Orang Bertaqwa Lebih Mulia Dari Orang Kafir

H. Risman Muchtar, S.Sos.I 
Anggota Majelis Tabligh PP. Muhammadiyah
زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا ۘ وَالَّذِينَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَاللَّـهُ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ ﴿٢١٢﴾
“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (Q.S. Al Baqarah [2] : 212)
Di antara indikator utama orang-orang kafir adalah pola hidup materialisme, fragmatisme dan hedonisme. Keberhasilan dalam pandangan mereka diukur dari kesuksesan seseorang dalam mengumpulkan harta benda, meraih pangkat dan jabatan serta berbagai fasilitas kemewahan hidup duniawi yang selalu mereka dambakan. Memang ada di antara manusia yang menjadikan kesuksesan duniawi itu sebagai tolok ukur kemuliaan dan kehinaan. Sebagaimana pernah disitir Allah dalam Surat Al-Fajr (89) : 15-16 yang artinya, “Maka ada di antara manusia, apabila Allah mengujinya dengan kemuliaan dan keluasan rezeki, maka dia berkata: “Tuhan-ku telah memuliakanku.” Dan ada di antara manusia, ketika Allah mengujinya dengan keterbatasan rezeki, dia berkata: “Tuhan-ku telah menghinakanku.”
Padahal kemuliaan dan kehinaan itu bukan terletak pada sedikit dan banyaknya harta benda yang dianugerahkan Allah kepada seseorang, akan tetapi bagaimana mereka mendapatkannya dan untuk apa harta tersebut dipergunakan. Tidaklah sebuah kemuliaan bila mereka mencintai harta benda dan berbagai kemewahan dunia dan menikmatinya secara berlebihan, sementara mereka tidak pernah memberikan kepedulian terhadap anak-anak yatim dan orang miskin (baca Q.S. Al Fajr [89] : 17-20).
Disadari atau tidak, banyak masyarakat yang terjebak kepada sikap hidup fragmatisme yang membuat mereka sangat permisif terhadap tindakan kejahatan yang merugikan kepentingan masyarakat, bangsa dan Negara, seperti tindakan kejahatan korupsi. Selain itu juga masyarakat tidak menunjukan permusuhan terhadap perilaku korupsi, apalagi ketika mereka juga turut menikmati hasil korupsi tersebut. Lebih buruk lagi adalah ketika korupsi dan berbagai tindakan kejahatan yang merusak kehidupan berbangsa dan bernegara itu dipandang sebagai hal biasa dan dianggap sebagai perbuatan tidak berdosa.
Terbukti, antara lain dengan maraknya praktek politik transaksional oleh partai-partai politik pada saat pemilu nasional dan pemilu untuk pemilihan kepala-kepala daerah, di mana para calon legislatif dan para calon kepala daerah tanpa segan-segan menghabiskan uang milyaran rupiah untuk membeli suara rakyat. Di sisi lain, ternyata masyarakat juga senang memberikan suaranya kepada partai atau calon pejabat tertentu yang sanggup memberikan uang suap politik yang lebih besar. Padahal yang namanya suap adalah risywah yang diharamkan oleh Allah Swt dan para pelakunya, baik yang menyuap maupun yang disuap akan dilaknat oleh Allah Swt, sebagaimana hadist Rasulullah Saw dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang menyuap dan yang menerima suap.” [H.R. Abu Daud No. Hadits 3580]
Biaya politik yang mahal pada gilirannya menjadi pemicu terjadinya korupsi karena mereka harus mengembalikan modal atau biaya politik yang telah dikeluarkan plus keuntungan dari investasi yang telah mereka tanam. Bagaimana tidak, ketika mereka mendapatkan jabatan menghabiskan milyaran rupiah dan jumlah itu tidak akan pernah terbayar kecuali dengan melakukan korupsi, dengan cara merampas hak-hak rakyat, manipulasi, mark up anggaran, broker proyek, jual beli undang-undang dan berbagai tindakan tidak terpuji lainnya, sekalipun mereka sadar bahwa perbuatan itu telah melanggar janji dan sumpah yang pernah mereka ikrarkan, dan lebih dari itu secara sadar juga mereka telah mengkhianati rakyat yang memilih mereka.
Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 212 di atas menjelaskan bahwa bagi orang-orang kafir,  kehidupan dunia dengan segala kemewahan dan kesenangannya adalah sesuatu yang indah dan bagi mereka dunia adalah segala-galanya. Paradigma kufur tersebut akan melahirkan pola pikir dan sikap hidup yang sangat permisif, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Bagi mereka harta benda, pangkat dan jabatan serta berbagai fasilitas dunia lainnya lebih berharga dari sebuah ideologi dan harga diri, keluarga dan persaudaraan, kekerabatan dan pertemanan. Untuk sebuah target yang ingin mereka capai, mereka tidak segan-segan mengorbankan ideologi dan harga dirinya, mengkhianati dan mencurangi saudara dan temannya, dan jika perlu juga mengorbankan anak dan isterinya.  Memang benar apa yang ditegaskan oleh Allah Swt dalam surah Al Anfal ayat 55-56, Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman. (Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya).”
Selain itu juga orang-orang yang  ketularan penyakit paradigma kufur memandang rendah dan hina terhadap orang-orang yang beriman, disebabkan orang-orang beriman dianggap bodoh karena tidak pandai memanfaatkan kesempatan. Kejujuran dan sikap amanah dipandang mereka sebagai sebuah kebodohan dan kerugian. Sebaliknya orang yang cerdas dan hebat dalam pandangan mereka adalah para pengkhianat dan pembohong yang pandai mencari keuntungan di atas kesulitan orang lain, bermewah-mewah di atas penderitaan orang lain, dan menumpuk kekayaan di tengah-tengah masyarakat dan rakyat yang dipimpinnya masih hidup dalam kelaparan dan kesengsaraan.
Padahal orang-orang yang bertaqwa lebih baik dari orang-orang kafir, karena mereka adalah orang-orang yang memiliki sifat dan sikap terpuji, seperti sikap istiqamah, memelihara aqidah dan keyakinannya, dan selalu berusaha menjaga harga dirinya dan martabatnya sebagai seorang muslim, dan senantiasa bersikap adil, jujur dan amanah. Orang-orang bertaqwa memiliki sifat wara’, yaitu tidak mau menyentuh sesuatu yang haram dan selalu berusaha menjauhkan dirinya dari segala sesuatu yang syubhat.
Bagi orang-orang yang bertaqwa, harta benda, pangkat dan jabatan serta berbagai fasilitas dunia bukanlah tujuan dari sebuah perjuangan, akan tetapi dipandang sebagai alat yang dipergunakan untuk mencapai tujuan perjuangan itu sendiri. Sedangkan tujuan perjuangan seorang muslim adalah untuk mendapatkan ridha Allah Swt, karena dengan ridha-Nya kebahagiaan dunia dan akhirat pasti akan tercapai. Dalam hal ini dapat disimak firman Allah Swt yang artinya, “Dan carilah olehmu bahagia akhirat dengan segala sesuatu yang telah diberikan Allah kepada-mu dan janganlah enngkau lupakan bahagianmu dalam kehidupan dunia….” (Q.S. Al Qashas  : 77)
Oleh karena itu, Allah mengingatkan kepada orang-orang beriman yang bertaqwa agar mereka tidak merasa rendah  diri dan terhina di depan orang-orang kafir, karena sesungguhnya mereka lebih mulia dan lebih tinggi karena keimanan yang mereka miliki, sebagaimana Allah berfirman yang artinya,“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Q.S. Ali ‘Imran : 139)
Allah Swt juga mengingatkan agar jangan sampai terpedaya dengan berbagai keberhasilan orang-orang kafir (baca: Q.S. Ali Imran : 196), karena belum tentu keberhasilan itu mereka peroleh dengan cara-cara yang benar baik dari segi kemanusiaan apalagi dari sudut pandang syariat agama. Kekayaan sebanyak apapun, pangkat dan jabatan sehebat dan setinggi apapun akan menyebabkan kehinaan di dunia dan kesengsaraan di akhirat nanti. Kemuliaan dan kehormatan yang mereka peroleh hanyalah kemuliaan dan kehormatan yang semu. Masyarakat menghormatinya karena tidak mengetahui kejahatan yang mereka lakukan, akan tetapi setelah masyarakat mengetahui siapa mereka yang sebenarnya, maka masyarakat akan menghina dan melecehkan mereka. Di hari akhir mereka juga akan dihinakan oleh Allah Swt karena kekufuran dan kemunafikan mereka. [tabligh.or.id]
Kesimpulan:
  1. Kemuliaan dan kehinaan itu bukan terletak pada sedikit dan banyaknya harta benda yang dianugerahkan Allah kepada seseorang, akan tetapi bagaimana mereka mendapatkannya dan untuk apa harta tersebut dipergunakan;
  2. Orang-orang yang bertaqwa lebih baik dari orang-orang kafir, karena mereka adalah orang-orang yang memiliki sifat dan sikap terpuji, seperti sikap istiqamah, memelihara aqidah dan keyakinannya, dan selalu berusaha menjaga harga dirinya dan martabatnya sebagai seorang muslim, dan senantiasa bersikap adil, jujur dan amanah;
  3. Bagi orang-orang yang bertaqwa, harta benda, pangkat dan jabatan serta berbagai fasilitas dunia bukanlah tujuan dari sebuah perjuangan, akan tetapi dipandang sebagai alat yang dipergunakan untuk mencapai tujuan perjuangan itu sendiri.