Mengapa Nabi Musa Paling Sering Disebut di Dalam Al Qur’an?

Pertanyaan ini tiba-tiba dilontarkan, mengapa? Ya, dan baru ku tahu juga bahwa memang demikian. Percaya? Kalau tidak, silakan dihitung sendiri… hehhe… atau lihat saja menggunakan Qur’an counter.:P
Langsung saja deh… Mengapa ya…ada yang tahu?
Jawabannya singkat,
“Karena Allah ingin kisah Musa menjadi pelecut semangat Rasulullah Muhammad Saw”
Ada banyak alasan mengapa demikian, akan kita bahas di sini.
“Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekauanku dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.” (Thaha:25-28)
Ini adalah doa Nabi Musa tatkala akan menghadapi Fir’aun. Musa bukanlah seorang Nabi yang fasih sebagaimana Nabi Muhammad. Sejarahnya entah seperti apa (mungkin ada yang tahu), sehingga menyebabkan lidahnya cacat, dan bicaranya kelu. Meskipun demikian kondisinya, Nabi Musa tetap berdakwah dengan segala keterbatasannya. Maka Allah ingin nabi Muhammad yang lebih fasih berbicara untuk lebih luar biasa lagi semangatnya dalam berdakwah.
Alasan yang kedua, bahwa ada perbedaan track record antara Nabi Musa dan Nabi Muhammad. Sejak lahir, nabi Muhammad sudah terjaga, nama baiknya, kepribadiannya, bahkan terkenal kejujurannya hingga mendapat gelar Al-Amin. Namun, Nabi Musa tidak begitu. Beliau pergi dari Mesir adalah karena telah membunuh seseorang. Maka sudah semestinya Nabi Muhammad lebih berhasil dalam mendakwahkan Islam kepada kaumnya, karena tidak ada riwayat keburukan atau dosa yang dilakukan Rasul.

“…. Dan kamu pernah membunuh seorang manusia[917], lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan; maka kamu tinggal beberapa tahun diantara penduduk Madyan[918], kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan[919] hai Musa,”
Yang dibunuh adalah seorang bangsa Qibti yang sedang berkelahi dengan seorang Bani Israil sebagaimana yang dikisahkan dalam Al Qashash 15.
Sekali lagi, bahwa kisah Nabi Musa dapat menjadi pelecut semangat Rasulullah. Mengapa? Alasan selanjutnya berdasarkan ayat berikut,

“Yaitu: “Letakkanlah ia (Musa) didalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku[916]; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku,” (Thaha:39)
Musa, sejak kecil (bayi) diasuh oleh Fir’aun -musuhnya dan musuh Allah-. Ada semacam perasaan hutang budi Musa kepada Fir’aun. Berbeda dengan Nabi Muhammad, yang tidak punya rasa hutang budi satu pun pada siapapun.
Alasan terakhir adalah bahwa dalam perjuangannya berdakwah, Nabi Muhammad ditemani oleh begitu banyak sahabat. Sahabat itu yang sedia menjawab setiap seruan dakwah termasuk qital, sahabat yang bahkan sedia menjadi tameng saat nabi terjebak lontaran panah musuh yang tiada henti menyerang. Sahabat yang rela berlapar dan berkorban dalam perjuangan perang demi perang. Dan banyak sekali yang dilakukan sahabat bersama sang Nabi.
Sebaliknya, Nabi Musa, dia hanya punya seorang sahabat bernama Harun. Bahkan, Musa lah yang memohon hal ini pada Allah, sebagaimana disebut dalam Surat Thaha 29-36.

“dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku. Teguhkanlah kekuatanku dengan (adanya) dia, dan jadikanlah dia teman dalam urusanku, agar kami banyak bertasbih kepada-Mu, dan banyak mengingat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Melihat (keadaan) kami” Dia (Allah) berfirman, “Sungguh, telah diperkenankan permintaanmu, wahai Musa!”
Nabi Muhammad kemudian mendapat banyak pengikut, bahkan hingga saat ini. Berbeda dengan Nabi Musa.

“Dia (Allah) berfirman, “Sungguh, Kami telah menguji kaummu setelah engkau tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri” Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Dia (Musa) berkata, “Wahai kaumku! Bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Apakah terlalu lama masa perjanjian itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan Tuhan menimpamu, mengapa kamu melanggar perjanjian dengan aku?” (Q.S Thaha 85-86)
Ya, umat Nabi Musa akhirnya menyembah patung sapi yang dibuat oleh Samiri. Hal itu karena mereka (kaum Musa) tidak sabar dengan tenggang waktu 40 malam yang telah diberikan Allah untuk menerima petunjuk (Taurat). Ini disebutkan juga dalam Al Baqarah 51. Nabi musa ditinggalkan oleh kaum yang sebelumnya menjadi pengikutnya dan telah diselamatkan Allah melalui terbelahnya lautan.
Mereka, kaum yang akhirnya membelot itu malah semakin terang-terangan tidak mengakui Allah dengan berkata pada Musa, “Wahai Musa, Kami tidak tahan dengan satu macam makanan saja, maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi seperti: sayur mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah” (Al Baqarah 61)
Perhatikan, bahwa kaumnya memakai kata “Tuhanmu”, bukan Tuhan kita. Artinya, memang mereka sudah tidak lagi mengakui tuhannya Musa, karena mereka membelot pada patung anak sapi yang tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak kuasa menolak mudharat maupun mendatangkan manfaat kepada mereka.
Inilah beberapa hal Rasulullah dapat jadikan pelecut dakwah beliau. Banyak cobaan dan ujian yang dialami oleh musa dalam berdakwah, bahkan akhirnya, kaumnya membelot. Namun, itu tak menghalangi semangat dakwah Nabi Musa.

Materi ini diambil dari tausyah yang disampaikan ust. Salim dalam acara cermin di universitas Indonesia