MTT PP Muhammadiyah akan menggelar Munas Tarjih

Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah akan mengadakan
Munas Tarjih Muhammadiyah pada 27 Februari – 1 Maret 2014 di STIKes
Muhammadiyah Palembang. Acara Munas yang merupakan pertemuan ulama dan
cendekiawan Muhammadiyah secara nasional tersebut mengambil tema: “Fikih
yang Berkemajuan untuk Pencerahan Peradaban”. Ada lima agenda penting
yang dijadikan pembahasan dalam Munas ke-28 ini. Pertama, masalah
pengelolaan air; kedua, pedoman dalam mewujudkan keluarga sakinah;
ketiga, pengembangan putusan Tarjih terkait ibadah: tuntunan Ramadhan,
tuntunan ‘Idain dan tuntunan qurban; keempat, pedoman manasik haji; dan
kelima, pedoman takziyah dan doa-doa jenazah. Munas Tarjih kali ini akan
mendiskusikan lima tema di atas dengan arahan dari dua sumber ajaran
Islam, al-Qur’an dan Sunnah Maqbulah dan berdasarkan kerangka metodologi
yang sudah dirumuskan dalam manhaj Tarjih. Lima tema di atas sebelumnya
telah dibahas pada sejumlah forum halaqah Tarjih sebagai kegiatan pra
Munas. 
Pada forum Munas ini, pembahasan terhadap tema-tema tersebut akan
dikembangkan dan kemudian disahkan sebagai putusan resmi persyarikatan
di bidang keagamaan. Mengawali rangkaian pembahasan lima draft Munas di
atas, Majelis Tarjih juga akan melakukan seminar tentang Fikih Ulil
Amri. Kegitan Munas Tarjih secara periodik ini adalah sebuah keharusan
merumuskan gagasan keagamaan yang dapat mengikuti dinamika dan perubahan
zaman, namun tetap tidak tercerabut dari nilai keislaman yang mengakar
kuat. Sebagaimana rumusan metodologi pemikiran dalam manhaj Tarjih
Muhammadiyah yakni “Ijtihãd:
Mencurahkan segenap kemampuan berfikir
dalam menggali dan merumuskan ajaran Islam baik bidang hukum, aqidah,
filsafat, tasawuf, maupun disiplin ilmu lainnya berdasarkan wahyu dengan
pendekatan tertentu”.
Terkait tema Fikih Air Munas akan mengkaji
tentang “Prilaku Ramah Air” yang penting sekali nuntuk dibudayakan dalam
kehidupan individu, masyarakat, dunia usaha maupun pada level Negara.
Pada level individu dan keluarga perlu pembiasaan untuk membetulkan kran
atau sambungan pipa di rumah, kantor, masjid atau pipa irigasi yang
bocor. Kemudian tidak membiarkan anak bermain dengan kran atau slang air
di halaman atau di kamar mandi dan tidak membiarkan kran air terus
mengucur pada saat mencuci mobil atau sepeda motor serta matikan air
bila tidak diperlukan. Juga membiasakan untuk mematikan kran ketika
sedang menggosok gigi, mandi atau mencuci peralatan rumah tangga dengan
sabun atau detergen. Mengganti ukuran kran dengan ukuran kecil sehingga
tidak terlalu banyak mengeluarkan air. Menggunakan shower untuk kamar
mandi. Sedapat mungkin tidak menggunakan kamar mandi yang banyak
menggunakan air (semisal bath-up). 
Demikian pula dalam berwudlu, hindari
penggunaan air yang berlebihan. Menyisakan halaman rumah untuk resapan
air hujan, dengan tidak menutup seluruh halaman rumah dengan pengerasan
(aspal dan beton) karena air hujan tidak akan bisa meresap ke dalam
tanah untuk menambah cadangan air tanah. Arahkan kucuran air hujan dari
atap rumah untuk dapat asuk ke sumur peresapan di halaman rumah,
sehingga tidak langsung dibuang ke jalan atau selokan. Memilih tanaman
hias, perkebunan atau tanaman pangan yang tidak rakus air. Siramilah
tanaman di lahan pada waktu pagi atau sore hari pada waktu suhu udara
tidak terlalu panas dan tiupan angin tak terlalu kencang, sehingga bisa
mengurangi kehilangan air melalui evaporasi. Gunakan pupuk organik untuk
tanaman daripada pupuk buatan. Pupuk organik disamping lebih sehat,
lebih hemat air untuk prosesnya. Sedangkan pupuk buatan (pupuk
kimia/non-organik) prosesnya mmerlukan air yang lebih banyak per kg
berat pupuk, merusak tanah dan menjadi sumber polusi. Bila memungkinkan
buatlah lubang-lubang pembuangan sampah organik di halaman rumah. Sampah
organik akan bisa memperbaiki struktur tanah sehingga memudahkan air
hujan meresap ke dalam tanah serta memperbaiki kesuburan tanah. Apabaila
di dalam rumah terdapat kolam renang, maka tutuplah kolam renang dengan
penutup dari lembaran plastik pada saat tak digunakan, hal ini akan
bisa menghambat penguapan air. Gunakan air kolam renang yang kotor untuk
keperluan menyiram tanaman atau disalurkan ke kolam atau media lainnya
sehingga tidak langsung terbuang. 
Demikian pula tampungan air kucuran
kran dan bekas air wudlu. Air ini masih bisa digunakan untuk menyiram
tanaman atau untuk memelihara ikan di kolam dan keperluan lainnya.
Gunakan peralatan dapur yang terbuat dari bahan alamiah (kayu, bambu,
daun tanaman dan sebagainya) daripada menggunakan bahan yang terbuat
dari plastik. Pilihan ini disamping lebih berwawasan lingkungan juga
lebih sehat dan menghemat air. Bahan-bahan peralatan atau perlengkapan
dapur dan perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari plastik memerlukan
air yang cukup banyak per kg bahan dalam proses pembuatannya. Jika
berbelanja ke pasar, supermarket atau ke toko, usahakan membawa
keranjang atau tas belanja dari rumah utnuk mengurangi pemakaian tas
plastik (tas kresek). Tas plastik dalam proses pembuatannya memerlukan
banyak air dan tidak bisa didegradasi sehingga menjadi bahan polusi
lingkungan. Pilihlah bahan makanan dan minuman yang proses pembuatannya
tidak memerlukan banyak air untuk memprosesnya. Pilihlah untuk membuat
jus buah sendiri daripada membeli jus buah siap saji. Cara ini disamping
lebih sehat juga bisa menghemat air. Pada waktu mencuci pakaian (pakai
tangan atau pakai mesin cuci) atau peralatan dapur, pilihlah detergen
yang ringan dan ramah lingkungan, sehingga tidak memerlukan banyak air
untuk membilas. Untuk membilas detergen kuat, diperlukan lebih banyak
air dibandingkan dengan detergen ringan. Hindari tumpahnya minyak
(goreng atau minyak lain) ke dalam tampungan atau sumber air. Hal ini
karena untuk memurnikan atau membilasnya memerlukan banyak air.
Pada
level masyaarakat, kegiatan pengelolaan air berbasis masyarakat dapat
dilakukan melalui kegiatan konservasi, pendayagunaan dan pengendalian
daya rusak air. Tingginya tingkat keterlibatan masyarakat dalam kegiatan
ini, diharapkan menjadikan daerah tangkapan hujan di hulu semakin
berfungsi bagi hutan lindung yang bermanfaat untuk kesejahteraan
masyarakat. Wilayah hulu semakin produktif dengan basis jasa lingkungan
wilayah hilir dan kawasan perkotaan terbebas dari ancaman daya rusak
air, antara lain bencana banjir dan kekeringan. Melakukan sistem
pengolahan limbah domestik di kawasan pemukiman sehingga dapat menjaga
kualitas air. Misalnya, pengolahan limbah domestik cair dan sampah untuk
kompos. Juga bisa melalui teknologi tepat guna untuk membuat air
berkualitas sesuai baku mutu untuk keperluan air minum penduduk di
kawasan lingkungan dengan kualitas air rendah. Melakukan upaya
penampungan air hujan (Rainwater Harvesting/RWH) untuk irigasi, mencuci,
bilasan toilet, peternakan, dll. Upaya ini bisa melalui penggunaan
ember atau lainnya. Melakukan irigasi tetes atau sprinkler atau alur
yang lebih hemat air daripada cara irigasi dengan penggenangan (basin).
Mewujudkan gerakan “Shadaqah Air” bagi masyarakat yang minus air, secara
langsung atau melalui penggalangan dana untuk pembuatan saluran air
bersih.
Pada level dunia usaha, perlunya sinergitas pelestarian air
antara dunia usaha dan masyarakat melalui CSR (Corporate Social
Responsibility). Mewujudkan usaha-usaha produktif yang berbasis pada
penghematan air. Menciptakan lingkungan kerja yang ramah air melalui
edukasi, ceramah, kampanye pelestarian lingkungan, poster, cek rutin
sarana air serta audit lingkungan sekitar perusahaan.
Pada level
pemerintah perlunya kontrol pelestarian air dan lingkungan sesuai aturan
yang berlaku. Upaya penegakan hukum (law inforcement) terhadap
perusahaan atau warga yang tidak ramah air dan lingkungan. Upaya
membangun sinergitas pengelolaan sumberdaya air antar sektor dan wilayah
pemerintahan setempat. Pengembangan sistem pembiayaan pengelolaan air
sesuai prinsip cost recovery maupun kondisi sosial ekonomi masyarakat
yang ada.
Terkait dengan Tuntunan Manasik Haji, akan dibahas
beberapa poin berikut: 
a. Allah swt tidak akan menerima ibadah-ibadah
sunat selagi tidak ditunaikan ibadah wajib. Berdasarkan ini, orang yang
mengerjakan haji atau umrah sunat, sementara mereka bakhil mengeluarkan
zakat yang difardhukan, maka ibadah haji dan umrah mereka tertolak dan
tidak diterima; 
b. Allah swt tidak menerima ibadat sunat yang membawa
dampak kepada perbuatan haram. Karena terhindar dari dosa harus
didahulukan daripada mendapat pahala ibadat sunat. Contoh: bila haji
sunat mengakibatkan banyak orang Islam teraniaya akibat terlalu sesak
atau merebaknya penyakit di dalamnya atau ada yang tersungkur mati, maka
wajib mengurangi kesesakan selagi ada jalan ke arah itu. Salah satu
langkah adalah menghalangi mereka yang sudah berhaji untuk member ruang
kepada yang belum berhaji; 
c. Menolak kemudaratan itu lebih diutamakan
daripada mencari kemaslahatan terutama apabila kemudaratan bersifat umum
sedangkan kemaslahatan tersebut bersifat khusus. Wajib mencegah
kemaslahatan yang bersifat individual jika berdampak pada kemudaratan
yang bersifat umum (puluhan ribu Jemaah); 
d. Kebajikan dan ibadat sunat
dalam Islam sangat luas dan beragam. Oleh karena itu, apabila untuk
menunaikan ibadat sunat mendatangkan penganiayaan atau kemudharatan bagi
orang lain, maka Islam memberikan ruang dan pilihan lain untuk
mendekatkan diri kepada Allah swt tanpa memunculkan kemudaratan bagi
pihak lain. Dalam Munas ini juga akan dibahas tentang salat Iftitah,
I’tikaf dan Tadarus al-Qur’an.
Tuntunan tentang Shalat Idul Fitri
dan Idul Adha akan mengkaji tentang tinjauan umum tentang Idul Fitri dan
Idul Adha, amal ibadah dan adab menyambut Idul Fitri, memperbanyak
takbir, berhias dengan memakai pakaian bagus dan wangi-wangian, makan
sebelum berangkat shalat Idul Fitri, anjuran berangkat dengan berjalan
kaki dan pulang melalui jalan lain, pelaksanaan shalat Idul Fitri
dihadiri oleh semua umat Islam, amal ibadah dan adab nenyambut Idul
Adha, memperbanyak membaca tahlil, takbir, tahmid, mengerjakan amal
shaleh,terutama pada tanggal 1- 10 Dzulhijjah, bagi yang tidak
sedang berhaji. Juga akan dibahas tentang puasa Arafah, tidak makan
sejak Fajar sampai dengan selesai shalat Idul Adha, pelaksanaan dan cara
shalat Idul Fitri dan Idul Adha, waktu dan tempat shalat Id serta
tatacara pelaksanaan shalat Id.
Mengenai Tuntunan Qurban, dalam
Munas akan dibahas tentang pengertian qurban, dasar hukum, hikmah, jenis
dan jumlah serta waktu dan tatacara penyembelihan hewan,
pendistribusian serta penerima daging qurban, hal-hal yang boleh dan
tidak boleh dilakukan oleh shahibul qurban, kepanitiaan qurban,
berqurban untuk orang yang sudah meninggal dunia, menukar kulit qurban
dengan seekor kambing, pengalihan dana hewan qurban untuk bencana.
Wallahu a’lam bisshawab.
Dr. Muhammad Azhar, MA
Bidang Publikasi dan Kerjasama Majelis Tarjih/Dosen FAI UJMY