Teladan Al-Mubarak : Jujur dan Amanah

Siapa yang tidak kenal dengan Abdullah ibnul Mubarak? Beliau adalah seorang yang alim dan zuhud. Beliau juga pakar hadis sekaligus mujahid. Banyak orang mengenal ketokohan beliau. Tapi siapakah ayah beliau? Tidak banyak orang yang mengenalnya.
Abdullah ibnul Mubarak adalah anak dari Al-Mubarak; seorang yang dikenal dengan kejujurannya. Dikisahkan bahwa Al-Mubarak pernah bekerja di sebuah kebun milik seorang majikan.
Suatu ketika majikannya datang padanya dan mengatakan, “Hai Mubarak, aku ingin satu buah delima yang manis, tolong ambilkan.” Mubarak pun bergegas menuju salah satu pohon dan mengambilkan delima. Majikan tadi lantas memecahnya, ternyata yang ia dapati buah delima yang diambilkan Mubarak belum begitu matang dan rasanya pun masih masam.
Dia pun marah kepada Mubarak sambil mengatakan, “Aku minta buah yang manis malah kau beri yang masih masam. Cepat ambilkan yang manis.” Mubarak pun beranjak dan memetik dari pohon yang lain. Setelah dipecah oleh sang majikan, didapati rasanya sama, masih masam. Majikannya bertambah marah lagi, dan kejadian ini berlangsung sampai buah delima yang ketiga.
Sang majikan lalu bertanya, “Kamu ini pegawai macam apa. Apa kamu tidak tahu mana delima yang manis dan yang masih masam?!”
Mubarak menjawab, “Tidak.” “Kenapa engkau tidak mengetahuinya,” tanya majikan.
“Sebab selama aku di sini aku tidak pernah makan buah dari kebun ini,” kata Mubarak.
“Kenapa engkau tidak mencobanya,” tanya majikan lagi. “Karena Anda belum mengizinkan aku makan buah delima dari kebun ini. Dan aku tidak akan memakan makanan hingga aku mengetahui kehalalannya yaitu dengan ijinmu,” Jawab Mubarak.

Pemilik kebun itu heran dengan jawaban itu, tatkala ia tahu akan kejujuran dan kehati-hatian pegawainya itu. Mubarak amat mulia dalam pandangan matanya dan bertambah pula nilai Mubarak di sisi sang majikan.
Buah Kejujuran
Kebetulan majikan pemilik kebun mempunyai seorang anak perempuan yang banyak dilamar oleh orang. Majikan itu bingung untuk menentapkan siapa yang akan diangkatnya menjadi menantu. Akhirnya dia bertanya kepada Al-Mubarak, “Wahai Mubarak, menurutmu siapa yang layak memperistri putriku ini.”
Al-Mubarak menjawab, “Dulu orang jahiliyah menikahkan putri mereka atas dasar keturunan, orang Yahudi menikahkan kerana harta, sementara orang Nasrani menikahkan kerana keelokan paras. Dan Umat Islam menikahkan kerana agama, maka sebaiknya anda mencarikan dia suami yang agamanya baik.”
Sang majikan kembali dibuat takjub dengan jawaban Mubarak ini. Akhirnya majikan tadi pergi dan memberitahu istrinya, katanya, “Menurutku, tidak ada yang lebih layak untuk putri kita selain Mubarak .”

Akhirnya, Al-Mubarak menikah dengan anak gadis majikannya. Dari pasangan yang mulia ini lahirlah seorang yang mulia: Abdullah ibnul Mubarak. Semoga kita dapat mencontoh sikap jujur dan kehati-hatian Mubarak ini. [mrh/ Majalah Tabligh]