Telaah Kritis Atas : Buku Panduan Kritis “AL-ISLAM & KEMUHAMMADIYAHAN BERWAWASAN HAM”

Bagian Ke-1 : Menakar Ulang Sudut Pandang Kita

Telaah Kritis Atas :

BUKU PANDUAN GURU
“AL-ISLAM & KEMUHAMMADIYAHAN BERWAWASAN HAM”
(Universal Declaration of Human Right, 10 Desember 1948)
Fathurrahman Kamal
http://www.imania.web.id/

Pada awal Nopember lalu, sahabat saya
Ustadz Adian Husaini, bercerita tentang pengajian warga Muhammadiyah,
yang kebetulan, beliau menjadi nara sumbernya. Seorang jama’ah pengajian
menyodorkan buku bertajuk “Al-Islam & Kemuhammadiyahan Berwawasan
HAM” yang diterbitkan oleh Ma’arif Institute dengan sokongan dana dari New Zealand Agency for International Development, seperti
penjelasan Fajar Riza Ulhaq, direktur program penyusunan buku panduan
mata pelajaran AIK bagi para guru di lingkungan pendidikan menengah
Muhammadiyah. Alhamdulillah, tak lama kemudian saya mendapatkan satu naskah copian buku tersebut.
Suara Muhammadiyah No. 23/TH. Ke-93/1-15
Desember 2008 pada rubrik Telaah Pustaka, memuat resensi AIK Berwawasan
HAM bertajuk “Wawasan HAM Dalam Al-Islam dan Kemuhammadiyahan”. Resensi
tersebut ditulis oleh Farid Setiawan, peneliti di Lentera Research Institute Yogyakarta
Farid Setiawan menulis demikian,
“Di era sekarang, HAM dan Islam sudah tidak perlu diperdebatkan lagi. Ini
tidak dimaknai bahwa posisi HAM berada di atas Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Akan tetapi, hal itu lebih dititik-beratkan pada upaya penggalian
kembali terhadap khasanah Islam. Dalam konteks ini, para cendikiawan
muslim sudah selayaknya melakukan “adaptasi” dan bahkan “integrasi”
terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern yang dilandasi oleh
spiritualitas agama. Di sinilah posisi HAM menjadi elemen penting bagi
kehidupan masyarakat Muslim modern, khususnya dalam dunia pendidikan.”
“Berangkat dari upaya penggalian
khasanah Islam yang disertai dengan keprihatinan teramat mendalam akan
tindakan-tindakan tidak manusiawi di zaman modern, buku Al-Islam dan
ke-Muhammadiyahan (AIK) berwawasan Hak Asasi Manusia ini hadir…”
“Karenanya, buku ini menjadi layak untuk dipelajari oleh semua pihak, tak terkecuali, para stake-holder pendidikan Muhammadiyah.
“Ada sebuah harapan yang sangat obsesif
ketika buku ini diperkenalkan dan dipelajari oleh peserta didik. Upaya
pengenalan akan HAM terhadap peserta didik tentunya dapat mengeliminasi
munculnya para “preman berseragam”, yang pada kurun waktu terakhir ini
mulai mendominasi”.[1]
Namun anehnya, pada bagian akhir
resensinya, Farid mengekspresikan sikapnya yang ambivalen dan paradoks
dengan segala pujian dan harapan obsesifnya yang tertulis dan terbaca di
atas. Dengan nada bimbang ia menulis sebagai berikut :
“Sebaliknya, saya kurang sependapat
jikalau buku ini benar-benar dipaksakan sebagai buku pegangan wajib
siswa maupun guru di sekolah Muhammadiyah se Indonesia. Karena, dalam
dunia yang sangat pluralis, sebagaimana terjadi sekarang, adalah penting
untuk dicatat, bahwa susah memaksakan satu standar paradigma atau worldview,  di
mana paradigma itu mengklaim orang lain salah dan harus berubah
mengikuti paradigma HAM. Pun juga demikian, apabila materi pokok AIK
cenderung dipaksakan dalam perspektif HAM, tentu saja pemahaman peserta
didik akan AIK menjadi terlalu sempit. Masih banyak perspektif lain yang
perlu disampaikan melalui AIK…”[2]
Tulisan resensi di atas, secara sederhana, menggambarkan sedikitnya tiga hal; pertama, sikap ‘gamang’ dan ‘bingung’  bagaimana seharusnya mendudukkan Al-Qur’an dan Sunnah secara operasional dalam keseharian kita; kedua, keresahan
akan tindak kekerasan atas nama agama yang “selalu” dan “hanya” 
dialamatkan kepada umat Islam berikut stigma negatifnya yang khas
“preman berseragam”. Ada juga yang melabelnya dengan sebutan “preman
berjubah”; ketiga, idealisasi Duham sebagai paradigma penafsiran atas Al-Qur’an dan Sunnah. Dengan demikian, konsep hak asasi manusia ala
Duham yang menafikan relasi transenden manusia dengan Allah s.w.t.,
antroposentris dan sekaligus dualis itu menjadi standar nilai bagi
aplikasi Islam dan Kemuhammadiyahan.
Mencermati tiga catatan di atas, dalam hemat pendapat penulis, kita berkewajiban untuk merefresh kembali struktur aqliyah, ruhiyah dan jasadiyah ke-Islaman dan ke-muhammadiyahan kita, khususnya tentang pandangan hidup. Sekali lagi, Pandangan hidup atau worldview kita (al-tashawwur al-Islami)
meniscayakan wahyu(Al-Qur’an dan Sunnah) sebagai dasar perspektif dan
cara pandang. Sepadan dengan penjelasan Dr. Haedar Nashir, “Muhammadiyah
sebagai Gerakan Islam dan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar, berasas Islam, dan bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi s.a.w., menjadikan ajaran Islam itu sebagai Way of Life bagi kehidupan segenap warga Muhammadiyah sebagaimana tercermin dalam keseluruhan pemikiran Islam dalam Muhammadiyah.”[3]
Penjelasan inilah yang semestinya menjadi spirit dan pedoman kita dalam
menerima atau menolak segala sesuatu yang belum sepenuhnya disepakati
dalam Persyarikatan Muhammadiyah. Tidak apriori menerima ataupun apriori menolak.
Berbeda dengan buku AIK Berwawasan HAM
tersebut. Islam dan Sunnah, atau lebih khusus lagi semacam
Kemuhammadiyahan, Pedoman Hidup Islami, Matan Keyakinan dan Cita-cita
Hidup Muhammadiyah yang menjadi rujukan otentik manhaj dakwah
Muhammadiyah, tidak lagi menjadi perspektif dan cara pandang. Tetapi
semuanya ditundukkan dan diletakkan dibawah ‘mikroskop’ bernama Hak
Asasi Manusia versi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM 1948).
Lugasnya, Islam (Al-Qur’an dan Sunnah) dan Muhammadiyah dikungkung dalam
teropong dan perspektif HAM. Implikasinya jelas, apapun pemaknaan
terhadap Islam dan Muhammadiyah beserta seluruh sistem nilai dan
ajarannya harus diselaraskan dengan pasal-pasal deklarasi tersebut yang
sejak kemunculannya hingga kini masih problematis dan menyisakan
sejumlah perkara substantif dan prinsip dalam agama.
Mungkin ada banyak tawaran yang lebih menggiurkan secara pragmatis, tapi Al-Qur’an bertutur demikian :
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي
مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ
بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan
ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu
mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai
beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar
kamu bertakwa.”
(Al-An’am : 153)
Lagi pula, sebagai manusia beriman kita
wajib mawas diri sekaligus khawatir dengan keterangan dan tuntunan ayat
lain terbaca di bawah ini. Mungkin pengembaraan intelektualitas tak
terbendung. Akal beranjak ke tangga langit pengetahuan tak lagi
tertahankan. Sokongan dan pujian sosial tak lagi tertakar. Tapi, sekali
lagi, apalah makna hidup bertabur mutiara, pujian dan kilauan lentera
dunia, sementara di akherat, sudah buta tak menatap, dicuekin pula?! Ah, terlalu gambling dan spekulatif!
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ
ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
أَعْمَى. قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا.
قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آَيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ
تُنْسَى.
“Dan Barangsiapa berpaling dari
peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan
Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta.
Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam
Keadaan buta, Padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?. Allah
berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, Maka kamu
melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan.”
(Thaha : 124-126)
Jika kita tak mampu menundukkan segala
kepentingan pragmatis kehidupan dalam berbagai konteks; pemikiran,
sosial, politik, budaya, adat-istiadat  dan seterusnya dibawah tuntunan
Al-Qur’an dan Sunnah maka, dalam pandangan KH Ahmad Dahlan rahimahullah,
kita telah tertawan oleh hawa nafsu, bahkan kita telah
mempertuhankannya. Memaknai ayat 36 surat al-Jatsiyah, beliau berkata
demikian,
“Kita dilarang untuk menghambakan diri
kepada siapapun atau benda apapun jua, kecuali kepada Allah SWT. Orang
yang menghambakan diri kepada hawa nafsunya, mengerjakan apa saja yang
menjadi dorongan hawa nafsunya dapat dikategorikan sebagai musyrik. Kaum musyrikin menyembah berhala karena taqlid buta
kepada orang tua dan nenek moyang mereka. Ini bermakna mereka menjadi
hamba dari hawa nafsunya, patuh mengikuti perilaku kebiasaan yang
menyimpang dalam lingkungan dan masyarakat mereka.”
“Siapa saja yang tunduk/taat dan berbuat
mengikuti kebiasaan yang bertentangan dengan hukum Allah SWT juga dapat
disebut sebagai penyembah hawa nafsu. Karena jelas, kita tidak
diperbolehkan secara syar’iy  untuk mencintai siapapun jua di atas cinta kasih kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.”
“Berhala hawa nafsu merupakan pokok
berhala yang menyesatkan. Pengaruhnya sedemikian kuat dan merajalela.
Hawa nafsu mematikan kemampuan dan potensi manusia untuk membedakan
antara al-Haqq dan al-Bathil. Bahkan manusia bertabiat
sebagai hewan karena terjajah oleh hawa nafsu tersebut. Dalam pemenuhan
cinta terhadap hawa nafsunya, manusia seringkali lupa akan akibat dan
malapetaka yang ditimbulkannya, lupa akan akibat-akibat buruknya.
Manusia berbuat semaunya, mengabaikan tatanan etis dan moral. Inilah
yang kemudian melahirkan kekacauan, kerusakan dan kerugian kepada
dirinya sendiri, masyarakat dan negaranya.”[4]
[1] Suara Muhammadiyah No. 23/TH. Ke-93/1-15 Desember 2008, hal. 43 (paragraf  ke-1)
[2] Ibid. (paragraf ke-10)
[3] Haedar Nashir, Ideologi Gerakan Muhammadiyah (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2001), Cet. Pertama, hal. 96
[4]  KRH Hadjid, “Muqaddimah” dalam Budi Setiawan dan Arief Budiman Ch. [Peny.] Pelajaran KHA Dahlan : 7 Falsafah Ajaran dan 17 Kelompok Ayat Al-Qur’an [Yogyakarta: LPI PPM, 2006], Cet. Ke-2, hal.  45-47