Meluruskan Sejarah Indonesia yang Dipelintir Kurikulum Sekuler

Intelektual Muslim yang juga dikenal penulis produktif, Dr Adian Husaini
kembali meluncurkan buku baru. Buku baru berjudul “Pendidikan Islam:
Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab” diluncurkan di Masjid
Darussalam Depok baru-baru ini.

Dalam buku barunya, Adian menjelaskan tentang mendesaknya kurikulum pendidikan di Indonesia
dibenahi. Ia menjelaskan hal-hal mendetail tentang beberapa aspek
dalam pendidikan Islam saat ini yang perlu dibenahi. Di antaranya aspek
kurikulum sejarah.

Menurut cendekiawan muda ini, kurikulum
sejarah Indonesia yang benar mesti diajarkan kepada murid-murid. Saat
ini kurikulum sejarah tidak menjadikan murid-murid Muslim Indonesia
bangga dengan sejarahnya.

Salah satu contoh yang mendapat
kritik Adian adalah sejarah tentang Pangeran Diponegoro. Dalam sejarah
yang banyak ditulis, Pangeran Diponegoro bukanlah berperang karena
penjajah, tetapi merebut tanah makam leluhurnya atau iri hati karena
tahta Mataram diserahkan kepada adiknya.

“Diponegoro
berperang dengan niat jihad melawan tentara Belanda yang menzalimi
rakyat dan menghalang-halangi pelaksanaan syariat Islam di Jawa. Saat
itu dalam menghadapi Belanda, Diponegoro dibantu 108 kiai , 31 haji, 15
syeikh, 12 penghulu Jogyakarta dan 4 kiai guru yang turut berperang
bersama Diponegoro,” ujarnya.

Karenanya, perang Diponegoro
menjadi perang yang sangat menyita keuangan pemerintah kolonial bahkan
hampir membangkrutkan negeri Belanda.

Korban perang Diponegoro mencapai orang 8.000 jiwa (korban orang Eropa), pihak Belanda 7.000 jiwa, biaya perang 20 juta gulden dan korban rakyat pribumi yang tidak sedikit.

“Total
orang Jawa yang meninggal, baik rakyat jelata maupun pengikut
Diponegoro 200.000 orang. Padahal total penduduk Hindia Belanda waktu
itu baru tujuh juta orang, separuh penduduk Yogyakarta terbunuh.”

Menurut
Adian dalam bukunya, sejarah adalah hal penting dalam kehidupan
manusia. Untuk melihat masa depannya, seseorang perlu memahami masa
lalunya.

Al-Quran banyak memuat berbagai cerita umat-umat
terdahulu. Dan umat Islam diminta bisa mengambil hikmah dari kisah-kisah
masa lalu, untuk menjadi bekal dalam menyongsong masa depannya.

“Maka,
jangan heran, jika setiap bangsa senantiasa merumuskan sejarah masa
lalunya. Sejarah juga sangat penting bagi kebangkitan suatu bangsa atau
peradaban. Muhammad Asad (Leopold Weiss) dalam bukunya, Islam at the Crossroads, menulis: “No civilization can prosper – or even exist, after having lost this pride and the connection with its own past…”
Menurut Adian, menyadari arti penting sejarah ini, maka kaum penjajah juga secara serius merekayasa sejarah Indonesia. Khususnya yang menyangkut peran Islam dalam sejarah Indonesia.

Pakar sejarah Melayu, Prof. Naquib al-Attas sudah lama
mengingatkan adanya upaya yang sistematis dari orientalis Belanda untuk
memperkecil peran Islam dalam sejarah Kepulauan Nusantara.

Dalam
bukunya, “Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu” yang diterbitkan
tahun 1990), Prof. Naquib al-Attas sudah menulis tentang masalah ini.

“Kecenderungan
ke arah memperkecil peranan Islam dalam sejarah Kepulauan ini, sudah
nyata pula, misalnya dalam tulisan-tulisan Snouck Hurgronje pada akhir abad
yang lalu. Kemudian hampir semua sarjana-sarjana yang menulis selepas
Hurgronje telah terpengaruh kesan pemikirannya yang meluas dan mendalam
di kalangan mereka, sehingga tidak mengherankan sekiranya pengaruh itu
masih berlaku sampai dewasa ini,” ujar Adian menirukan Al Attas.

Menurut
Adian, anak-anak kita sejak kecil dicekoki paham salah semacam ini.
Bahwa, Indonesia dulu mengalami kejayaan di masa Majapahit, yang hancur
karena diserang Islam. Jadi, Islam justru yang menghancurkan kejayaan
Indonesia. Karena itulah, untuk mengembalikan kejayaan Indonesia,
jangan membawa-bawa Islam, tetapi kembalikan kejayaan Majapahit dengan
mengadopsi nilai-nilai Hindu.

Inilah yang oleh M. Natsir sebagai
upaya nativisasi, yakni upaya penyingkiran Islam dari aspek
kemasyarakatan dan kenegaraan, dan mengembalikan Indonesia pada budaya
“asli” dan jatidiri manusia Indonesia yang menurut mereka bercorak
hindu, budha dan animis.[sp/zona-ris]