Ingat IMM, Ingat Solo ! Mari Sukseskan Muktamar Setengah Abad, 26 – 30 Mei 2014

Muktamar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang direncanakan diselenggarakan di Solo tidak lama lagi akan berlangsung. Solo sebagai tempat dilaksanakannya acara akbar tersebut merupakan salah satu romantisme sejarah. Bagaimana tidak, Solo merupakan titik dimana IMM disahkan. Bagi para punggawa IMM, pastilah tidak asing lagi dengan enam penegasan IMM yang dideklarasikan di Kottabarat, Solo.
Bermain sejarah, mungkin Muktamar kali ini mengakrabi itu. Sejarah seperti sebuah situs yang mewah untuk dipamerkan dan diwisatakan. Beragam kenangan, memori dan spirit dapat muncul jika kita dihadapkan dengan sejarah. Bagaikan film hitam putih yang gambarnya timbul tenggelam, perlahan ingatan-ingatan kader akan melayang menyusuri jejak-jejak pendahulunya. Ingatan akan perjuangan, spirit jihat, tentunya dibutuhkan ketika kepemimpinan baru akan dimulai, tak terkecuali dalam Muktamar. Apalagi Solo memiliki julukan tersendiri, Ibu Kota Revolusi, tentunya diharapkan penempatan muktamar di Solo bukan sekedar ajang unjuk gigi, namun lebih kepada dipanennya semangat kepemimpinan.
Menengok sejarah, adalah menengok bagaimana IMM seperti sebuah fitnah. Keberadaaannya didebat, dan sepak terjangnya disangsikan. Sesuatu yang pahit perlu dicatat sebagai sejarah, agar generasi selanjutnya menjadikan itu sebagai pelajaran. IMM lahir tanggal 14 Maret 1964. Dari latar waktunya, kita dapat membayangkan bagaimana situasi pada waktu itu. Kondisi bangsa dalam simpangsiur ideologi. Umat Islam saat itu juga memprihatinkan. Sedangkan untuk kalangan mahasiswa sendiri, masih sedikit perguruan tinggi muhammadiyah yang dapat member wadah kader muda untuk bersatu.
Bukan cita-cita luhur namanya, jika langit tak berani ditantang. Berkat kerja keras dan ridho Allah, IMM lahir dari rintisan pengajian pemuda Muhammadiyah yang berlangsung akhir pekan di Yogyakarta. Beberapa pendahulu IMM adalah M. Djazman Alkindi, Sudibyo Markus dan Rosyad Soleh. Kabar gembira tentu imbalan bagi mereka yang berjuang. IMM tentu dilahirkan tidak hanya sekedar rahmat untuk kaumnya saja, tetapi juga umat dan bangsa. Perkaderan dan pergerakan yang berjalan beriringan akan melahirkan generasi yang siap memimpin persyarikatan, umat dan bangsa.
Tahun ini, merupakan tahun manis. Muktamar kali inipun ikut manis. Terasa manis tidak hanya dikarenakan Solo sebagai tempat terlaksananya, namun juga pergantian presiden akan dihelat tahun ini. Seperti sebuah persaingan. Tentunya hasil muktamar kali ini dapat mengawal ibu pertiwi ke depan sebagai bentuk baktinya sebagai anak kandung bangsa. Menjadikan muktamar sebagai ritualitas semata itu adalah pilihan. Namun ketika kader mampu menjamah esesnsi dan menjadikannya waktu yang strategis untuk menyusun siasat IMM ke depan tentu lebih mulia.
Khittoh perjuangan merupakan rumah kader untuk kembali. Dari sana bibit militan disemai lalu ranum, dan siap menapaki medan perjuangan. Diharapkan kader tidak lupa jalan pulang. Di rumah itulah, jati diri itu ada. Bagaimana nilai dasar ikatan itu menjadi nadinya, tri kompetnsi dasar itu menjadi jantungnya, dan profil kader ikatan itu sebagai darahnya. Semangat muktamar adalah semangat membentuk jati diri seorang IMM.
Muktamar merupakan salah satu jiwa kepemimpinan itu diuji. Di sana, pemimpin baru lahir. Apakah dia akan lesatari atau mati, keluhuran jiwalah yang akan membantunya bertahan. Di sana keanggunan moral dipertaruhkan, keunggulan intelektual diujikan serta radikalnya gerakan dipamerkan. Siapa yang akan mengabadikan hal itu dalam jati dirinya? Semoga dialah yang terberkati.

Oleh:  IMMawati Sobiatun

Silahkan kunjungi website resmi panitia Muktamar Imm Setengah Abad – Solo di http://muktamarxvi.immjateng.or.id/ 
kunjungi blognya di http://muktamarimm-solo.blogspot.com/ 
halaman facebook di https://www.facebook.com/muktamarimm,
akun facebook : https://www.facebook.com/imm.setengahabad?ref=ts&fref=ts 
twitter : https://twitter.com/muktamar_imm