LAZISMU: National Zakat Meeting 2014

Aspek penting dalam meningkatkan pelayanan Zakat, Infak, Shadaqah (ZIS) adalah bagaimana menjawab kebutuhan stakeholders bersamaan dengan tuntutan perubahan yang melingkupi aktivitas filantropi secara inovatif.
Untuk itu, kualitas informasi program
pemberdayaan dan penggalangan dana ZIS bagi LAZISMU didasarkan kepada sumber
data dan informasi yang tepat. Sampai saat ini, salah satu persoalan yang
dihadapi adalah terkait reinterpretasi tentang aspek kelembagaan pasca
disahkannya PP Nomor 14  Tahun  2014  tentang Pelaksanaan
Undang-Undang Pengelolaan Zakat. Sementara LAZISMU dan jejaring yang ada di
seluruh Indonesia berupaya berbenah dengan konsep dasar keunggulan (differensiasi) secara berjamaah. 
Di samping itu, dengan menguatnya
fenomena middle class yang didukung
oleh kemajuan teknologi informasi di satu sisi, dan munculnya kesadaran berbagi,
maka tuntutan atas ketersediaan informasi ZIS yang memadai mutlak dilakukan artinya
sumber-sumber informasi yang akurat itu, nanti mampu diintegrasikan LAZISMU dan
jejaring sehingga dapat diakses para pemangku kepentingan.
Untuk membuat irama yang senada, langkah
awal yang ditempuh adalah penyegaran (rebranding)
logo. Penajaman brand ini dilakukan secara berjamaah bersama jejaring, sehingga
ada komunikasi keluar yang harapannya mendapat tempat dan dukungan yang kuat
baik di kalangan masyarakat dan juga stakeholders.
Direktur Utama LAZISMU, M. Khoirul Muttaqin mengatakan transformasi sosial yang
kian ketat dan kompetitif, menuntut kami untuk memberikan sesuatu yang baru,
segar dan egaliter. Namun, secara substansi nilai-nilai filantropi dan
keberpihakan menjadi bagian dari kinerja-kinerja LAZISMU secara profesional.

Khoirul menambahkan langkah ini diputuskan, dengan mengingat keberadaan LAZISMU
yang tidak berdiri sendiri dan berada dalam lingkaran jejaringnya di dalam
Muhammadiyah. Dengan demikian penajaman brand, posisi dan identitas secara
kelembagaan telah memperhitungkan beberapa aspeknya yang saling memengaruhi,
paparnya.

Selain itu, Direktur Fundraising LAZISMU, Nanang Q. el-Ghazal mengutarakan
bahwa sasaran komunikasi awal ini yang dituju pertama kali adalah jejaring. Karena
ini merupakan pintu masuk utama dalam komunikasi agar dapat diterima khalayak.
Artinya bersama jejaring dan berjamaah LAZISMU memastikan langkah untuk tujuan
utama yaitu menyatukan visi dan misi, tandasnya. 

Spirit kebersamaan dan kesetaraan tetap menjadi salah satu strategi komunikasi,
hal ini selain mendorong potensi jejaring yang tumbuh dari bawah juga mampu
menjangkau suara-suara kelompok atau komunitas yang ingin berkontribusi dan
berbagi bersama LAZISMU. Hal ini, diakui Corporate
Secretary
, LAZISMU, Edi Surya bahwa terjalinnya komunikasi antar personal
dan kelembagaan sangat memengaruhi kegiatan secara kemitraan saat berada di
panggung filantropi.
Sementara itu, praktisi komunikasi
marketing, M. Arief Budiman mengatakan langkah rebranding yang dilakukan
LAZISMU, selain menyegarkan performance
juga memberikan pesan identitas visual (visual
identity
). “Hal ini bisa dilihat dalam_sistem grafis sebagai representasi
identitas yang dapat dikenali dari visual. Ke depan komunikasi visual ini akan
beradaptasi dengan berbagai media terkait peluang dan tantangannya dalam
berinteraksi dengan para komunikan filantropi,“ katanya.
Arief menambahkan tidak hanya berfungsi
sebagai identitas atau pembeda dengan orgasisasi atau lembaga lain, namun juga
untuk membangun awareness dan
membentuk citra positif sesuai yang dikehendaki. Selain itu, secara internal di
organisasi atau lembaga, identitas visual yang baik akan dapat memberikan
semangat dan kebanggaan bagi siapapun.
Karenanya, agar capaian komunikasi
berjalan lancar, menurut Marketing Komunikasi LAZISMU, Adi Rosadi, identitas
visual harus dapat dilakukan secara konsisten dan kontinyu. Untuk itu panduan
rebranding mutlak disusun dengan tujuan setiap penempatan logo dan elemen
pendukungnya dapat terlihat konsisten sehingga keluar pesan visual dari sebuah
identitas lembaga yang kuat berkarakter.
Satu lagi terkait rebranding LAZISMU,
yang perlu dikemukakan di sini adalah bagaimana pesan komunikasi pemberdayaan
itu mampu menyatukan subjek dan objek. Jika, dalam konsep fikih sedekah
diterangkan bahwa orang yang melakukan kebaikan walau hanya dengan sebutir
benih, maka Allah SWT akan melipatgandakan ganjaran bagi siapa saja yang
dikehendaki-Nya (QS. Al-Baqarah: 261).
Pesan al-Qur‘an ini sangat jelas bahwa
orang yang dimaksud bukan dalam konteks status sosial, namun yang terjadi
selama ini dalam praktiknya hanya orang-orang yang memiliki kelebihan harta.
Bukankah sedekah dikeluarkan oleh siapapun dalam rangka untuk beribadah.
Padahal salah satu tugas kaum muslimin adalah beramar maruf nahi munkar dan
berlomba-lomba dalam kebaikan. Dalam konteks filantropi, tujuan berbagi adalah
ingin memberdayakan atau mengangkat derajat orang yang ditolong untuk bangkit
agar dapat berdiri, tangguh dan mandiri melanjutkan tugasnya sebagai duta
Tuhan.
Oleh karena itu, cara pandang dan
kesadaran yang sudah tertanam sampai saat ini perlu diinovasi bahwa dalam
konteks berbagi mereka yang kelebihan harta sudah tidak lagi sebagai subjek
terhadap kaum dhuafa yang berada sebagai objek. Apabila terus terjadi mereka
akan tetap digelayuti situasi malas dan tangan dibawah sehingga sulit menjadi
orang yang tangannya siap di atas.
Hanya saja, proses transformasi tersebut
membutuhkan waktu yang lama dan kesabaran. Meski demikian, sebagai langkah
komunikasi, LAZISMU berupaya melakukan interaksi dengan pendekatan berjamaah.
Ibarat sebuah rantai, untuk mencari titik kekuatannya sudah barang tentu
mencari terlebih dahulu titik kelemahan rantai tersebut. Jika sudah ditemui,
maka sambungan rantai yang lemah itu dirubah dengan yang kuat agar saling
keterkaitan antar sambungan agar tetap kokoh.
Begitu juga
dengan mereka yang dhuafa, mengangkat mereka menjadi subjek adalah tugas kaum
muslimin semua. Terutama dalam konteks ZIS kelompok lemah ini perlu didukung,
difasilitasi dan dibantu dengan pendekatan humanis. Inilah tantangan kita
semua. Bukankah kekuatan spiritual akan semakin kuat jika dorongan yang
mengimpit menjadi daya gedor untuk bangkit, bangun dan menatap masa depan.
Mari kita
konfirmasi pesan komunikasi ini dengan QS. At Thaalaq: 7. Yang artinya “Dan
barang siapa yang sedang disempitkan rezekinya maka bersedekahlah dari harta
yang telah diberikan Allah kepadanya”. Di sini aspek pemberdayaan bisa berasal
dari tantangan yang menimpa kita. Hal ini patut kita syukuri bahwa persoalan
yang menimpa kita akan berbuah jalan keluar. Perlu dikomunikasikan kembali
bahwa hidup ini bukan pencetus segala masalah yang dihadapi manusia. Justeru
karena hidup inilah segala sesuatu pasti ada jalan keluarnya. Tanpa ujian dan
cobaan sulit bagi kita menemukan makna hidup yang sebenarnya. (LAZISMU)
Jakarta, 25 Mei
2014
LAZISMU
Informasi lebih lanjut:
Ketua Panitia Lokal:
0817447227 (Reinal)
Div. Media &
Publikasi: 08159830757 (Author)
Kantor Pusat:
Gd. Pusat Dakwah Muhammadiyah
Jl. Menteng Raya. No. 62 Jakarta Pusat
Telp: 021-31 50 400