Gabungan Ormas Islam Menolak Perda Miras di Solo

SOLO — Ratusan aktivis organisasi
kemasyarakatan (ormas) Islam di Kota Solo menggelar aksi unjuk rasa di
depan Gedung DPRD Solo untuk menolak rancangan peraturan daerah
(raperda) tentang minumal beralkohol atau minuman keras (miras), Jumat
(21/2/2014). Mereka menuntut DPRD berinisiatif membuat raperda
antimiras.
Mereka membentangkan lebih dari tujuh spanduk dan round
tag bertuliskan penolakan raperda miras dan kecaman terhadap para wakil
rakyat yang menyetujui raperda tentang pengaturan dan pengendalian
miras. Lebih dari 44 ormas dan elemen umat Islam yang tergabung dalam
aksi tersebut.
Puluhan ormas Islam itu di antaranya Majelis Ulama
Indonesia (MUI), Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), Pimpinan Daerah
Muhammadiyah (PDM) Solo, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Solo,
Dewan Dakwah Solo, Majelis Tafsir Alquran (MTA), Forum Umat Islam Surakarta, JAT, LUIS, dan seterusnya.

Masing-masing tokoh dan pimpinan ormas Islam menyampaikan sikap tegas dalam orasi.
Mereka
kompak menolak raperda miras dan menolak pelegalan miras di Solo
lantaran miras dianggap sebagai induk dari segala kejahatan. “Orang yang
punya akal sehat pasti tidak setuju dengan miras. Pembentukan raperda
miras itu merupakan bentuk penghianatan terhadap para pahlawan,” tegas
Ketua DSKS, Muh. Muinudinillah Basri, dalam orasinya.
Ketua PC NU
Solo, Hilmi Ahmad Sakdillah, turut menyampaikan sikap menolak raperda
miras yang disusul perwakilan MTA, JAT, Dewan Dakwah, dan lainya. Dalam
aksi tersebut, hadir empat orang wakil rakyat, yakni Ketua Pansus
Raperda Miras Hery Jumadi, Ketua Fraksi Nurani Indonesia Raya Abdullah A.A., Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional Umar Hasyim, dan Sekretaris FPAN Dedy Purnomo.
Para
wakil rakyat itu pun didaulat untuk menyampaikan sikap atas raperda
miras. “Saya sebagai Ketua Pansus Raperda Miras akan menolak raperda
itu. Kami akan kembalikan raperda itu ke eksekutif,” tandas Hery Jumadi
singkat [sp/solopos.com]