Muhammadiyah Mediasi Konflik Kaum Muslim MORO dengan Pemerintah Filiphina

Bertempat di Universitas Muhammadiyah Solo (UMS) digelar pertemuan lanjutan yang diinisiasi oleh Muhammadiyah antara Pemerintah Philifina, MILF dan MNLF sebgai bagian dari upaya menciptakan perdamaian bagi bangsa MORO di Philifina.

Selama ini Muhammadiyah telah aktif dalam
upaya penyelesaian konflik di Filipina selatan yang melibatkan Moro Islamic
Liberation Front (MILF), Moro National Liberalism Front (MNLF) , dan Pemerintah
Filipina.

Muhammadiyah mendukung
penuh upaya perdamaian antara bangsa Moro di Filipina Selatan dan pemerintah
Filipina.
Stabilitas di kawasan Asia Tenggara sangat
penting. Untuk itu perlu terus diupayakan perdamaian di Filipina Selatan. Hal
ini juga sesuai dengan nilai-nilai agama yang menyerukan dan melestarikan
perdamaian.
Menurutnya, bangsa Moro juga berhak atas
hak-haknya sebagaimana bangsa-bangsa lain. Terlebih, bangsa Moro sudah ada
sejak lama.
Karena itu, Muhammadiyah akan terus mendukung dan menyerukan
upaya dialog agar perdamaian dapat tercapai.

Sudibyo Markus, Wakil Ketua Lembaga Hubungan
Luar Negeri PP Muhammadiyah menambahkan, konflik Bangsa Moro dan Pemerintah
Filipina kerap meruncing disebabkan kepentingan politik di dalamnya.
“Ini (politik) yang menambah rumit dan
mempersulit tercapainya perdamaian,” jelasnya. 
PP Muhammadiyah selama ini aktif ambil bagian
dalam upaya mediasi konflik antara etnis muslim Moro dengan pemerintah
Filipina. Keterlibatan Muhammadiyah ini sekaligus sebagai wujud dari amanat
semangat Seabad Muhammadiyah yaitu keumatan, kebangsaan dan kemanusiaan yang
universal.

Konferensi perdamaian itu selain dihadiri
delegasi Moro Filipina juga menghadirkan wakil pemerintah Filipina, Dubes
RI di Filipina serta Kementerian Luar Negeri RI. Selain mediasi konflik, Muhammadiyah juga ingin terlibat dalam
rehabilitasi pascakonflik dan pengembangan pembangunan.

Dalam kesempatan
tersebut Rektor Universitas
Muhammadiyah Solo (UMS)  Bambang Setiadji menyebut bahwa pihaknya sudah
memberikan beasiswa kepada lima mahasiswa Moro Filipina. “Kami juga memberikan
beasiswa kepada mahasiswa asing dari berbagai daerah konflik seperti Thailand
Selatan atau Palestina. Kemungkinan nanti juga menyusul beasiswa untuk warga
etnis Rohingya Myanmar,