Profetisme, Spirit Teologis Muhammadiyah

KH Ahmad Dahlan: Pengagas Muhammadiyyah

Menarik untuk dikaji secara
serius, mengapa organisasi Islam seperti Muhammadiyah yang lahir pada
1912, dapat bertahan hingga sekarang dan mengalami sukses besar? Bila
Kristen Protestan memiliki Protestant Ethics sebagai spirit yang
membangunnya, apakah Muhammadiyah memiliki spirit teologis yang serupa?

Tentu saja Muhammadiyah memiliki spirit yang serupa, meskipun sangat
berbeda. Spirit teologis itu adalah profetisme. Profetisme secara
literal berasal dari bahasa Inggris, yaitu prophet atau prophetic, yang
bermakna nabi atau kenabian.

Heddy Sri-Ahimsa Putra dalam kertas
kerjanya yang berjudul “Paradigma Profetik: Mungkinkah? Perlukah?”
memberikan makna bahwa, “…profetik adalah mempunyai sifat atau ciri
seperti nabi, atau bersifat prediktif, memrakirakan.”[1] Seperti nabi,
profetisme berarti mengemban misi ilahiah yang termanifetasikan dalam
seluruh aktivitas kemanusiaan yang luhur.
Kuntowijoyo
Secara teoritik, profetisme telah diteorisasikan oleh Kuntowijoyo.[2]
Setelah melalui pelbagai uji akademik ilmiah, profetisme berubah menjadi
Ilmu Sosial Profetik.[3] Ilmu Sosial Profetik ini tidak terlalu berbeda
dengan ilmu sosial transformatif, yang mengelaborasi ajaran-ajaran
agama ke dalam bentuk teori sosial. Tujuannya adalah rekayasa untuk
perubahan sosial. Karena itu, ruang lingkupnya bukan pada aspek-aspek
normatif seperti teologi, tetapi pada aspek-aspek yang bersifat empiris,
historis, dan temporal.[4]
Ilmu Sosial Profetik ini, menghendaki
transformasi sosial yang berdasarkan pada cita-cita humanisasi, liberasi
dan transendensi yang diderivasi dari misi historis kitab suci. Dalam
hal ini, Kuntowijoyo merujuk pada al-Quran, surat Ali Imran ayat 110,
yang artinya, “Engkau adalah umat terbaik, yang diturunkan di tengah
umat manusia untuk menegakkan kebaikan, mencegah kemungkaran (kejahatan)
dan beriman kepada Allah.”
Menurut Kuntowijoyo, ada empat hal yang
tersirat dalam ayat tersebut, yaitu tentang konsep umat terbaik,
aktivisme sejarah, pentingnya kesadaran dan etika profetik.[5] Pertama,
umat manusia akan menjadi umat terbaik, tatkala mampu melaksanakan
“pengabdian kemanusiaan” bagi umat manusia (civil society); Kedua,
mengemban misi kemanusiaan, berarti berbuat untuk manusia dalam bentuk
aktivisme sosial dan membentuk sejarah; Ketiga, kesadaran dimaksud
adalah kesadaran ilahiah.[6] Dengan kata lain, suatu bentuk
“keterpanggilan etis” untuk kemanusiaan yang dilandasi oleh spirit
teologis; Keempat, etika profetik ini berlaku umum, yaitu menyeru
kebaikan, mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah
(transendensi).[7]
Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed
Khusus menyangkut penjelasan yang terakhir disebutkan, etika profetik
memiliki tiga prinsip utama, yaitu humanisasi, liberasi dan
transendensi. Pertama, humanisasi bermakna memanusiakan manusia.[8] Di
hadapan situasi kontemporer, di mana kehidupan masyarakat tradisional
berubah menjadi situasi industrial, dengan demikian merubah pula
pola-pola kebudayaan yang ada. Kemanusiaan, kadangkala tergantikan atau
bahkan tidak lebih penting dari kepentingan industrialisme.
Orientasi profit yang dijalankan melalui cara produksi (mode of
production), membentuk pola pikir manusia yang konsumtif, bahkan
membentuk masyarakat konsumsi (the consumption society). Dengan
demikian, barang, mesin, uang dan kepentingan pasar merupakan prioritas
dari pada kemanusiaan, yang hanya melayani dan dapat dirasakan
manfaatnya oleh sebagian orang saja, khususnya pemilik kapital.
Berseberangan dengan hal ini, maka mereka yang jauh dari kepemilikan
modal, menjadi miskin, termarginalkan dan tersisih dari komunitas
industrial (teralienasi). Humanisasi, seperti yang dimaksud dalam Ilmu
Sosial Profetik, merupakan paradigma, di mana kesadaran kemanusiaan
untuk memanusiakan manusia, diupayakan untuk menjawab pelbagai problem
masyarakat industrial tersebut.
Kedua, liberasi adalah upaya untuk
menetralisir segala bentuk tindak laku yang dehumanistik atau
anti-kemanusiaan.[9] Upaya ini menjadi sangat penting, karena dalam
setiap struktur sosial, khususnya dalam konteks masyarakat
industrial-kapitalistik, tidak hanya ada para pemilik modal dan pekerja,
namun juga berlangsung sistem dominatif, hegemonik dan eksploitatif.
Dengan kata lain, ada kelas yang menindas, ada pula yang tertindas.
Liberasi sebagai prinsip etika profetik, berguna untuk membuat netral
kondisi “penjajahan” tersebut. Liberasi, bermakna pembebasan atau
pemerdekaan bagi kemanusiaan di hadapan sistem sosial yang tiranik.
Ketiga, transendensi adalah mengembalikan segala urusan kehidupan kepada
Tuhan.[10] Prinsip ini sebenarnya merupakan upaya untuk mengoptimalkan
spiritualitas manusia, sebagai hamba. Terlebih bahwa, transendensi
diharapkan menjadi nilai kesadaran umat, yang bersifat komunal atau
memasyarakat. Humanisasi dan liberasi, keduanya semata-mata diupayakan
karena prinsip transendensi ini. Tuhan merupakan sumber kekuatan, Tuhan
merupakan sumber keabadian dan Dzat yang Maha Obyektif. Segala upaya
humanisasi dan liberasi, bukanlah pemikiran dan sikap manusia yang
reaktif. Upaya pembelaan terhadap kemanusiaan, misalnya dihadapan
dehumanisasi yang menindas, bukan bahwa kelas penindas digantikan
posisinya oleh kelas tertindas sebagai penindas baru, namun lebih kepada
upaya menetralisir dan menuju pada kondisi yang obyektif.
Dari
uraian singkat teori profetisme tersebut di atas, paling tidak ada empat
nilai dan tiga prinsip yang secara paradigmatik digunakan sebagai
framework pada paper kali ini. Empat nilai tersebut adalah: (1) civil
society, (2) aktivisme sejarah, (3) pentingnya kesadaran, (4) etika
profetik. Sedangkan prinsip-prinsip yang menopang ISP adalah humanisasi,
liberasi dan transendensi. Perangkat teoritik inilah yang digunakan
untuk membaca fenomena Muhammadiyah.
Profetisme Muhammadiyah
Titik temu antara teori ini dengan Muhammadiyah, adalah dengan mencari
koherensinya dengan fenomena gerakan Muhammadiyah. Gerakan Muhammadiyah
yang mengamalkan profetisme, akan dirumuskan dalam artikulasi teoretik.
Kuntowijoyo: Maklumat Sastra Profetik
Upaya akademik ini, dapat dimulai dari statemen penting bahwa
Muhammadiyah lahir dari inspirasi, prinsip dan spirit profetisme. Gerak
profetisme Muhammadiyah, memicu terjadinya perubahan sosial yang begitu
besar. Kebesaran organisasi keagamaan ini, tentu saja bukan karena suatu
ideologi agama yang konservatif. Namun, profetisme itulah yang
membentuk jati dirinya.
Thesis statement profetisme Muhammadiyah,
dapat diidentifikasi dan dibuktikan dari pola gerakan sosial keagamaan
yang diterapkan Muhammadiyah. Ciri profetisme adalah, adanya
kesinambungan antara ortodoksi dengan ortopraksi oleh Muhammadiyah.[11]
Dengan profetisme, persyarikatan Muhammadiyah tidak bermaksud
mengukuhkan diri menjadi mazhab yang tekstualis, atau semata-mata
ortodoks terhadap teks keagamaan. Justru pilihan untuk menjadi kelompok
yang sarat dengan teks kitab suci, merupakan hasil penghayatan yang
sungguh terhadap konteks sosial yang ada. Kredo ruju’ ila al-Qur’an wa
al-Sunnah, bermakna pembebasan (ortopraksi).
Hal ini tentu saja,
berbeda dengan stigma bahwa “kembali ke al-Qur’an dan Sunnah” bermaksud
untuk membatasi ruang gerak kehendak bebas manusia (free will). Dengan
demikian, pandangan ini menepis pendapat yang menetapkan Muhammadiyah
sebagai golongan “Islam murni”.[12]
Profetisme Muhammadiyah yang
membebaskan ini, benar-benar memberikan nilai tambah, sekaligus
membedakannya dengan organisasi keagamaan lain. Misalnya saja Sarekat
Islam (disingkat SI) (1912), sebagai manifestasi gerakan kaum beragama,
SI telah tumbang tergilas zaman dengan pelbagai sebab.[13]
Nasib ini
tidak berlaku pada Muhammadiyah. Justru hingga satu abad lebih,
Muhammadiyah masih menunjukkan eksistensinya sebagai organisasi
keagamaan yang telah mapan. Inilah bukti yang sulit dibantah dari thesis
statement profetisme Muhammadiyah. Dari pada memperjuangkan Islam
melalui jalur politik seperti SI, Muhammadiyah lebih menaruh perhatian
pada strategi kebudayaan dan pendidikan.
Muhammadiyah dalam Perspektif Praksis Sosial Kemanusiaan
KH. Ahmad Dahlan
Banyak orang hanya mengingat ajaran KH. Ahmad Dahlan sebagai purifikasi
atau pemurnian ajaran keagamaan. Tidak banyak yang menaruh perhatian
pada kontribusi sosial atas berdirinya Muhammadiyah, sekitar tahun
1912-1914. Padahal, dalam banyak kesempatan, Muhammadiyah telah
memberikan teladan untuk bersikap wajar terhadap agama, simbol agama,
tradisi, bahkan kepercayaan setempat yang berbau mistis.
Pendirian
Muhammadiyah pun terinspirasi dari organisasi Budi Utomo. Modernitas
organisasi nasionalis ini menjadi contoh yang baik demi kemajuan Islam.
Kendati mayoritas anggota anggota Budi Utomo adalah Abangan yang tidak
terlalu taat, bahkan acuh terhadap agama, namun ada sisi positif yang
diapresiasi dengan baik oleh pendiri Muhammadiyah. Bagi seorang pejuang
Islam, mengikuti modernitas Budi Utomo, bukan berarti harus mengikuti
pemikiran dan praktik beragama para anggotanya. Dari sinilah, pada
akhirnya pada 20 Desember 1912, Muhammadiyah mengajukan diri sebagai
organisasi resmi yang diakui oleh Belanda.[14] Pendirian persyarikatan
memang diniatkan untuk ibadah dan demi kemaslahatan umat. Hal ini adalah
urusan dunia dan sama sekali bukan urusan ibadah, terlebih ibadah
mahdhah(khusus).
Budi Utomo
Di lain kesempatan, pendirian
sekolah Muhammadiyah sangat terinspirasi oleh berdirinya sekolah
Belanda, yang memiliki agama resmi Kristen. H.I.S. met de Koran jelas
meniru H.I.S. met de Bibel.[15] Bukan hanya itu, kegiatan-kegiatan
sosial oleh umat Kristiani seperti pelayanan kesehatan dan poliklinik,
juga menjadi inspirasi. Hal ini bukan dimaksudkan untuk Kristenisasi
dalam tubuh persyarikatan. Sikap sekular yang proporsional, menjadikan
Muhammadiyah lebih peka secara sosial, tanpa harus mengadopsi praktik
keagamaan an sich.
Di tengah ikhtiar untuk kebangkitan umat Islam,
Dahlan tidak jarang mendapat hujatan dari banyak pihak. Termasuk di
antaranya, secara sepihak ia dianggap kafir oleh para agamawan saat itu.
Bagi mereka, bukanlah hal yang patut bagi kaum Muslimin, untuk
mengikuti Belanda atau agama lain. Sembari bersenjata legitimasi hadits
nabi, “Barangsiapa mengikuti suatu kaum, maka ia bagian dari kaum itu,”
golongan agamawan menisbatkan sandangan “kafir” bagi pendiri
Muhammadiyah tersebut. Kendatipun, sebenarnya mereka secara tidak adil
menerapkan standar agama untuk mengklaim kebenaran tertentu. Karena
sementara di lain kesempatan, mereka melestarikan agama yang feodal.
Dengan kata lain, sangat menjunjung agama dan kultur yang mengekang.
Otoritas keagamaan dan rahmat Tuhan, hanya berlaku bagi para bangsawan,
agamawan dan keturunannya. Itulah orang-orang titisan ilahi. Agama dalam
konteks ini, tidak egaliter dan hanya memihak kelas sosial yang lebih
tinggi dari padanya.
Persoalannya bahwa, Islam menurut pemegang
jabatan Kyai Penghulu ini merupakan agama yang egaliter, menjunjung
kemanusiaan dan membebaskan umat dari pelbagai mistis. Sejarawan
Kuntowijoyo membenarkan hal ini. Menurutnya, menjelang berdirinya
Kweekschool, Dahlan terlibat secara intensif atas misi kemanusiaan
tersebut. Ia ber-tabligh dengan mengunjungi murid-muridnya. Menurut
sudut pandang masyarakat, guru mencari murid adalah aib sosial budaya.
Sebagai Khatib Mesjid Besar dan Ketua Hoofdbestuur Muhammadiyah, tidak
sepantasnya berlaku demikian. Ada dua implikasi atas sikap Dahlan,
yaitu: Pertama, ia membongkar idolatry atau pemujaan tokoh ulama. Kedua,
ia membumikan ajaran agama yang nampak melangit, hingga menjadi
kamanungsan.[16] Inilah yang disebut dengan demistifikasi agama. Dengan
kata lain, ada semacam upaya sekularisasi terhadap paham keagamaan di
kala itu.
Teranglah bahwa, kembali kepada kitab suci bukan bermaksud
untuk menyerahkan semuanya kepada teks keagamaan (scripturalism). Upaya
kembali, merupakan usaha pragmatis, untuk kemajuan umat yang telah lama
terpenjara. Masyarakat Islam secara sosial telah menanggung derita
kolonialisme dan imperialisme. Sementara di sisi lain, feodalisme dan
sistem sosio-religious menggenapi kekangan yang ada. Orang-orang miskin,
harus tunduk pada pemuka agama dan para bangsawan, tanpa bisa secara
manusiawi untuk memanfaatkan rasionalitas mereka.
Gerakan Muhammadiyah, Gerakan Sosial Profetik
Ciri pembebasan, sekularisasi dan demistifikasi, adalah ciri utama dari
profetisme. Dahlan secara total, mengabdi untuk misi kenabian ini.
Seperti halnya rasul, banyak tantangan yang dihadapi. Tidak jarang pula
mengancam jiwanya, karena mendobrak tradisi dan kekuasaan politik.
Gerakan Muhammadiyyah
Rasul sangat dibenci oleh kaum kafir Quraisy, bukan sekedar karena
membawa agama baru. Liberasi dengan cara menggulirkan politik zakat,[17]
adalah alasan utamanya. Jika sebelumnya orang miskin membayar pajak
pada orang-orang kaya, bangsawan dan pemimpin keagamaan, – yang mana hal
ini di dukung oleh kondisi sosio-kultural dan religius – maka kehadiran
rasul merupakan pembongkaran terhadap tradisi dan menerapkan tradisi
baru yang lebih humanis. Hal yang sama dilakukan oleh Dahlan. Tatkala
umat sebagai pribumi yang miskin tidak boleh bersekolah dan paham
keagamaan hanya didominasi oleh para ahli dan bangsawan, maka ia
mempertaruhkan hidupnya untuk kebebasan pendidikan.
Profetisme
termasifestasikan menjadi lembaga sosio-religius yang berupa sekolah,
poliklinik (saat itu PKO atau Penolong Kesengsaraan Oemat) dan panti
asuhan. Dewasa ini, menurut Pusat Data Muhammadiyah, secara mengejutkan
Muhammadiyah mencatatkan angka 10314 lembaga pendidikan. Kuantitas
spektakuler itu, secara rinci terdiri dari TK/TPQ (4623); SD/MI (2604);
SMP/MTs (1772); SMA/SMK/MA (1143); PT (172).[18] Atas kemajuan yang
diraih, tidak heran bila dunia internasional, mengakui Muhammadiyah
sebagai organisasi keagamaan terbesar yang memiliki lembaga pendidikan
terbanyak di dunia.[19]
Perkembangan Muhammadiyah di bidang
pendidikan ini, secara fundamental memiliki peran strategis bagi
masyarakat. Sebagai organisasi dakwah, secara leluasa dapat melakukan
desaminasi profetisme Islam. Dakwah ini bukan hanya dalam bidang
peribadatan, namun juga bertanggungjawab atas masa depan umat secara
sosial. Secara teologis, Muhammadiyah menghendaki berfungsinya agama
secara pragmatis, untuk kemaslahatan umatnya, baik di dunia maupun di
akhirat.[20]
Hal yang sama disuarakan oleh Syamsul Arifin bahwa,
peran penting pendidikan Muhammadiyah, membawa kepada dua hal. Pertama,
atas ajaran kenabian yang dimiliki, Muhammadiyah berkesempatan untuk
membentuk paradigma berpikir umat. Kedua, Muhammadiyah memberikan
kontribusi yang besar bagi mobilitas sosial.[21]
Di usia yang genap
satu abad, jangkauan ikhtiar sosial Muhammadiyah semakin besar dan luas.
Universitas Muhammadiyah Malang misalnya, pada 2012 dengan percaya diri
mengumandangkan motto, “Dari Muhammadiyah untuk Bangsa.” Jika diamati
dengan baik, maka kiprah pendidikan Muhammadiyah, turut memberikan makna
yang mendalam pada ruang kehidupan kebangsaan.
Inilah yang membuat
organisasi keagamaan ini bertahan cukup lama. Paling tidak, dapat
disandarkan pada tiga sebab utama, yaitu: pertama adalah Muhammadiyah
tetap bertahan karena secara teologis, mengakomodir paradigma kenabian
(profetisme) dalam jejak langkahnya; kedua, prinsip etis ber-Islam dan
berorganisasi adalah semata-mata menaruh kepedulian pada persoalan
kemanusiaan dan transformasi sosial; sedangkan yang ketiga, strategi
gerakan Muhammadiyah adalah gerakan kebudayaan, baik itu dikenal sebagai
gerakan dakwah dan gerakan pendidikan. []
________________________________________
[1] Heddy Sri-Ahimsa Putra, Paradigma Profetik: Mungkinkah? Perlukah?
(Makalah Sarasehan Profetik 2011, Sekolah Pascasarjana UGM, di
Yogyakarta, 10 Februari 2011)