Lulusan Perguruan Muhammadiyah Harus Menjadi Cendekiawan dan Agamawan

Semarang– Kelulusan bukan akhir dari sebuah perjuangan. Masih ada
perjuangan baru yang lebih berat dan syarat dengan tantangan. 
 
Yakni mengamalkan ilmu dan ajaran nilai- nilai Islam serta berpikir
sebagai intelektual muslim yang bermoral, agar hidup lebih bermanfaat.
Baik bermanfaat untuk diri sendiri maupun bermanfaat bagi kemaslahan
umat yang lebih banyak. 
Hal ini ditegaskan Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus),
Dr Djamaluddin Darwis MA pada pidato Wisuda ke-20 Unimus, tahun 2014,
di Convention Hall Hotel Patra Jasa, Semarang, Rabu (28/5).
Menurut Djamaluddin, KH Ahmad Dahlan telah berpesan ‘Dadiyo Kiai Sing
Kemajuan’. Pemahamannya para alumni yang pernah mengenyam pendidikan di
perguruan Muhammadiyah harus mampu menjadi cendekiawan sekaligus
agamawan yang teguh menjaga keimanan, amal shalih dan akhlakul karimah.
Sebagai lulusan yang siap terjun untuk mengabdi di tengah- tengah
masyarakat, para lulusan Unimus juga harus memiliki sikap yang selalu
ingin mencapai kemajuan, dinamis dan berwawasan luas.  
“Tidak jumud dan terelakang untuk beribadah (mengabdi kepada Allah) dan kepada umat dan bangsa Indonesia,” ungkapnya. 
Untuk itu, kata Djamaluddin, para wisudawan Unimus harus senantiasa
belajar, menempa diri melalui kurikulum dunia nyata yang ada dalam
kehidupan masyarakat, maupun jenjang pendidikan yang lebih tinggi,
seperti S2 dan S3. “Sehingga mampu membuka cakrawala baru,” tambahnya. 
Sementara itu, pada wisuda kali ini Unimus meluluskan 195 wisudawan.
Terdiri atas 169 wisudawan program sarjana, 26 wisudawan program
diploma, dari delapan fakultas dan 22 program studi. 

“Hingga wisuda ke-20 ini, Unimus telah meluluskan 5.392 orang sarjana
dan ahli madya, yang kini telah tersebar di tanah air dalam mengabdikan
ilmu dan ketrampilannya di tengah- tengah masyarakat,” tambahnya.[sp/rol]