Menag: 20 Tahun Terakhir, Gereja tumbuh 133 %, Masjid 63 %

Umat Islam Indonesia sering dipertanyakan sikap toleransi terhadap umat lain. Faktanya, prosentase pertumbuhan tempat ibadah agama lain jauh lebih cepat dibanding ibadah umat Islam.
Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali menyampaikan bahwa berdasarkan data dan fakta yang dimiliki menunjukan dalam 20 tahun terakhir pertumbuhan masjid hanya 63 persen, sementara Gereja Katolik mengalami pertumbuhan 133 persen dan Gereja Protestan hingga 153 persen. Sementara rumah ibadah agama Hindu tumbuh sampai 350 persen, sedang agama Budha tumbuh hingga 450 persen.
Dengan melihat data dan fakta yang ada seharusnya semua pihak bisa bersikap jujur dan terbuka bahwa umat Islam di Indonesia sangat toleran dalam hubungan antar umat beragama.
Selain itu Menag juga menambahkan bahwa salah satu bukti bentuk toleransi adalah Konghuchu yang di negeri asalnya tidak diakui sebagai agama namun di Indonesia diakui sebagai agama meski pengikutnya tidak lebih dari 0,01 persen saja.
Demikian disampaikan Menteri Agama, Suryadharma Ali di hadapan peserta “Silaturahmi Menteri Agama dengan Pondok Pesantren,PTAIS dan Tokoh Masyarakat Jawa Barat” di Kota Bandung, Rabu (26/03/2014).
Atas tuduhan tidak toleransi tersebut Menag mengaku banyak mendapat kunjungan internasional berbagai Negara yang menanyakan akan hal tersebut. Namun dengan tegas dirinya selalu mengatakan bahwa tidak ada masalah soal sikap toleransi umat Islam dengan umat lain. Selama ini hanya salah informasi dan pemberitaan yang tidak seimbang dengan kenyataan.
“Saya pernah didatangi utusan Obama (Presiden Amerika, red) yang menanyakan soal itu. Dengan tegas saya sampaikan sikap toleransi umat Islam di Indonesia terbaik di dunia. Saya kasih bukti, presiden dan wakil presiden Indonesia bergama Islam namun ketika umat agama lain merayakan hari besarnya, seluruh rakyatnya yang mayoritas beragama Islam ikut libur karena tanggal merah. Bahkan presiden dan wakilnya hadir dalam perayaan tersebut sebagai bentuk penghormatan dan sikap toleransi, jadi kurang apalagi? Mendengar penjelasan saya tersebut utusan Obama hanya angguk-angguk kepala,”cerita Menag yang disambut tawa hadirin.
Selain itu menurut Menag upaya mengenyahkan peran ulama dan umat Islam tersebut dilakukan dengan selalu memojokan umat Islam terutama ketika ada tokoh Islam atau umat Islam yang terlibat dalam kasus kriminal terutama kasus korupsi.
Lagi hal ini menurutnya dapat diamati dari pemberitaan yang  tendensius dan berulang.Hal berbeda jika yang tersangkut kasus tersebut umat agama lain.
Menag menambahkan upaya tersebut juga dilakukan oleh LSM-LSM dalam negeri yang rajin mengemukakan data-data sumirnya, seperti ada yang menyebut Jawa Barat (Jabar) merupan daerah paling tidak toleran di Indonesia. Radikalisme tumbuh dari pesantren hingga tuduhan terorisme bagian dari cara menyebarkan Islam.
Ia sangat menyayangkan LSM yang rajin merilis hasil temuan yang konon katanya berdasarkan survey tersebut.
“Kita patut pertanyakan rasa nasionalisme-nya, bagaimana bisa mereka lahir, tumbuh dan besar serta makan minum dari bumi Indonesia namun justru dengan bangga menjelek-jelekan bangsa dan tanah airnya sendiri. Di mana letak nasionalisme?,”tanyanya.
Ia juga menilai adanya wacana dan upaya mengalihkan fungsi dan peran Kemenag dalam urusan haji dengan membentuk Biro Penyelenggara Haji di luar Kemenag (swasta) dengan alasan agar lebih baik dan profesional sejatinya. Menurutnya, ini  adalah bagian dari upaya pencampakan peran itu.
Untuk itu dengan tegas Suryadharma Ali mengatakan jika lembaga tersebut sampai terbentuk maka ia akan mundur dari jabatan Menteri Agama. Ia sendiri berani memastikan jika sampai ditangani lembaga tersebut maka seribu persen penyelenggaraan haji akan kacau.
“Soal agama saya pertaruhkan jabatan saya, contohnya soal Ahmadiyah, sikap saya tegas dan saya siap kehilangan jabatan,”tegasnya yang disambut tepuk tangan hadirin.
Dirinya juga menyayangkan ada tokoh Muslim yang menganggap penyelenggaraan haji negara lain lebih baik daripada Indonesia.
Harusnya, sambung  Menag, kita bangga dengan apa yang telah kita lakukan, kalaupun ada kekurangan maka harusnya diperbaiki bersama. Lagi-lagi Menag mempertanyakan sikap dan rasa nasionalisme.
“Belum lama ini ada pengakuan dari sebuah lembaga di Inggris bahwa penyelenggaraan haji kita terbaik di dunia. Negara lain saja menghargai kerja kita, masak ini ada orang kita justru membanggakan kerja negara lain. Kalau negara lain lebih baik boleh jadi,meningat yang diurusi hanya ribuan atau puluhan ribu jamaah saja,sementara yang kita urus ratusan ribu jamaah,tidak sebanding,”ungkapnya.* [sp/hidayatullah ]