Perbedaan Pendapat dan Konflik

Saya ini alhamdulillah kuliah di kampus Islam. Semua teman saya muslim. Mayoritas dari mereka adalah muslim netral, dalam artian tidak partisan terhadap salah satu pemahaman atau harakah keIslaman. Namun ada juga sebagian kecil mahasiswa yang partisan terhadap salah satu pemahaman keIslaman, termasuk saya yang partisan ke Muhammadiyah. Ada kawan-kawan saya yang partisan ke tarbiyah, latar belakang mereka rata2 ponpes Husnul Khatimah Kuningan, SMA IT Al Kahfi, SMA IT Nurul Fikri atau alumni rohis SMA nya dulu. Simpatisan tarbiyah ini terlihat sangat bergairah dengan politik kampus. Wajar lah, namanya nanti mungkin aktif di partai, dari semenjak mahasiswa harus sudah aktif.

Ada juga partisan NU, kalau ini adalah kawan2 saya lulusan ponpes salaf sidogiri pasuruan. Ponpes sidogiri ini adalah ponpesnya ustadz Idrus Romli dulu. Nah, kalau temen2 saya yang NU ini, kalau kita lagi belajar seputar fiqh muamalah, kemudian membahas satu permasalahan, mereka pasti menguasai. Yang lain hanya diam sebagai pendengar, sebenarnya kalau pakai logika bisa sih debat, hanya kelebihan mereka adalah penguasaannya terhadap referensi klasik yang sangat kuat. Lalu ada juga teman2 alumni KMI Gontor, kalau Gontor kan punya slogan “Berdiri di atas dan untuk semua golongan”, sehingga cenderung mereka tidak partisan. Namun alumni Gontor ini punya percaya diri, lifeskill dan kepemimpinan yang bagus. Sehingga banyak menyebar di organisasi2 intra kampus. Lalu ada kawan saya aktifis HMI, nah kalau dengan aktifis HMI, diajak ngobrol persoalan2 keIslaman kontemporer rada nyambung. Mungkin ada juga teman saya simpatisan HT, salafi, atau jihadis. namun sangat sedikit, sehingga mereka tidak muncul ke permukaan.
Dalam kehidupan sehari-hari, saya sangat menikmati bergaul dengan mereka. Kadang kita having fun bareng, kadang kita juga melakukan kegiatan serius bareng. Having fun bareng contohnya main PS, main Dota, ngerumpi ngomongin perempuan, futsal, bakar2 ayam, dll. Kalau kegiatan serius misalnya belajar bareng pas mau UTS/UAS, ngerjain tugas kelompok, diskusi di kelas, dll. Kita sama-sama tahu background masing-masing. Namun saat melakukan kegiatan2 tadi, rasa2nya kita tidak memandang apa corak KeIslaman kita yang berbeda-beda. Sekat-sekat primordial kita telah hilang, namun kami melebur dalam sebuah kebersamaan.
Dari pengalaman sehari2 di atas, saya bertanya, kalau di keseharian kita bisa rukun dan damai, kok saya lihat di dunia maya dan disebagian dunia nyata seolah2 ada ketegangan dan konflik? Saya mau mengajukan beberapa opini.
Pertama, di dunia maya sering kita temukan perdebatan antara pemahaman dan harakah. Saya fikir wajar kalau orang lebih berani untuk blak2an soal hal-hal yang diperselisihkan di dunia maya, karena kita bersembunyi di belakang layar komputer. Tidak ada beban mental untuk mengeluarkan uneg2 kita. Namun berbeda halnya dengan di dunia nyata, dimana norma-norma sosial lebih kental daripada dunia maya. Sehingga sering saya temukan di fb atau twitter debat soal2 masalah keagamaan sampai saling caci, dll.
Kedua, di dunia nyata pun ada saja perselisihan. Namun kalau perselisihan itu murni karena perbedaan pemikiran, biasanya hanya berupa ketegangan-ketegangan kecil dan tidak sampai menimbulkan konflik atau merusak hubungan sosial. Sama halnya saat kami berdebat di kelas dengan dosen, setelah keluar kelas ya biasa lagi, seolah2 tidak terjadi apa-apa. Namun kalau perselisihan keagamaan tercampur dengan faktor sosial, politik dan ekonomi, biasanya bisa sampai konflik bahkan pertumpahan darah.
Jadi saya yakin, kalau ada konflik yang berkepanjangan, pasti itu bukan murni gara2 beda pemahaman, namun sudah ditunggangi oleh faktor sosial, politik atau ekonomi. Faktor sosial misalnya harakah Islam rebutan jamaah, terjadilah konflik. Faktor politik misalnya harakah Islam rebutan jabatan camat, terjadilah konflik. Faktor ekonomi misalnya harakah Islam ada yang maju secara ekonomi, ada yang tidak, menumbulkan kecemburuan, terjadilah konflik.
kita pun bisa melihat pada zaman Rasulullah saw. Ada peperangan dengan yahudi, itu bukan peperangan Islam vs. yahudi dikarenakan beda agama, namun dikarenakan yahudi melanggar perjanjian politik, makanya diperangi. Orang2 yahudi yang tidak melanggar malah aman2 saja hidup dengan kaum muslim. Begitupun dengan orang2 musyrik, kenapa umat Islam menyerang orang2 musyrik, bukan karena perbedaan keyakinan, namun karena orang2 musyrik sudah mengancam jiwa umat Islam, ya mau tidak mau harus dilawan donk. Soal keyahudian dan kemusyrikan itu otoritas Allah swt. saja untuk menghukum mereka di akhirat nanti, di dunia kaum muslim hanya berkewajiban berdakwah saja, bukan menghakimi keyakinannya. Namun dikarenakan mereka dahulu mengancam jiwa kaum muslim, makanya diperangi.
Terbukti bahwa kalau tidak ada kepentingan politik, umat Islam Yahudi Kristen bisa hidup berdampingan seperti di zaman Dinasti Abbasiyah. Namun saat ada kepentingan politik, sesama umat Islam pun bisa saling berperang seperti yang terjadi dalam peristiwa fitnah kubraa antara Mu’awiyah, Khawarij dan syiah ali. Perang salib pun terjadi karena rebutan siapa yang pantas menguasai Yerussalem kan, bukan soal perbedaan keyakinan. Hanya doktrin-doktrin agama memang bisa menjadi pengobar semangat juang yang ampuh bagi semangat juang baik muslim maupun kristen.
Jadi, saya kok yakin kalau sebatas perbedaan pendapat, Insya Allah tidak akan menimbulkan pertikaian. Pertikaian terjadi manakala perbedaan pendapat atau pemikiran sudah ditunggangi kepentingan lain.
Robby Karman
-IMM Bogor-