin segar bagi Uni Soviet, bahwa Kruschchov adalah pembawaan zaman baru, zaman kelonggaran untuk menyatakan pendapat. Dalam karangannya yang berjudul“The Decline and Rise of Soviet Economic Science” Wassily Liontief, seorang ekonom yang ternama, menyebutkan bahwa Prof. Kontorovich, anggota Akademi Ilmu di Moskow sudah dapat melancarkan pendapat “to make disparaging remarks about ‘the meaningless discourse’ of stalwart Marxist Theorists”. Sehingga kemiripan dialami pula tahun 1998 oleh Indonesia, dengan menemukan proses reformasi dengan terbukanya kelongaran menyatakan pendapat.
 Ini menunjukkan bahwa kehadiran Universitas, intelegensia dan mahasiswa, pandangan dan bandingan kritik tidak bisa di tindas untuk selama-lamanya. Begitu pula yang di alami Indonesia ketika aktor intllectual membuka pintu reformasi maka kebebasan mengunkapakan pendapatpun sangat di hargai posisi pentingnnya, dan tentunya reformasi muncul karena aktor intellectual reformasi yang keluar dari rahim Universitanya.
Sepadan dengan pandangan Moh. Hatta “Demokrasi bisa ditindas sementara karena kesalahannya sendiri, tetapi setelah ia mengalami cobaan yang pahit, ia akan muncul kembali dengan penuh keinsafan”. Sangat menarik sekali jika kita berpandangan seperti Hatta. Karena jika kita memakai kaidah ini maka menjadi kaidah penyemangat berdemokrasi, dengan berpandangan bahwa kita mengalami kepahitan demokrasi, tetapi akan muncul demokrasi sebagai suatu pengharapan.
Akan tetapi munculnya reformasi menambah permasalahan baru. Permasalahan baru muncul karena belum adanya kesiapan penopang-penopang reformasi. Mahasiswa menjadi ragu menempatkan dirinya untuk mengisi agenda reformasi. Maka, ide dasar revitalisasi mahasiswa menjadi suatu pengharapan untuk mendampingi era-reformasi ini.
Sebenarnya revitalisasi mahasiswa difungsikan sebagai upaya kebangkitan mahasiswa. Dengan kata lain revitalisasi mahasiswa terhitung ketika mulai sadar bahwa dirinya seorang intellectual. Kemudian kita singkat menjadi kesadaran intellectual. Karena memang, kesadaran intelektual inilah yang di tuntut untuk dapat mewujudkan gerakan yang kritis, independen, dan sosialis-dalam pengertian membela dan memihak kaum tertindas dan lemah. Sebab kata Ali Syariati, misi suci kaum intelektual atau cendekiawan adalah membangkitkan dan membangun masyarakat bukan memegang kepemimpinan politik suatu negara, dan melanjutkan kewajiban membangun dan menerangi masyarakat hingga mampu memproduksi pribadi tangguh, kritis, independen, dan punya kepedulian sosial yang tinggi.
Pokok Dasar Revitalisasi
            Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam mahasiswa sampai sekarang sebenarnya menjadi peluang bagi setiap organisasi apa saja untuk menempatkan diri secara layak ditengah-tengah arus perubahan itu. Akan tetapi munculnya perubahan sering dipandang sebagai gugatan, dan sering muncul adalah reaksi dan defense mechanismmenguras energi. Disamping itu terdapat konflik intern mahasiswa yang di timbulkan oleh perbedaan interprestasi mengenai perubahan itu.
Sebagaimana pandangan Drs.Mohammad Djazman Alkindi, “orang menjadi peka dan cepat bereaksi karena menganggap bahwa perubahan merupakan ancaman yang akan mendistorsi nilai-nilai idiologi yang dianut”. Artinya jika kita mempunyai pandangan tentang perubahan sosial, senantiasa muncul gagasan atau ide pembaharuan yang berusaha menjembatani antara idiologi yang masih eksis dengan perubahan-perubahan yang sedang terjadi.
Pandangan penulis, ide pokok revitalisasi tertuang dalam pokok-pokok pikiran tentang (1) penegasan kembali bahwa karakter mahasiswa akan tertuju dalam visi kebangsaan (2) identifikasi permasalahan fundamental dalam bidang-bidang strategis sebagai penyebab perubahan sosial mahasiswa (3) agenda dan strategi perubahan melalui revitalisasi (4) kualitas mahasiswa Indonesia yang berkarakter kuat sebagai pelaku perubahan dalam pembangunan yang sistemik, dan (5) prasyarat kemajuan dalam mewujudkan visi dan pembangunan karakter mahasiswa.
Di dalam suatu tataran mahasiswa sangatlah mudah sebagai aktor penggerak. Oleh adanya lima poin ide pokok revitalisasi tersebut, merupakan alat untuk mengarahkan gerakan agar supaya sitematis dalam rangka revitalisasi mahasiswa. Akan tetapi, kesulitan muncul ketika berbenturan dengan konsistensi gerakan aksi mahasiswa dalam menggalang revitalisasi. Karena memang tidak bisa di pungkiri bahwa lima poin tersebut harus berjalan secara dinamis tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lainya. Artinya baik buruknya revitalisasi dapat terukur dengan kesinambungan  antara poin pertama menuju poin kelima. Dalam kesempatan ini penulis menawarkan “gerakan pondok” sebagai alternatif pembibitan nucleus (inti sel) mahasiswa yang di mungkinkan bisa menjembatani revitalisasi ini.
Peran Nucleus Menuju Gerakan Pondok
Nucleus, dalam penerapan ilmu biologi sering di sebut dengan inti sel. Tetapi dalam hal ini Prof. Dr. Seyyed Hossein Nasr, menuangkan pikirannya tentang realitas kaum intelektual di dalam dunia islam. Ia melihat, begitu sedikitnya intelektual muslim di berbagai Negara yang menguasi ilmu-ilmu agama dan sekaligus ilmu modern.
             Prof. Dr. Seyyed Hossein Nasr menyampaikan alternatif terbaik guna mengatasi keadaan ini, yaitu dengan menjadikan kalangan intelektual dengan spesifikasi khusus itu sebagai Nucleus yang di harapakan menjadi basis bagi pengembangan generasi intelektual selanjutnya. tentu saja Nucleus tersebut di harapkan dapat kemudian meregenerasi dan memproduksi jenisnya secara lebih banyak, secara berlipat ganda. Ibarat bibit gandum, para Nucleus ini jangan di jadikan roti dan di bawa ke pasar untuk di jadiakan barang konsumsi.
Dengan pernyataan Prof. Dr. Seyyed Hossein Nasr, maka perlu adanya perantara untuk mewujudkannya. Sehingga nucleus muncul dapat melalui gerakan pondok (pesantren). Terkait pondok mahasiswa, perlu kita napak tilas dari pemikiran Mohamad Djazman, tentang pembaharuan bidang organisasi dan pembinaan mahasiswa di Muhammadiyah. Secara sistematis melalui tiga tahapan yakni kristalisasi, konsolidasi dan kaderisasi. Bahwa pembaharuan yang di maksudkan akan membawa pada usaha untuk mengembangkan kader minded, dan membina tradisi mahasiswa dalam Muhammadiyah. Pembaharuan dapat menjadi kegiatan rutin, dimana kesempatan nalar akademik, spritual serta gerakan bisa di jadikan dalam satu wadah sehingga upaya kristalisasi pembaharuan muncul dari budaya pondok ini.

Pada akhirnya, jika kita menganggap bahwa revitalisasi mahasiswa itu sangat penting, maka hidup-hidupnya Nucleussebagai subyek pelaku sangat penting pula. Karena agenda pokok revitalisasi  dapat di selenggarakan secara sitematis melalui gerakan pondok sesuai dengan pandangan Drs.Mohammad Djazman tersebut. Sekiranya kita mampu 


Penulis Adalah M.S Amin   Ketua DPD IMM Jawa Tengah