Spirit Surat Al Maun : Islam dan Kepedulian Sosial

Muhammadiyah menjadi pelopor gerakan filantropi atau pembelaan terhadap kaum mustad’afin di Indonesia, sebuah entitas yang tetap menjadi ruh perjalanan gerakan sepanjang massa.

Tahukah Kamu orang yang mendustakan agama?
Mereka itu yang menghardik anak yatim
Dan tidak menyuruh memberi makan orang miskin
Maka celakalah bagi orang yang shalat
Yaitu orang yang lalai dalam shalatnya
Dan orang-orang yang riya’
Dan orang-orang yang enggan menolong dengan barang berguna
Alkisah, KH. Ahmad Dahlan sedang yang memberikan pengajian kepada
para muridnya. Materi pengajiannya, sudah beberapa bulan membahas surat yang
sama yaitu Al-Maun.  Sampai pada suatu
hari, salah seorang murid bertanya kepada kyai itu, “Pak Kyai, pengajiannya kok
membahas Al Maun terus, kapan mengaji surat lain?” Lantas kyai itu pun balik
bertanya, “Sudahkah kamu mengamalkan surat ini?” Si murid menjawab,”sudah kyai,
saya sudah menggunakan surat ini dalam shalat saya, dan suka dibaca
berulang-ulang di rumah”. “Bukan begitu..” kata sang kyai. “Sudahkah kamu
mengamalkan kandungan surat ini? Sudahkah kamu peduli pada anak yatim di
sekitarmu? Sudahkah kamu memberi santunan terhadap orang miskin di sekitarmu?
Kalau belum, berarti kamu belum benar-benar mengamalkan surat ini.” Akhirnya,
setelah itu, sang kyai dan para muridnya berbondong-bondong mendatangi
tempat-tempat dimana banyak orang-orang miskin dan anak-anak yatim. Mereka
kemudian membawa kaum dhuafa tersebut ke suraunya, diberi makan, diberi pakaian
dan diberi pendidikan.
Begitulah secuplik kisah tentang spirit surat Al-Maun yang mampu
menggerakan sekelompok orang untuk membuat perubahan di lingkungannya. Hal ini
juga memberi isyarat bahwa Islam bukanlah semata-mata agama yang menekankan
hanya kepada aspek ritual dan melupakan aspek social. Melainkan kesalehan
seorang muslim dalam menjalankan ibadah ritual haruslah melahirkan akhlakul
karimah dan kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya. Bahkan dalam surat Al-Maun
ini, orang yang tidak peduli terhadap nasib anak yatim dan orang miskin
dikategorikan sebagai pendusta agama. Lalu dalam Al-Quran pun, hampir semua
kalimat “wa aqiimush shalaat” dirangkaikan dengan “wa aatuz zakat”. Mendirikan
shalat merupakan ibadah yang bersifat 
ritual, sedangkan menunaikan zakat merupakan ibadah yang bersifat
social. Maka dari itu aspek ritualitas dari ibadah tidak dapat dipisahkan dari
aspek sosialnya.
Hari ini kita sudah sepatutnya bersyukur karena sudah banyak
lembaga-lembaga Islam yang mendedikasikan diri terhadap pemberdayaan kaum
dhuafa. Lembaga tersebut ada yang di bawah ormas Islam, pemerintah dan ada juga
yang independen. Mereka bisa dikatakan sebagai manifestasi dari perintah Allah
dalam surat Al-Maun ini. Lembaga tersebut harus mempunyai rencana strategis
untuk mengeluarkan masyarakat dari jurang kemiskinan. Bukan hanya sekedar
kegiatan seremonial seperti baksos, dan khitanan masal, melainkan harus membuat
blue-print bagaimana menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada dalam
masyarakat tersebut. Jika hal tersebut berhasil, maka Islam sebagai rahmat bagi
alam semesta tidak hanya menjadi slogan namun sudah terwujud dalam realita.
Pemberdayaan masyarakat melalui pemberantasan kemiskinan juga
menjadi sarana dakwah Islam yang cukup efektif karena dapat menarik simpati
masyarakat yang menjadi objek dakwah. Bayangkan apabila ada seseorang yang
berceramah agama di kalangan kaum dhuafa, namun dia tidak pernah sedikitpun
memberi apa yang dibutuhkan masyarakat itu, cepat atau lambat pasti dia akan
ditinggalkan jamaahnya. Lain halnya kalau ahli agama memberi apa yang
dibutuhkan masyarakat sebelum berdakwah, Insya Allah dia akan diterima oleh
masyarakat itu.
Kadar keIslaman seseorang juga dapat diukur dari keberpihakan dia
terhadap kaum dhuafa. Ingat, dalam surat ‘Abasa, Nabi Muhammad saw. pernah
ditegur oleh Allah karena bermuka masam terhadap seseorang yang buta yang ingin
meminta pengajarannya, sementara beliau lebih mementingkan bangsawan quraisy.
Hal tersebut patut menjadi isyarat bagi kita agar jangan sampai melupakan
orang-orang yang tidak lebih beruntung dari kita.
Dalam ayat lain, Allah swt berfirman:”Dan kami telah menunjukan
kepadanya dua jalan, maka dia menempuh ‘aqabah, tahukah kamu apakah ‘aqabah
itu? Yaitu membebaskan dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan,
kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat, dan kepada orang miskin yang
sangat kekurangan.”
(QS. Al Balad : 10-16) Ayat ini mengisyaratkan betapa Allah
swt. mengapresiasi orang-orang yang mengabdikan hidupnya dalam mengurus dan
meringankan penderitaan kaum dhuafa. Mengurus kaum dhuafa oleh ayat tadi
digambarkan sebagai ‘aqabah, yakni jalan yang mendaki lagi sukar. Tentu orang
cenderung tidak mau menempuh jalan mendaki lagi sukar ini. Namun di baliknya,
Allah swt. menjanjikan bahwa orang-orang tersebut termasuk ashaabul maymanah.
Yakni golongan kanan, golongan yang mendapat kitab amal perbuatan dengan tangan
kanan dan dijanjikan keridhaan Allah swt.
Ada 2 kata kunci dalam ayat di atas yang bisa menjadi model
pembebasan serta pemberdayaan kaum dhuafa di zaman ini. Yang pertama, fakku
raqabah artinya membebaskan dari perbudakan. Saat ayat ini turun, masyarakat
masih menganggap wajar adanya perbudakan. Budak adalah seseorang yang tidak
punya kebebasan untuk menentukan sendiri hidupnya karena dikuasai oleh
majikannya. Dia dapat diperjual belikan seperti halnya barang. Islam
menghendaki bahwa pada dasarnya setiap manusia adalah khalifah dan hamba Allah
di muka bumi. Karena manusia hanya dibenarkan menghamba kepada Allah swt, maka
penghambaan terhadap sesame manusia tidak dapat dibenarkan. Oleh karena itu
Islam menghendaki system perbudakan ini dihapus. Namun dikarenakan perbudakan
ini sudah menjadi budaya yang mengakar, maka syariat penghapusannya pun secara
bertahap. Salah satunya adalah dengan apresiasi yang sangat tinggi dari Allah
swt. terhadap orang-orang yang membebaskan seorang budak dari perbudakan.
Lantas, bagaimana dengan zaman modern ini? Apakah benar-benar tidak
ada lagi perbudakan? Memang perbudakan seperti zaman Nabi Muhammad saw. sudah
tidak ada. Setelah Hak Asasi Manusia dideklarasikan, maka semua mengakui bahwa
seseorang terlahir merdeka tidak di bawah kuasa manusia manapun. Namun di zaman
modern ini kita dapat menjumpai perbudakan dalam bentuk yang baru, yakni
eksploitasi kaum pemilik modal terhadap kaum buruh. Kita bisa lihat beberapa
abad yang lalu saat Indonesia dijajah oleh Belanda melalui perusahaan dagang
VOC, rakyat Indonesia adalah budak-budak dari para kapitalis VOC. Sekarang pun
ada saja perusahaan-perusahaan yang mengeksploitasi para pekerjanya, namun
tidak semua. Lantas apa hanya buruh saja? Tentu tidak, petani dan nelayan pun
sering menjadi objek eksploitasi. Nah, fakku raqabah dalam konteks modern ini
adalah advokasi dan pendampingan terhadap orang-orang yang rentan mengalami
eksploitasi ini.
Term yang kedua adalah Ith’amun fii yaumin dzii masghabah”, memberi
makan pada hari kelaparan. Hal ini sudah cukup jelas merupakan landasan Islam
dalam menumbuhkan semangat filantropi di kalangan umatnya. Filantropi adalah
perihal berbagi pada sesame. Dalam Islam sudah ada instrument zakat dan sedekah
dalam mewujudkan filantropi ini. Namun hari ini, filantropi dalam bentuk
berbagi an sich tidaklah memadai. Namun filantropi pun harus diiringi dengan
semangat memandirikan kaum fakir dan miskin ini. Caranya adalah dengan
melakukan pemberdayaan terhadap kaum fakir miskin. Filantropi dalam bentuk
zakat, atau kurban membagi-bagikan bahan makanan untuk dikonsumsi orang miskin.
maka bentuk filantropi yang juga harus dikembangkan misalnya dengan memberi
modal usaha, atau memberi pelatihan keterampilan. Inilah bentuk filantropi
tingkat lanjut yang bisa meningkatkan taraf kehidupan masyarakat.