Pesantren Kader Ulama, Harapan Muhammadiyah di Era Globalisasi

gdhghdMuhammadiyah
adalah gerakan Islam amar makruf nahi munkar. Sebagai sebuah gerakan
Islam, tentu membutuhkan para ulama mumpuni yang dapat mencarikan solusi
alternatif terhadap berbagai persoalan umat. Kata ulama di sini sangat
umum. Pakar dalam bidang apapun, bisa disebut dengan ulama. Di sini
jelas, bahwa tiap ulama akan menjadi pelaku utama sesuai dengan
bidangnya masing-masing. Maka, tersebutlah ulama pertanian, biologi,
fisika, kimia, ekonomi, sosial dan lain sebagainya.
Hanya yang akan saya soroti di sini adalah ulama agama, kyai yang
mumpuni dalam penguasaan terhadap dua pusaka nabi, yaitu Quran Sunnah.
Kyai yang benar benar menguasai piranti itjihad, mengetahui perbedaan
pendapat para ulama, namun juga peka terhadap persoalan kontemporer.
Kyai model begini, dirasa masih sangat minim  dalam tubuh organisasi
besar Muhammadiyah.  Jika dilihat dari anggota Muhammadiyah yang konon
mencapai 28 juta, sesungguhnya kita membutuhkan ribuan ulama semacam ini.
Ulama model ini sangat
penting, karena ia akan menuntun umat pada ajaran Islam yang moderat. Ia
juga tidak gegabah untuk mengeluarkan fatwa, karena semua persoalan
akan ditelaah terlebih dahulu secara mendalam. Ia juga tidak mudah
memberikan stempel sesat, bidah, terjangkiti pemikiran spilis, pengikut
Syiah, antek Zionis dan amerika,
serta seabrek ungkapan tak layak lainnya  kepada kelompok lain yang
berbeda. Ia baru akan mengambil kesimpulan, manakala sudah mengetahui
benar alur pemikiran dan model ijtihad kelompok tersebut. Ia akan
bersikap hati-hati dalam menentukan ketetapan hukum syariat.
Sesungguhnya, kaderisasi ulama seperti ini sudah sangat mendesak.
Apalagi membekai seseorang sampai ia menguasai piranti ijtihad tidaklah
mudah. Harus ada “Pesantren Kader Ulama”. Pesantren yang mulai dibangun
dari tingkat dasar, hingga perguruan tinggi.
Untuk tingkat dasar (SD), mereka dibimbing untuk menghafal-Quran dan
Sunnah. Dengan kata lain, 60% materi pelajaran adalah menghafal dua
pusaka tadi. 40% baru ilmu-ilmu lain. Selain karena kemampuan menghafal
mereka yang masih kuat, Quran Sunnah juga menjadi sumber hukum pertama
dalam Islam. Jika Quran-Sunnah sudah tertanam dalam dada, maka untuk
langkah selanjutnya akan lebih mudah.
Kemudian meningkat ke jenjang tingkat SMP dan SLTA. Untuk fase ini,
santri dibekali dengan piranti dasar ijtihad, seperti nahwu, sharaf,
sastra arab, ilmu logika klasik dan kontemporer, tasawuf, dasar-dasar
ilmu kalam dan filsafat, ushul fikih, ulumul hadis, ulumul Quran, dan
lain sebagainya. Nahwu tidak hanya sekadar mengetahui mabni dan I’rab,
namun juga perbedaan pendapat terhadap persoalan tertentu dikalangan
ulama nahwu. Selain itu, santri juga diajarkan fikih perbandingan.
Dengan demikian, ia akan mengetahui mengenai pendapat mazhab. Ini akan
menajdi bekal dia agar kelak menjadi ulama moderat dan tidak fanatik.
Bangunan keilmuan dasar tersebut harus diperkuat. Untuk SMP  kelas 1, pengajaran menggunakan bahasa Indonesia,
namun setelah itu, maka pengajaran menggunakan bahasa Arab. Dengan
demikian, santri sudah terbiasa dengan bahasa Arab. Santri juga piawai
untuk berorasi dan melakukan bahsul masail dengan bahasa Arab.
Santri juga akan dibiasakan dengan budaya riset. Di pesantren ini, bahsul masail menjadi adalah agenda
wajib. Santri diajarkan cara ulama klasik dalam berijtihad dan cara
menyikapi persoalan kontemporer. Agar peka dengan persoalan global,
tentu santri juga harus mampu menguasai bahasa asing selain bhs Arab, minimal ia harus bisa bahasa inggris secara aktif dan pasif.
Dalam hidup kesehariannya di asrama, 3 hari komunikasi antar mereka dengan menggunakan bahasa Arab, dan 3 hari berbahasa Inggris. Sementara 1 hari lagi bebas.
Santri juga diajarkan berwirausaha, sehingga ia kelak menjadi ulama
yang dapat hidup independen. Ia mengajar bukan untuk mencari
penghidupan. Bahkan dengan harta yang ia miliki, dapat menyumbang untuk
kemaslahatan umat. Tidak ada lagi sejarah kyai konflik dengan umat
gara-gara perbedaan tarif ceramah. Ini tentu sangat memalukan
Setelah selesai tingkat SMA, maka lanjut ke Perguruan Tinggi. Di sini
mereka tidak lagi diajarkan ilmu-ilmu dasar, namun pendalaman terhadap
ilmu-ilmu tersebut. Santri sudah belajar menganalisa terhadap suatu
persoalan. Santri juga mulai diarahkan mengenai cara penggunaan ilmu
alat dan imlikasi dalam berijtihad. Contohnya, implikasi perbedaan I”rab
dalam ilmu nahwu dalam fikih, implikasi perbedaan menggunakan piranti
bayan (ilmu bahasa) dan burhan (mantik) dalam ushul fikih, dan begitu
seterusnya. Untuk ushul fikih, sudah diajarkan tentang ushul fikih
perbandingan, bukan hanya perbandingan antar mazhab, namun juga
perbandingan epistem dan implikasinya dalam berijtihad. Tentu saja,
sarana komunikasi pengajaran tetap konsisten dengan bahasa Arab.
Selain bahsul masail, mereka juga dibiasakan melakukan diskusi
ilmiah. Tidak hanya antar mereka, namun juga mengundang pihak lain di
luar mereka. Dengan demikian, mereka akan mengetahui, sejauh mana
kemampuan yang mereka miliki.
Tentu saja, mereka juga akan dibekali dengan
ilmu-ilmu umum sesuai dengan sistem pengajaran yang berlaku di tanah
air. Hanya saja, porsinya 40%, sementara 60% adalah materi keagamaan.
Hal ini penting, karena ilmu-ilmu umum ini akan menjadi pegangan dasar
ketika menghadapi suatu persoalan dalam ijtihad. Jadi, ilmu umum tidak
ditinggalkan sama sekali.
Selesai s1, idealnya ada “psantren lanjutan” hingga s3. Jika
memungkinkan, ini akan sangat ideal. S2 dan s3 benar-benar
penggemblengan paripura. Dengan demikian, selesia s3 mereka menjaadi
ulama mumpuni.
Namun jika pesantren ini tidak bisa sampai jenjang s3, maka kiranya
sampai s1 saja juga sudah cukup. Pelajaran selama 16 tahun di pesantren
sudah cukup untuk membekali mereka menjadi ulama handal. Untuk  s2,
 santri diberi kebebasan mutlak untuk memilih universitas yang ia
kehendaki.
Baik dari jenjang SD-Perguruan tinggi adalah
pelajaran formal yang ijazahnya dakui negara. namun di samping itu,
pesantren ini juga memfasilitasi bagi siapapun untuk belajar. Mereka
tidak dibatasi umur, dan untuk mendaftar juga tidak harus punya ijazah
yang diakui pemerintah.  Sistem pembelajarannya hanya dibagi dua, dewasa
dan anak-anak. Untuk anak-anak, maksimal umur 13 tahun, selanjutnya ia
sudah disebut dewasa dan masuk ke kelas dewasa.
Sistem pembelajaran juga menggunakan
kelas-kelas dan berjenjang hingga 6 tahun. Tiap jenjang sudah disiapkan
materi terkati, dengan merujuk kepada kitab kuning. Sistem pengajaran
sedikit berbeda. Di sini semuanya hanya materi keagamaan. Selesai 6
tahun, mereka akan mendapatkan sertifikat lulus dari pondok.
Apakah ini mungkin? Berkaca dari lembaga
al-Azhar di Cairo Mesir, ini sangat mungkin. Bahkan al-Azhar mulai
merintis kader ulama sejak taman kanak-kanak. Tidak heran jika Azhar
melahirkan ulama-ulama besar di kancah internasional. Pembibitan
benar-benar dimulai sejak dini.
Selain itu, Azhar juga punya pesantren model
kedua, seperti yang saya sebutkan tadi. Pesantren yang diasuh oleh para
profesor ini, berpusat di masjid al-Azhar. Semua cabang ilmu keislaman
ada di sini, dan siapapun bisa belajar tanpa dipungut biaya. Jika mau
serius, gerakan besar Muhammadiyah pasti bisa.
Semoga kelak ada pesantren model ini dalam gerakan Islam muhammadiyah. Amiin
Wahyudi Abdurrahim
Alumni Madrasah
Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta (1996); Ma’had Bu’uts Al-Azhar Kairo
(2001); mahasiswa SI Fakultas Ushuluddin Jurusan Aqidah dan Filsafat
Universitas Al-Azhar Kairo; S2 di Ma’had Ali Lidirasah Islamiyah Kairo
(2011)