Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah ( Merujuk Al Quran dan Sunnah Makbullah )

Trilogi Fiqih Muhammadiyah ( session 2 )

Dalam tulisan ini kami akan sampaikan hasil
wawancara dengan Ketua Majelis Tarjih Tajdid PP Muhammadiyah Prof Dr H
Syamsul Anwar, MA. yang telah dimuat di Majalah Suara Muhammadiyah Edisi
05 Maret 2014.
Bagi muhammadiyah perubahan perubahan keputusan
keputusan yang lain adalah hal yang biasa, termasuk dalam hal fiqih ,
asalkan berkesesuaian dengan sumber utamanya Alquran dan Sunnah
Makbullah. Dalam ibadah mahda harus sesuai dengan apa yang dilakukan
Rasulullah (pemurnian). Dan diluar ibadah mahdah dalam rangka dinamisasi
masyarakat awam, hal ini sering dipertanyakan. Kenapa demikian? Kenapa
ini berbeda dengan yang dahulu?
Untuk lebih jauh mengetahui
tentang fiqih muhammadiyah tersebut, lutfi effendi dari suara
muhammadiyah ketua majelis tarjih dan tajdid PP Muhammadiyah Prof Dr H
Syamsul Anwar, MA. Berikut ini sejumlah penjelasan tentang fiqih
Muhammadiyah:
Ada yang mempertanyakan, kenapa fiqih Muhammadiyah
sekarang ini berbeda dengan fiqih era KH Ahmad Dahlan. Dulu KH Ahmad
Dahlan shalat terawih 20 rakaat, kini 8 rakaat, dulu KH Ahmad Dahlan
shalat shubuh pakai qunut, kini tidak, apakah ini berarti sudah
melenceng dari ajaran KH Ahmad Dahlan?
Yang perlu dicatat, bahwa
fiqih Muhammadiyah sebagaiman fiqih pada umumnya. Itu yang paling
pokoknya. Tetapi seperti halnya fiqih-fiqih yang ada. Tentu ada
perbedaan di sana sini dengan fiqih yang lain. Fiqih Muhammadiyah itu
sesuai dengan identitas Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid. Maka dari
zaman ke zaman selalu berupaya melakukan tajdid. Karenanya bias saja
kajian saat ini berbeda dengan kajian sebelumnya. Apa yang dicapai oleh
generasi yang lalu, bias saja diubah oleh generasi berikutnya tentu saja
dengan kajian yang lebih dapat di pertanggung jawabkan keabsahan alas
an atau dalilnya.
Muhammadiyah dalam hal fiqih tidak merujuk pada
seseorang, tetapi murujuk pada dalil-dalil dalam Alquran dan Sunnah
Makbullah. Muhammadiyah itu akan terus menerus melakukan kajian, baik
itu di bidang ibadah khusus dan akidah ataupun dibidang ibadah social.
Karenanya, ketika suatu fiqih telah ditetapkan bias saja di kemudian
hari dapat berubah ketika menemukan dalil-dalil yang lebih dapat
diterima. Apalagi jika fiqih tersebut belum merupakan keputusan
persyarikatan dan masih berupa ajaran ajaran ulama pada saat itu, tentu
akan lebih mungkin berubah ajaran tersebut ketika dalam kajian
Muhammadiyah menemukan dalil yang lebih tepat dan berbeda dengan ajaran
yang selama ini telah berlaku. 
Apa yang dilakukan Muhammadiyah ini,
tidak bertentangan dengan ajaran KH Ahmad Dahlan yang juga sudah menjadi
identitas Muhammadiyah yaitu ajaran tajdid ini, Muhammadiyah membagi
dua bagian atau dengan kata lain tajdid itu mempunyai dua makna Tajdid
di bidang ibadah Mahdah atau ibadah Khusus dan juga dalam Aqidah,
Muhammadiyah memilih ibadah sebagaimana yang dilakukan dan diajarkan
Rasulullah melalui AL-Quran dan Sunnah Makbullah. Langkah ini biasa
disebut pemurnian. Sedangkan tajdid dibidang muamalah atau kehidupan
social, ini lebih bebas dilakukan. Tajdid dibidang ini kita kenal
sebagai dinamisasi kehidupan social kemasyarakatan umat, dan
Muhammadiyah sebetulnya pada awalnya lebih dikenal dalam gerakan
pembaruaan dibidang social ini.
Jadi selama ini yang dilakukan KH
Ahmad Dahlan masih terfokus pada tajdid dibidang social disbanding
tajdid dibidang ibadah Mahdlah?
Gerakan tajdid yang dilakukan
oleh KH Ahmad Dahlan pada saat itu memang lebih terfokus kepada gerakan
tajdid dibidang sosial. Gerakan tajdid ini utamanya dibidang pendidikan
yang menyita waktu tersendiri bagi KH Ahmad Dahlan, karena ia harus
meletakan dasar-dasarsendiri bersama para pengurus Muhammadiyah pada
waktu itu. Yang kesemua gerakannya langsung ditangani Pimpinan pusat.
Demikian pula dengan gerakan social yang lain, seperti penyantunan anak
yatim dan fakir miskin, masih dilakukan dengan tenaga dan dana yang
terbatas.
Karena waktu tenaga dan dana yang terfokus pada
bidang-bidang social ini, maka KH Ahmad Dahlan belum sempat melakukan
kajian-kajian dibidang ibadah Mahdlah ini. Sehingga apa yang dilakukan
kiai masih seperti yang diajarkan atau diterima dari ulama-ulama
pendahulunya. Karena memang kajian seperti ini banyak menyita waktu.
Kajian-kajian fiqih di bidang ibadah khusus mulai dilakukan ketika
tajdid dibidang social sudah mulai tertata. Ide pendirian Majelis Tarjih
yang bertugas mengkaji dalam bidang ini muncul tahun 1927 dan b aru
terbentuk kepengurusan tahun 1928 yang diketuai oleh KH Mas Mansur.
Sejak itu, kajian-kajian yang dilakukan lebih intensif.
Apakah
yang dilakukan KH. Ahmad Dahlan dalam meluruskan kiblat shalat dan yang
terakhir dalam era Muhammadiyah saat ini dalam penetapan awal bulan itu
bukan ibadah mahdlah sehingga ada perbedaan dengan yang lainnya?
Shalat menghadap kiblat itu merupakan ketentuan syar’I untuk
melaksanakan shalat sebagai ibadah mahdlah. Tetapi cara penentuan arah
kiblatnya bukanlah termasuk ibadah mahdlah. Maka cara penentuan arah
kiblat itu di dalam muhammadiyah termasuk dinamisasi kehidupan
masyarakat. Caranya bias berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pada
waktu itu.
Demikian pula cara penentuan awal bulan. Awal
bulannya, merupakan syarat syar’I untuk melaksanakan ibadah puasa
Ramadhan atau shalat Id Fitri(termasuk ibadah madlah),tetapi penentuan
awal bulannya termasuk kategori dinamisasi kehidupan masyarakat. Caranya
bisa berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pada waktu itu.
Apakah setelah dilakukan kajian-kajian oleh muhammadiyah secara khusus
tentang fiqih ini menghasilkan hanya satu keputusan tentang sesuatu?

Di Muhammadiyah ini ada prinsi[ tanawuh fil ibadah atau keberagaman
dalam beribadah. Tanawwuh itu artinya pluaritas sepanjang ada contoh
dari Rasulullah Muhammad SAW, meski kadang juga ada yang satu keputusan
organisasi. Misalnya tentang shalat terawih, keputusan organisasi
hanyalah satu yaitu 8 rakaat. Sedangkan pelaksanaannya dilakukan secara
tanawwuh (pluaritas) sebagaimana contoh Rasulullah, boleh dua-dua atau
empat-empat .contoh lain dalam doa iftitah didalam sholat juga ada
beberapa pilihan, Allahumma ba’id atau wajahtu. Itulah pluralitas dalam
ibadah, asal ada dasar dari sunnah Rasulullah yang makbullah bisa
diterima dan di jalankan sesuai pilihan.
Bahkan karena
Muhammadiyah terus menerus melakukan kajian, maka shalat Trawih yang
empat rakaat itu juga menimbuilkan pertanyaan, apakah ada tasyahud awal
seperti pada shalat wajib empat rakaat atau tidak. Kajian-kajian semacam
ini biasa dilakukan Muhammadiyah untuk mencari kesesuaian atau paling
sesuai dengan ibadah yang dilakukan Rasulullah/ seperti dalam hal shalat
tarawih 8 rakaat, 20 rakaat, 36 rakaat dan 40 rakaat mana yang sesuai.
Ternyata setelah dilakukan kajian secara terus menerus, tidak pernah
satu kali pun Rasulullah SAW melakukan shalat tarawih lebih dari 8
rakaat. Demikian pula yang dilakukan para sahabat, bahkan termasuk yang
dilakukan Umar bin Khattab tetap 8 rakaat. Tetapi memang Khalifah Umar
bin Khatab pernah melakukan penyatuan shalat dalam satu masjid yang
tadinya dilakukan secara spordis. Namun demikian rakaatnya tetap 8
rakaat, tidak ditambah-tambah, hanya saja di dalam kajian tentang
pelaksanaanya ada beberapa variasi, oleh karena itu Muhammadiyah
menetapkan rakaat tarawih 8 rakaat dan pelaksanaannya bisa dilakukan
secara tanawwuh( dimungkinkan berbeda antara satu dengan yang lain)
dua-dua atau empat empat.

Trilogi Fiqih Muhammadiyah
session 1 : Fiqih Ahmad Dahlan dan Majelis Tarjih
session 2 : http://www.sangpencerah.id/2014/03/tarjih-dan-tajdid-muhammadiyah-merujuk.html