Pledoi Terhadap Pak Din atas Pemberitaan Nahimunkar.com

Tulisan ini adalah catatan kritis kami tehadap pemberitaan di web nahimunkar.com tentang Pak Din Syamsuddin, awalnya kami enggan untuk menanggapinya namun karena semakin gencarnya pemberitaan yang ditampilkan tanpa menghadirkan data dan informasi yang valid kepada pembaca sehingga menimbulkan kegaduhan di tengah – tengah ummat islam maka kami mengaanggap perlu kiranya menghadirkan catatan kritis terhadap segala pemberitaan di web nahimunkar.com tentang kiprah Pak Din Syamsuddin

Beberapa waktu lalu kembali ada
pemberitaan yang kurang elok mengenai Pak Din Syamsudin yang terpilih menjadi
ketua MUI. Setelah isu syiah digunakan untuk menjelek-jelekan beliau, kali ini
yang digunakan adalah tuduhan bahwa beliau adalah sahabat yahudi. Dalam ilmu
sosiologi dikenal dengan teori labeling, labeling ini adalah saat sekelompok
orang berusaha memberi label-label tertentu kepada lawan politiknya agar orang
banyak membencinya. Labeling ini yang kemudian digunakan sebagian orang untuk
menjatuhkan lawan politiknya. Label-label seperti antek syiah, agen zionis,
agen barat sering dikemukakan oleh sebagian kaum muslim untuk menjatuhkan lawan
politiknya. Begitupun label-label seperti teroris, fundamentalis, wahabi dll.
Sering kali digunakan sebagian kelompok muslim lain untuk menyerang lawan
politiknya. Saya tidak sepakat dengan penggunaan labeling tersebut, dikarenakan
akan mengaburkan fakta yang sebenarnya.
Dalam sebuah hadits Rasulullah
bersabda bahwa Barang siapa yang memanggil muslim lain dengan hai kafir!
Padahal dia tidak kafir. Maka sesungguhnya dialah yang kafir. Masalahnya adalah
dalam kitab faishal at tafriqah bainal Islam wa zandaqah Imam Al Ghazali
menyebutkan bahwa jika ada dalam diri seseorang 99 ciri kekafiran, dan 1 ciri
keimanan, maka tetap orang tersebut masih disebut beriman, walaupun yang
membuat dia pantas disebut kafir sebenarnya lebih banyak daripada yang membuat dia
pantas disebut beriman. Tentu kita pun sebagai kaum sunni meyakini bahwa
walaupun hanya ada keimanan sebesar biji dzarrah dalam diri seseorang, maka dia
tetap berpeluang masuk surga, walaupun dosa-dosanya mesti dibersihkan dulu di
neraka. Berbeda hal nya dengan akidah kaum khawarij dimana saat seseorang
melakukan dosa besar, maka tempatnya di neraka dan tidak bisa masuk surga. Oleh
karena ini takfir secara teologis dalam Islam memang harus dilakukan secara
sangat hati-hati baik secarat teologis maupun sosiologis.
Inilah yang kami temukan dalam pemberitaan mengenai
Pak Din Syamsuddin akhir-akhir ini, ada upaya labeling terhadap Pak Din agar
citranya jatuh di mata sebagian umat Islam. Pak Din itu bukan tidak boleh
dikritik, Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi yang tidak mengenal idolatry
dan pengkultusan berlebihan terhadap tokoh agama serta sangat membenci taqlid
buta. Saya pribadi pun punya kritik pribadi terhadap Pak Din, misalkan dalam
kepemimpinan Pak Din hampir selama 10 tahun ini saya belum melihat gebrakan Pak
Din dalam membangun intelektualitas di kalangan para kader dan angkatan muda
Muhammadiyah. Berbeda dengan masa kepemimpinan sebelumnya yaitu saat Ketua PP
Muhammadiyah Buya Ahmad Syafii Maarif, perkembangan intelektual di Muhammadiyah
sangat maju. Misalnya dengan diperkenalkannya metodologi bayani, burhani dan
irfani dari Abid Al Jabiri menjadi metode tarjih Muhammadiyah.
Pada masa kepemimpinan Buya Syafii pun
ramai-ramai kader muda Muhammadiyah dikirim ke berbagai negara untuk belajar
dan mengasah keilmuannya. Dalam kepemimpinan Pak Din, kami amati jumlah kader muda Muhammadiyah
yang menempuh S2 atau S3 di luar negeri menurun. Pak Din kami lihat lebih suka melakukan
manuver-manuver genit dalam perpolitikan di Indonesia dibanding membangun
cendekiawan Muhammadiyah. Meminjam bahasa Kuntowijoyo mungkin Pak Din memilih
jalan yang riuh dibanding jalan sunyi.
Selain persoalan intelektual, dalam
persoalan politik pun ada yang menarik untuk kami kritisi. Dalam pengamatan kami Pak Din adalah seorang yang kritis
terhadap pemerintahan, sudah bukan rahasia lagi kalau hubungannya dengan
presiden SBY agak kurang harmonis. Sikap Pak Din yang seperti itu membuat
seolah-olah membuat Muhammadiyah menjadi oposisi terhadap pemerintah. Tentu hal
ini tidak salah, mengingat Muhammadiyah adalah gerakan dakwah amar makruf nahyi
munkar sehingga bukan hal yang tabu untuk mendakwahi pemerintah. Namun ada efek
samping yang mungkin belum terfikirkan oleh Pak Din, yaitu dikarenakan sikap
kurang bersahabat Pak Din dengan pemerintah, para PNS-PNS yang duduk di
pemerintahan di grassroot mereka yang kena imbasnya. Banyak kasus dimana mereka
mendapat sinisme dan pengalaman kurang mengenakkan dikarenakan identitas mereka
yang Muhammadiyah. Saya fikir perlu dicari solusi untuk meminimalisir hal
tersebut, ya kasihan PNS Muhammadiyah yang di grassroot.
2 Hal di atas sekedar contoh kritik pribadi
kami terhadap Pak Din
yang menegaskan bahwa dalam Muhammadiyah kritik dan saran itu bukan suatu hal
yang tabu. Lantas mengapa kami
mempermasalahkan tulisan dalam web nahimunkar yang notabene mengkritik Pak Din?
Bagi kami
tulisan nahimunkar itu lebih mirip provokasi dan agitasi daripada kritik yang
membangun. Lihat saja dari judul-judulnya, terkesan lebay dan hanya menebarkan
kebencian an sich. Konten beritanya pun walau bertaburan ayat Al Quran, hadits,
dan qaul ulama namun seringkali tidak berimbang dalam artian hanya memakai
perspektif mereka seraya menafikan perspektif lain.
Kami punya cerita bahwa punya kenalan
namanya sebut saja X, beliau ini seorang yang berfaham Islam aswaja namun
kuliah di LIPIA. Suatu ketika di  akun fb
beliau berdebat dengan seseorang yang berpemahaman Islam salafi mengenai syiah.
Jika kita lihat dalam kitab Minhaju sunnah an nabawiyah karangan Ibnu Taimiyah,
sikap ahlu sunnah wal jamaah terhadap syiah memang cenderung moderat, inshaf,
tidak berlebih-lebihan dan adil. Golongan aswaja pada awalnya menurut Ibnu
Taimiyah terbentuk saat fitnah atau konflik yang terjadi dalam Islam pada waktu
itu sudah sangat parah, maka ada sekelompok sahabat yang menginginkan kembali
persatuan dan mengakhiri konflik-konflik tersebut. Maka pada masa Umar bin
Abdul Aziz, dikukuhkanlah kelompok ini sebagai solusi untuk mengakhiri konflik
antara pendukung muawiyah, pendukung Ali dan khawarij. Disebutlah kelompok ini
ahlu sunnah wal jamaah, dikarenakan kelompok ini memelihara tradisi nabi
(sunnah) dan mementingkan persatuan (jamaah). Tentu si X memahami hal itu,
sehingga beliau tidak terlalu membabibuta dalam menentang syiah, melainkan
menyerukan sikap yang adil dan moderat.
Suatu ketika secara tidak sengaja dia
berdebat dengan salah seorang yang berbeda pemahaman. Namun lucunya, setelah
perdebatan itu, ternyata ada yang memasukan perdebatan di FB  tadi ke web nahimunkar.com, judulnya Awas!
LIPIA mulai dirasuki virus syiah. Foto si X ini dipampang di berita tersebut,
gara-gara berita tersebut, si X ini dicaci maki oleh orang-orang yang tidak
dikenal di dunia maya, kasihan sekali. Untungnya ada dosen LIPIA yang membantu
sehingga akhirnya nahimunkar.com
menghapus berita tersebut dari webnya. Biar bagaimanapun dosen LIPIA ini pun
merasa tersinggung, dengan tuduhan nahimunkar bahwa LIPIA sudah diinfiltrasi
oleh syiah padahal itu hanya penafsiran sembrono yang dilakukan oleh nahimunkar.
Kejadian di atas memberi gambaran kepada saya bahwa nahimunkar.com kurang
menerapkan kode etik jurnalistik dalam pemberitaannya.
Sekarang kami akan mencoba mengulas kritik
nahimunkar terhadap Pak Din dan perspektif saya mengenai hal tersebut. Pertama adalah
soal yahudi, dalam berita nahimunkar yahudi adalah suatu bangsa yang memang
pasti semuanya buruk. Saya sepakat bahwa dalam Al Quran sangat bertebaran
ayat-ayat mengenai penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh kaum Yahudi
dan perilaku makar mereka terhadap umat Islam. Salah satu contohnya ayat yang
nahimunkar kutip Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras
permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan
orang-orang musyrik. (QS 5:82) Lalu Adolf Hitler pun pemimpin nazi
mengatakan bahwa dia akan membiarkan sebagian kecil yahudi hidup, supaya kalian
tahu bagaimana mereka. Dalam Al Quran Allah swt. Sudah menegaskan kelebihan
bangsa yahudi, sayangnya kelebihan tersebut digunakan yahudi untuk menjajah
bangsa lain.
Namun pertanyaannya apakah memang
semua yahudi seperti itu? Mari kita cari jawabannya kembali dalam Al Quran.
Allah swt. Berfirman dalam (QS. 3:113) Mereka itu tidak sama, di antara Ahli
Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada
beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). Ayat
ini cukup untuk menjawab bahwa kita tidak bisa menggeneralisir bahwa semua
Yahudi itu buruk, toh Al Quran sendiri yang mengatakan bahwa ada walaupun
mungkin minoritas sebagian yahudi yang mereka taat kepada Allah dan tidak
melakukan makar terhadap Islam.
Sekarang ini Yahudi identik dengan
zionisme, padahal zionisme hanyalah salah saktu faksi dalam pemikiran yahudi.
Zionisme adalah kelompok yahudi yang rasis dan fasis, yang ternyata banyak
ditentang oleh umat Yahudi sendiri, walau mungkin yang menentang ini minoritas.
Misalnya Noam Chomsky dan Gilad Atzmon seorang yahudi namun sangat anti dengan
fasisme rasisme yang dilakukan zionis. Buya Syafii Maarif sendiri pernah
mengatakan bahwa kalau dunia ini ingin damai, maka kaum zionis ini mesti
dikirim ke planet lain. Harun Yahya pernah mengutip pernyataan Rabbi Hirsch,
salah seorang tokoh agamawan Yahudi terkemuka. Rabbi tersebut mengatakan:
‘Zionisme berkeinginan untuk
mendefinisikan masyarakat Yahudi sebagai sebuah bangsa …. ini adalah sesuatu
yang menyimpang (dari ajaran agama)’. (Washington Post, 3 Oktober 1978)

Lalu Seorang pemikir terkemuka, Roger Garaudy, menulis tentang masalah ini:
Musuh terbesar bagi agama Yahudi adalah cara berpikir nasionalis, rasis dan
kolonialis dari Zionisme, yang lahir di tengah-tengah (kebangkitan)
nasionalisme, rasisme dan kolonialisme Eropa abad ke-19. Cara berpikir ini,
yang mengilhami semua kolonialisme Barat dan semua peperangannya melawan
nasionalisme lain, adalah cara berpikir bunuh diri. Tidak ada masa depan atau
keamanan bagi Israel dan tidak ada perdamaian di Timur Tengah kecuali jika
Israel telah mengalami “de-Zionisasi” dan kembali pada agama Ibrahim, yang
merupakan warisan spiritual, persaudaraan dan milik bersama dari tiga agama
wahyu: Yahudi, Nasrani dan Islam. (Roger Garaudy, “Right to Reply: Reply
to the Media Lynching of Abbe Pierre and Roger Garaudy”, Samizdat, Juni
1996)
Dari pemahaman di atas kami ingin menekankan bahwa Yahudi bukan
entitas tunggal, melainkan beragam sehingga saya lebih setuju kalau kita
menyebut diri kita anti zionis daripada anti yahudi. Islam pun ternyata bukan
entitas tunggal melainkan beragam, maka setujukah anda kalau Islam dicap
sebagai teroris? Tidak kan? Ya sama dengan yahudi, mereka pun tidak mau
digeneralisir hanya karena kelakuan sekelompok fasis dan rasis dari mereka yang
bernama zionis.
Selanjutnya mengenai pidato Pak Din
dalam kongres Yahudi, apakah itu dibenarkan? Apakah berarti Pak Din tidak punya
wala dan bara terhadap Islam? Sebelum membahas tersebut kami ingin menceritakan bahwa jauh-jauh
hari sebelum Pak Din berpidato di kongres Yahudi, perdana menteri Turki Recep
Tayyib Erdogan telah membuka hubungan diplomatic dengan Israel. Erdogan adalah
presiden yang diusung oleh Partai AKP Turki yang notabene merupakan cabang dari
ikhwanul muslimin Mesir. Sikap Erdogan ini memang sangat controversial, namun
ternyata beliau tidak salah memilih, dikarenakan lobi-lobi Erdogan, Palestina
bisa diakui oleh PBB. Selengkapnya bisa dibaca disini: Erdogan itu lho sudah
membuka hubungan Turki dengan Israel, Pak Din Cuma pidato di Kongres Yahudi,
malah dibesar-besarkan oleh nahimunkar.com seolah-olah pak Din adalah musuh
umat Islam. Cape deh! Lagi pula justru ketika pak Din berkesempatan ceramah di
hadapan Yahudi, justru kita harusnya bersyukur karena Pak Din mempunyai
kesempatan untuk menyampaikan aspirasi umat Islam. Siapa tahu yahudi yang
diceramahi oleh Pak Din itu bisa luluh dan menjadi membenci zionis.
Lalu nahimunkar mengatakan kalau pak
Din ceramah di kongres yahudi harusnya pak Din mengajak kaum yahudi masuk Islam
donk, seperti Nabi Muhammad saw. dahulu. Saya memang pernah mendengar Pak AR.
Fakhruddin alm. Mantan ketua PP Muhammadiyah dahulu mengirim surat kepada Paus
agar masuk Islam. Entah kami
kurang tahu kebenaran cerita tersebut. Namun seandainya cerita tersebut benar
maka kami
akui sangat hebat sekali pak AR Fakhruddin itu. Namun pertanyaannya mengapa Pak
Din tidak melakukan hal tersebut? Sebelumnya kami ingin coba membedakan dahulu antara
Islam sebagai ajaran dan Islam sebagai institusi agama.
Pada awal disebarkan oleh Rasulullah
saw. Islam adalah sebuah ajaran yang berisi dengan nilai-nilai yang mulia,
misalnya tauhid, keadilan, rahmat dll. Baru setelah Rasulullah meninggal,
ajaran-ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw. diinstitusikan oleh umat
Islam pasca Rasulullah saw. sehingga Islam tidak hanya sebagai ajaran-ajaran
moral keagamaan, namun menjadi institusi keagamaan. Pak Din Syamsudin memang
tidak mengajak orang untuk masuk ke institusi agama Islam. Namun setidaknya Pak
Din menyerukan mengenai nilai-nilai Islam dalam ceramahnya tersebut, misalnya
mengenai pentingnya membangun hubungan yang harmonis di antara umat beragama,
pentingnya membangun keadilan social dan mengimplementasikan sebagai rahmat
bagi alam semesta. Mengapa Pak Din tidak mengajak orang kepada institusi agama
Islam dan hanya menyampaikan nilai-nilai Islam saja? Saya fikir lebih ke
pertimbangan kemashlahatan, mengingat dalam catatan sejarah kita sudah sangat
bosan mendengar konflik antar berbagai institusi agama dikarenakan motif
politik, social dan ekonomi. Padahal ajaran-ajaran sejati dari agama-agama
tersebut tidak ada yang mengajarkan bahwa antar umat beragama harus saling
berperang. Kalaupun ada ayat-ayat Al Quran atau hadits menyebut mengenai
peperangan maka ayat tersebut bukanlah prinsip moral utama, melainkan sebagai
sebuah respon terhadap situasi social dan politik pada waktu itu. Maka dari itu
akhir-akhir ini sedang digalakan program dialog antar-agama untuk perdamaian.
Tercatat Pak Din Syamsudin dari
Muhammadiyah dan KH. Hasyim Muzadi dari NU yang menjadi orang penting dalam
WCRP (World Conference Religion for Peace) Forum. Lalu salah seorang pemikir
bernama Hans Kung pun membuat rumusan mengenai global ethic, yaitu etika global
yang menjadi kesepakatan antara berbagai ajaran agama. Ada sebuah pepatah
Perancis le histoire repete, sejarah itu selalu berulang. Dalam sejarah
institusi-institusi agama alih-alih membangun peradaban, malah saling
berperang. Apakah kita mau mengulangi sejarah yang sama? Bukankah seorang
mukmin itu tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya?
Pada akhir tulisan ini,  kami berpendapat bahwa memang kita mesti
kritis dalam membaca pemberitaan baik di media cetak, elektronik atau online.
Sudah ada ilmu yang mempelajari cara membaca pemberitaan sehingga tidak sesat
fikir dalam mengambil kesimpulan. Orang-orang menyebutnya analisis wacana,
sayangnya saya belum mempelajari analisis wacana tersebut. Web nahimunkar.com
ini saya mendukung kalau memang ingin melakukan nahimunkar, karena hal tersebut
merupakan bagian dari ajaran agama. Namun ingat, nahyi munkar itu jangan dengan
cara yang munkar. Kata Imam Al Ghazali kalau kita ingin menghapus kemunkaran
namun dengan cara yang munkar, sama saja dengan kita ingin mencuci baju tapi
dengan air kencing, bukannya bersih malah semakin bau.
Banyak sekali kitab-kitab mengenai
amar makruf nahyi munkar yang ditulis oleh para ulama mulai generasi salaf,
generasi imam madzhab, generasi pasca imam madzhab sampai generasi kontemporer.
Disana dijelaskan dalam melakukan amar makruf nahyi munkar terhadap ulil amri
tidak boleh dengan menjelek-jelekannya di depan umum, namun datangi ke
rumahnya, dan langsung berbicara dari hati ke hati dengan ulil amri tersebut,
seingat kami
ini adalah pendapat Ibnu Taimiyah. Pak Din ini adalah ulil amri Muhammadiyah,
kalau memang mau mengkritik secara efektif, ya datangi langsung. Tentu di era
demokrasi boleh mengkritik di media. Namun caranya santun, bukan dengan agitasi
dan provokasi seperti web nahimunkar.
Admin
web nahimunkar.com tidak pernah melakukan reportase atau wawancara dengan Pak
Din atau PP Muhammadiyah maupun tokoh – tokoh Muhammadiyah yang secara keseharian
berinteraksi dengan Pak Din. Web nahimunkar.com hanya mengcopas berita dari
media – media lain kemudian dirangkai dan hnya menghasilkan kesimpulan yang
sangat lemah karena data dan informasi yang diterima tidak langsung dari sumber
tetapi dari cerita orang lain ( testimonium de auditu ) yang kebenaranyya
tidak dapat dipertanggungjawabkan. Cara-cara
web nahimunkar
dalam memuat berita sangat jauh dari prinsip – prinsip jurnalisme bahkan pemberitaan
yang hanya untuk menjatuhkan kredibilitas seseorang tanpa didukung data dan
informasi yang valid mengingatkan
kami terhadap
agitasi dan propaganda Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sekarang dilarang.
Coba kita lihat sejarah
PKI, gaya-gaya PKI itu sudah banyak ditiru oleh media – media saat ini hal yang sejujurnya membuat kita miris. Katanya kita punya teladan
Rasulullah, meniti jejak para sahabat dan salafush shaleh, mustinya
itu yang kita tiru.
Kata Thomas Kuhn dalam The Structure
of Scientific Revolution, suatu ilmu itu mempunyai paradigmanya tersendiri.
Paradigma ini sering kita sebut dengan perspektif, worldview atau sudut pandang.
Ahlus sunnah mengikuti yang benar dari
Tuhan yang dibawa oleh Rasul, mereka tidak mengkafirkan orang yang tidak
bersepakat dengan mereka. Malahan mereka inilah yang lebih tahu tentang yang
benar,lebih mencintai sesama manusia, sebagaimana Tuhan menggambarkan orang2
yang pasrah (muslimuun) itu dengan firmannya, “Kamu adalah sekalian umat
terbaik yang diketengahkan bagi sesama manusia” (Ali Imran: 110)
(Ibnu Taimiyah, Al Muntaqaa min
minhaajil i’tidaal, hal. 328)
Apa yang dilakukan Pak Din Syamsuddin
ini adalah sesuai dengan nasehat Ibnu Taimiyah di atas, yakni bersikap adil,
moderat dalam menyikapi pemahaman yang berbeda dengan kita. Kalaupun kita tidak
setuju maka jalan yang terbaik adalah dengan dakwah:
Serulah (manusia) kepada jalan
Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara
yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang
tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk. (QS. An Nahl: 125)
Kalaupun orang-orang yang didakwahi
malah berpaling, maka kita tidak punya wewenang apapun untuk memaksa mereka
mengikuti apa yang kita yakini
Dan jikalau Tuhanmu menghendaki,
tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu
(hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman
semuanya? (QS 10: 99)
Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka
mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq)
siapa yang dikehendaki-Nya. (QS. 2:272)
Maka berilah peringatan, karena
sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang
yang berkuasa (untuk memaksa) mereka (QS 88:21-22).
(robby/redaksi)