Menegakkan Panji Islam di Bumi Papua

Akhir November 2009, menjelang Idul Adha 1430 H, Wakil Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Fakhrurrazi Reno Sutan berkesempatan menyambangi daerah Sorong, Papua Barat. Kedatangan perwakilan MTDK di bumi Papua bertujuan untuk melaksanakan program Supervisi Da’i. Sebagai Pimpinan Pusat Muhammadiyah, MTDK memiliki program untuk melakukan supervisi bagi kader-kadernya di daerah, terutama bagi para da’i di daerah sebagai ujung tombak dari pelaksanaan dakwah Islam. Jadi Fakhrurrazi tidak hanya datang untuk ‘menengok-nengok’ da’inya di daerah saja, akan tetapi ada program yang harus dilaksanakan bersama para mubaligh di timur Indonesia.

Program Supervisi Da’i di Papua pada dasarnya diselenggarakan oleh para da’i di Papua sendiri. Bentuk program yang dilaksanakan berupa pelatihan atau lokakarya bagi para mubaligh dan kader-kader Muhammadiyah. Perwakilan MTDK Pimpinan Pusat Muhammadiyah datang sebagai undangan dan pemateri untuk memberikan materi-materi pelatihan sekaligus memberikan motivasi-motivasi untuk dakwah di daerah terpencil. Selain itu, juga diminta sebagai khatib Idul Adha di Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sorong.
Di samping memberikan pelatihan, Fakhrurrazi juga berkesempatan bersilaturahmi dengan da’i daerah terpencil yang telah ditugaskan oleh MTDK sebelumnya, di antaranya yaitu Niko Ismail dan Ustadz Ahmad. Niko Ismail diangkat sebagai da’i yang cakupan dakwahnya adalah Kota Sorong dan Kabupaten Sorong. Sedangkan Ustadz Ahmad cakupannya hanya di Kabupaten Sorong.
Dalam perjalanannya tersebut, Fakhrurrazi melihat umat Islam di Papua terutama di daerah Sorong sudah cukup banyak. Dakwah Islam di daerah itu juga telah berlangsung cukup lama. Mujahidien Umar, reporter Tabligh, mendapatkan informasi bahwa Islam ternyata masuk lebih awal sebelum agama lainnya di Papua. Berikut penjelasannya.

Islamisasi Papua
Islam masuk lebih awal sebelum agama lainnya di Papua. Namun, banyak upaya pengaburan, seolah-olah, Papua adalah pulau Kristen. Ali Atwa, penulis buku Islam atau Kristen Agama Orang Irian (Papua), menjelaskan bagaimana upaya-upaya pengaburan dan penghapusan sejarah dakwah Islam berlangsung dengan cara sistematis di seantero negeri ini. Alhasil, setelah Sumetera Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, dan Maluku diklaim sebagai kawasan Kristen, kini giliran Papua yang diklaim milik Kristen.
Ironis. Padahal faktanya Islam telah hadir jauh sebelum kedatangan para misionaris Kristen. Menurut HJ. de Graaf, seorang ahli sejarah asal Belanda, Islam hadir di Asia Tenggara melalui tiga cara: pertama, melalui dakwah yang dilakukan para pedagang Muslim; kedua, melalui dakwah yang dilakukan para dai dan orang-orang suci yang datang dari India atau Arab yang sengaja ingin mengislamkan orang-orang kafir; dan ketiga, melalui kekuasan atau peperangan dengan negara-negara penyembah berhala.
Catatan-catatan yang ada menunjukkan bahwa kedatangan Islam di tanah Papua, sesungguhnya sudah sangat lama. Islam datang ke sana melalui jalur-jalur perdagangan sebagaimana di kawasan lain di Nusantara. Sisa-sisanya masih dapat dilacak, terutama di daerah pelabuhan seperti di Manokwari, Sorong, dan Fakfak.
Sayangnya hingga saat ini belum ditentukan secara persis kapan hal itu terjadi. Sejumlah seminar yang pernah digelar seperti di Aceh pada tahun 1994, termasuk yang dilangsungkan di ibukota provinsi Kabupaten Fakfak dan di Jayapura pada tahun 1997, belum menemukan kesepakatan itu. Namun yang pasti, jauh sebelum para misionaris menginjakkan kakinya di kawasan ini, berdasarkan data otentik yang diketemukan saat ini menunjukkan bahwa mubaligh-mubaligh Islam telah lebih dahulu berada di sana.
Aktivitas dakwah Islam di Papua merupakan bagian dari rangkaian panjang syiar Islam di Nusantara. Kajian oleh L.C. Damais dan de Casparis dari sudut paleografi membuktikan bahwa telah terjadi saling pengaruh antara dua kebudayaan yang berbeda (yakni antara Hindu-Budha-Islam) pada awal perkembangan Islam di Jawa Timur. Melalui data-data tersebut, dapat dijelaskan bahwa sesungguhnya dakwah Islam sudah terjadi jauh sebelum keruntuhan total kerajaan Majapahit yakni tahun 1527 M. Dengan kata lain, ketika kerajaan Majapahit berada di puncak kejayaannya, syiar Islam juga terus menggeliat melalui jalur-jalur perdagangan di daerah-daerah yang menjadi kekuasaan Majapahit di delapan mandala (meliputi seluruh nusantara) hingga Malaysia, Brunei Darussalam, hingga di seluruh kepulauan Papua.
Masa antara abad XIV-XV memiliki arti penting dalam sejarah kebudayaan Nusantara, di mana pada saat itu ditandai hegemoni Majapahit sebagai Kerajaan Hindu-Budha mulai pudar. Se-zaman dengan itu, muncul zaman baru yang ditandai penyebaran Islam melalui jalur perdagangan Nusantara.
Melalui jalur damai perdagangan itulah, Islam kemudian semakin dikenal di tengah masyarakat Papua. Kala itu penyebaran Islam masih relatif terbatas di kota-kota pelabuhan. Para pedagang dan ulama menjadi guru-guru yang sangat besar pengaruhnya di tempat-tempat baru.
Sebagai kerajaan tangguh masa itu, kekuasaan Kerajaan Majapahit meliputi seluruh wilayah Nusantara, termasuk Papua. Beberapa daerah di kawasan tersebut bahkan disebut-sebut dalam kitab Negarakertagama, sebagai wilayah yurisdiksinya. Dari keterangan yang diperoleh dalam kitab klasik itu, menurut sejumlah ahli bahasa yang dimaksud “Ewanin” adalah nama lain untuk daerah “Onin” dan ”Sran” adalah nama lain untuk “Kowiai”. Semua tempat itu berada di Kaimana, Fak-Fak.
Menurut Thomas W. Arnold dalam The Preaching of Islam, setelah kerajaan Majapahit runtuh, dan wilayah-wilayahnya banyak diambil alih oleh kerajaan Islam Demak, pemegang kekuasan berikutnya adalah Demak Islam. Dapat dikatakan sejak zaman baru itu, pengaruh kerajaan Islam Demak juga menyebar ke Papua, baik langsung maupun tidak. Dari sumber-sumber Barat diperoleh catatan bahwa pada abad ke XVI sejumlah daerah di Papua bagian barat, yakni wilayah-wilayah Waigeo, Missool, Waigama, dan Salawati, tunduk kepada kekuasaan Sultan Bacan di Maluku.
Sumber cerita rakyat mengisahkan bahwa daerah Biak Numfor telah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Sultan Tidore. Sejak abad ke-XV. Sejumlah tokoh lokal, bahkan diangkat oleh Sultan Tidore menjadi pemimpin-pemimpin di Biak. Mereka diberi berbagai macam gelar, yang merupakan jabatan suatu daerah. Sejumlah nama jabatan itu sekarang ini dapat ditemui dalam bentuk marga/fam penduduk Biak Numfor.
Dakwah Khusus Muhammadiyah Menjangkau Papua
Saat ini perkembangan Dakwah Islam di Papua berkembang sangat pesat, hal ini ditandai semakin banyaknya masjid berdiri di sana. Terutama di daerah Sorong, Papua Barat. Menurut Ustadz Niko Ismail jumlah masjid yang ada di daerah Sorong sekarang ini berjumlah 17 Masjid. Ustadz Niko menambahkan, kondisi dakwah Islam di sana jauh lebih baik dari 10 tahun yang lalu, jumlah umat Islam di Sorong saat ini 15.000 jiwa, selain itu kristenisasi juga semakin berkurang, karena jumlah Da’i juga semakin bertambah. Bahkan, Fakhrurrazi mengatakan di Kabupaten Sorong jumlah umat Islam sudah berbanding lebih besar jumlahnya daripada umat lain. Karena intens sekali dakwah Islam di sana.
Menurut Fakhrurrazi, Persyarikatan Muhammadiyah sendiri sebenarnya sudah lama masuk Papua. Tahun 1920-an anggota-anggota Muhammadiyah sudah ada di Sorong, tapi baru berbentuk cabang dari Makassar. Anggota-anggota di Sorong pada tahun-tahun itu sudah membentuk kelompok-kelompok kajian. Di sorong pada waktu itu juga sudah ada majelis-majelis. Selain itu, dakwah Muhammadiyah juga telah sampai ke merauke pada sekitar tahun 1924. Pada tahun-tahun belakangan ini, dakwah di sana juga terbantu dengan adanya program transmigrasi.
Perkembangan Amal Usaha Muhammadiyah di Sorong juga cukup baik. Di wilayah Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sorong sudah ada Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar hingga Sekolah Tinggi, yaitu Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhamammdiyah Kabupaten Sorong. Untuk lembaga pendidikan ini juga ada Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah serta panti asuhan. Di daerah itu juga sudah terdapat tanah wakaf Muhammadiyah yang luar biasa luasnya, ada yang sudah dibangun masjid. Dan juga sudah ada rencana akan dibangun Rumah Sakit Muhammadiyah Kabupaten Sorong.
Di wilayah Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Sorong amal usahanya sudah memiliki universitas, Universitas Al-Amin (Unamin). Di universitas tersebut ada berbagai fakultas mulai dari ilmu agama dan umum yang sudah cukup bagus kualitasnya. Panti asuhan juga ada di daerah ini.
Meski demikian, menurut ustadz Niko, tantangan yang paling berat dirasakan umat Islam Papua adalah masalah penerimaan pegawai, di mana orang Islam mengalami diskriminasi dalam hal itu. Orang Islam tidak dapat mencapai jenjang kepegawaian yang lebih tinggi disana. Majelis Pimpinan Rakyat Papua memutuskan semua jabatan tinggi seperti Gubernur, Bupati, Walikota, itu harus dipegang oleh orang Kristen atau non Muslim. Inilah salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh Umat Islam Papua. Selain itu adanya isu Peraturan Daerah (Perda) larangan adzan dan penggunaan jilbab bagi muslimah juga menjadikan sebagian umat Islam merasa ketakutan terhadap isu tersebut.
Akan tetapi, Ustadz Niko beserta Umat Islam di sana tetap tegar dan istiqomah, meski tantangan demi tantangan harus dihadapi oleh mereka. Fakhrurrazi juga mengatakan untuk terus mengembangkan dakwah di Papua, MTDK akan terus melakukan pengembangan da’i. Program yang telah direncanakan yaitu pengembangan da’i reguler yaitu dengan melatih da’i setempat dan membekali strategi dakwah terpencil serta akan diusahakan untuk mendukungnya dengan dana bulanan.
Pada prinsipnya da’i-da’i itu akan bekerja dari masyarakat oleh masyarakat dan untuk masyarakat dalam rangka meningkatkan kualitas Sumber Daya Insani yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt, berbuat untuk diri dan keluarganya, berguna bagi masyarakat, bangsa dan negaranya. [Mujahidien Umar/Firmansyah]