PP Muhammadiyah Berkunjung ke Pulau Kubung

Risman Muchtar, tak menyangka pagi Jumat (10/10/2009) akan ke Pulau Kubung, mungkin tak terpikirpun olehnya akan bertemu dengan Ainur Raqiq, di Pulau yang hanya di huni oleh komunitas muslim dari suku laut itu. Masih ingat Ainur Rafiq? pria 30-an asal Bawean ini tambah semangatnya setelah mushallah yang diharap-harapkan dapat berdiri, Mushalla ini belum diberi nama, saat buka puasa bersama tempohari, karena kesuntukan masa pak KUA Nongsa tak sempat mampir untuk meresmikannya.

 Di dalam mushalla 6 x 8 meter beratap getah dan dinding papan yang terletak diatas permukaan laut itulah Risman Muchtar mendengarkan keluhan warga muslim pulau Kubung, yang hanya 6 keluarga itu, “Alhamdullilah sekarang dah bertambah satu keluarga lagi” kata Ainur Rapiq, sembari mengenalkan “mikail debel” yang kini telah berganti nama menjadi Nur Rahman, Nur Rahman menikahi gadis Jawa Timur yang dikenalnya di Telaga Punggur, Nurhayati demikian nama Nur Rahman pun dapat mengajar mengaji.
Di depan mushalla pulau Kubung yang belum punya nama itu terletak perigi cukup jernih airnya, meskipun hanya berjarak 5 meter dari permukaan laut. Agak ke kiri diatas bukit terletak gereja cukup besar, permanen, jadi hanya berhadap-hadapan dengan mushalla yang di bangun Rapiq dan teman-temannya.

“Ini bekas rumah orang” jelas Rapiq saat ditanya kenapa mushalla nya persis di depan gereja, yang lain tak ada yang dapat memberikan lahan untuk mushalla itu tadi.
Risman Muchtar dari Jakarta, terangguk angguk mendengarkan keluhan warga pulau Kubung yang minoritas muslim, kedatangannya ke Batam karena Abangnya meninggal Dunia, saat bertemu di pemakaman Sungai Panas kami sempat berbincang-bincang, pak Risman begitu aku memanggilnya, dari Majelis Tablig dan Dakwah Khusus (MTDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta, pria yang telah berusia 59 tahun ini masih energik naik turun pompong yang membawa kami beberapa pulau yang di huni oleh suku laut.
 Entah apa yang ada di benak pak Risman setelah melihat langsung keberadaan suku laut muslim, yang sememangnya lah mereka dulunya muslim masih tetap bertahan dalam keislamannya sampai hari ini padahal tak jauh sebelah rumah tetangga mereka lah banyak bertukar keyakinan. [Majalah Tabligh]