Kisah Politisi Zuhud, Ke Istana Memakai Sarung dan Baju Koko



Oleh : Nur Cholis Huda
Mengapa orang memilih terjun ke
dunia politik? Jawabannya bisa bermacam-macam. Karena panggilan jiwa, ingin
menegakkan demokrasi, berjuang untuk rakyat, dorongan ideologi dan sederet
jawaban lagi.

Namum penelitian wakil ketua DPR.
Pramono Anung, dalam disertasinya mengungkapkan hal berbeda. Motivasi utama
orang menjadi anggota DPR menurutnya didorong dua hal yaitu kekuasaan pollitik
dan kepentingan ekonomi. Maka menurut dia, Institusi legislatif akan melahirkan
kebijakan yang diarahkan secara politik dan ekonomi menguntungkan pribadi,
kelompok dan golongan.

Memang motivasi lain juga ada
misalnya ingin menegakkan demokrasi dan macam-macam lagi. Tetapi itu motivasi
lanjutn, bukan motivasi utama. Artinya kalau kekuasaan dan uang sudah di
tangan, barulah berpikir yang lain. Kalau belum tercapai harus dikejar dulu
motivasi utma itu.

Maka penelitian Anung itu seakan
membenakan pernyataan mantan anggota DPRD Surabaya, M.Basuki, “Kalau ingin kaya
jadilah politisi”. Artinya menjadi politisi itu jalur cepat menuju kaya.
Mungkin juga jalur cepat menuju penjara kalau nasib lagi sial. Terbukti
laki-laki atau perempuan sama saja, masuk penjara. Kata ‘berjuang’ telah
berubah makna menjadi BERas, baJU, dan uANG, karena itu terasa aneh kalau
meminta politisi berlaku lurus-lurus saja.

Sedemikian jelekkan dunia
politik? Tidak! Pernah ada suau masa di negeri ini dunia politik menjadi dunia
terhormat dan anggun. Para politisi muslim saat itu adalah orang-orang yang “sufi”,
berorientasi hidup untuk Tuhan. Mereka zuhud, tidak rakus harta, bersih dari
korupsi karena sanggup hidup dalam kesederhanaan Mereka memiliki integritas
tinggi dan punya kehormatan diri.

Politisi yang zuhud itu
setidaknya bisa di lihat pada orang-orang Masyumi. Hati rasa bergetar tiap kali
membaca perjalanan hidup mereka. Mereka terpelajar, cerdas, teguh pendirian,
tidak rakus harta dan pemeluk agama yang teguh. Ambil contoh kesederhaaan
Prabowo Mangkusasmito, orang Muhammadiyah yang menjadi ketua umum Masyumi
terakhir. Beliau bersama tokoh PSI suatu hari diundang Bung Karno ke istana.

Yang menarik, dia datang ke
istana memakai baju koko dan sarung. Sebelum berangkat anaknya diminta menisik
baju kokonya yangberlubang. Dia yang mantan wakil  perdana menteri kabinet Wilopo, anggota
Komite Nasional Indonesia Pusat, sarjana hukum lulusan Belanda dan ketua umum
partai besar tidak rendah diri memakai baju koko tisikan.

Tentang sarung, Bung Karno yang
flamboyan (perlente) memang kurang suka, Bung Karno pernah menegur Ki Bagus
Hadikusumo. “Ki Bagus karena Indonesia sudah merdeka, sebaiknyalah tuan tidak
selalu memakai sarung, pakailah pantalon” tegur Bung Karno.

Ki Bagus menjawab, “Lha ya to bung, sebelum tahun 194 di daerah mana di
Indonesia ada orang berpantalon yang berani melawan dan memberontak Belanda? Hanya
orang yang memakai basahan (jubah seperti Diponegoro) dan orang yang sarungan
yang berani melawan” kata Ki Bagus.


Dunia kepartaian sekarang sudah
jauh berubah. Semakin memerlukan biaya tinggi, tetapi anehnya tingkat
kehormatan cenderung terus turun.. Kita tidak minta para politisi memakai baju
tisikan seperi Prawoto, atau baju dengan bekas tinta di saku seperi Moh.
Natsir. Tetapi cukuplah semangat zuhud yang diwarisi. Kita sungguh rindu pada
wakil rakyat yang cerdas sekaligus lurus. Berpandangan kedepan tidak serakah. Tidak
abdul fulus (hamba uang), dan abdul kursi (gila kedudukan). Disertasi itu
Pramono Anung itu agaknya telah menjadi kenyataan.

Tetapi sekarang menjadi politisi
zuhud tidak lagi mudah karena semua harus dengan uang. Sosialisasi diri perlu
uang. Menyapa masyarakat bisa mudah jika ada uang. “Sedekah politik” menjelang
coblosan juga butuh uang. Saksi di TPS butuh uang. Bagaimana harus zuhud kalau
ingin mengembalikan modal besar itu?
Kita yang awam tidak tahu cara
mengurai benang ruwet ini. Semua berasal dari partai dan politisi sendiri sejak
Orde Baru. Kau yang memulai dan kau yang harus mengakhiri. Jangan salahkan
rakyat. Pepatah mengatakan: Ikan busuk dimulai dari kepala. Artinya bukan dari
ekor, bukan dari bawah melainkan dari atas.
Dunia politik sangat menentukan
masa depan kita. Sedih kalau didominasi iklim, “Wani Piro”. Ingin politisi
zuhud? Ah, terasa bagaikan pungguk merindukan bulan. Entah sampai kapan.
Sumber: Majalah Matan. Edisi 93, April 2014