Menggugat Kejumudan Gerakan; Sebuah Kegelisahan Kaum Muda Muhammadiyah

Alkisah suatu ketika ada seorang kyai namanya Mahrus Ali, beliau mantan
Kyai NU, walau para warga NU tidak percaya. Beliau menulis buku “Mantan
Kyai NU menggugat tahlilan”. Tidak lama kemudian teman-teman NU membuat
bantahan terhadap buku tersebut dengan menerbitkan buku yang sama.
Bahkan teman-teman NU mengundang Kyai Mahrus Ali untuk diajak diskusi,
ternyata Kyai Mahrus tidak datang. Yang datang Pak Muammal Hamidy yang
memberi kata pengantar, dan disana Pak Muammal Hamidiy yang juga aktifis
PWM Jatim dibully oleh kawan-kawan NU tanpa perlawanan yang berarti.

Beberapa waktu yang lalu seseorang yang bernama Ali Shodiqin membuat
buku berjudul “Muhammadiyah itu NU!”. Sayangnya jikalau NU begitu sigap
dalam soal pemikiran, sampai saat ini belum ada ustadz Muhammadiyah yang
membuat buku tandingan atau bantahan atas buku tersebut. Bahkan Pak Ali
Shodiqin masih tenang-tenang saja menyebarkan idenya, seolah-olah kita
membenarkan gagasan si penulis tersebut.

Untungnya ada segelintir
anak-anak muda Muhammadiyah yang sadar terhadap “ghazwul fikri” yang
coba dilakukan terhadap Muhammadiyah. Anak-anak muda ini menulis
bantahan-bantahan terhadap tulisan Ali Shodiqin tersebut di web lalu
dikumpulkan menjadi sebuah buku saku. Tentu ilmu mereka masih sangat
sedikit, hanya dengan bermodal ghirah mereka nekat masuk ke dalam perang
pemikiran, sebagai respon dikarenakan ustadz-ustadz Muhammadiyahnya
mungkin sedang sibuk mengurus amal-amal sosial.
Anak-anak muda
ini pun gelisah melihat kejumudan pergerakan Muhammadiyah dalam derasnya
arus informasi. Jikalau dahulu Muhammadiyah adalah pelopor maka
sekarang Muhammadiyah adalah pengekor. Dulu Muhammadiyah pelopor panti
asuhan Islam, pelopor sekolah Islam modern, pelopor rumah sakit Islam
dll. Sekarang orang lain sudah buat tv, Muhammadiyah baru buat tv. Orang
lain sudah buat radio, Muhammadiyah baru buat radio. Orang lain sudah
buat web, kita baru buat web. Dahulu pelopor sekarang pengekor.

Bahkan banyak hal-hal yang orang sudah mapan kita malah masih
terseok-seok. Misalnya soal penerbitan, di gerakan-gerakan revivalis
sangat mudah menemukan buku-buku terbitan mereka. Misalnya gema insani
pers, pustaka al kautsar, dll. Di NU pun sudah mulai muncul penerbit
yang mapan, misalkan LKIS. Bahkan syiah pun sudah punya banyak penerbit.
Penerbit Muhammadiyah yang saya tahu Suara Muhammadiyah dan Al Wasath
punya pak Faozan Amar, Sayangnya saya masih belum melihat
penerbit-penerbit Muhammadiyah dalam Book Fair yang rutin diadakan di
berbagai daerah. 

Tentu mudah bagi kita untuk berapologi, ah
lihat sekolah-sekolah Muhammadyah ada dimana-mana. Amal-amal sosial kita
dimana-mana.. Tanah wakaf kita dimana-mana dll. Kyai Dahlan juga gak
nyuruh kita menulis buku kok, yang penting membangun amal usaha. Jangan
terlalu menggarap bidang pemikiran, yang penting amal nyata.

Memang betul, Islam itu agama amal, bukan cuma pemikiran yang
mengawang-awang. Tapi coba bayangkan jikalau amal-amal usaha kita yang
jumlahnya ribuan itu melakukan aktifitasnya tanpa ruh kemuhammadiyahan.
Mereka bekerja ya sekedar cari nafkah saja. Kenapa ruh kemuhammadiyahan
hilang, karena jarang orang yang mau menulis tentang Muhammadiyah. Kita
kadung minder dengan harakah-harakah lain yang terlihat lebih “seksi”
dikarenakan menawarkan kesejukan spiritual. Kita kadung gak percaya diri
karena kita anggap Muhammadiyah itu identitas bawaan lahir, bukan
gerakan yang dihasilkan dalam renungan filosofis. 

Oleh karena
itu hendaknya upaya-upaya sebagian warga Muhammadiyah yang peduli
terhadap eksistensi Muhammadiyah melalui media jangan dianggap ancaman.
Namun harus selalu didukung, diberi masukan positif dan konstruktif
karena semuanya juga sama-sama sedang belajar.
Robby Karman
-Aktivis IMM Bogor-