Dana Talangan Haji Haram ?

DANA TALANGAN HAJI PERLU DIKAJI”

Itu Judul artikel yang ditulis Wawan Gunawan Abdul Wahid dalam “Harian Kedaulatan Rakyat” Djogjakarta, pada Februari 2012. Penulis mengambil posisi mengharamkan dana talangan haji dengan dua alasan. Alasan mudlarat dan alasan riba. 
Alasan mudlarat karena dana talangan haji menciptakan kemudlaratan bagi kaum Muslimin yang benar-benar mampu untuk segera tunaikan haji dengan uang cash. Padahal umumnya para pembayar dana talangan haji adalah orang-orang yang tidak kena kewajiban haji karena mereka tidak benar-benar mampu untuk tunaikan haji sebagaimana dipersyaratkan agama. 
Alasan kedua, Dana talangan haji beraura riba. Itu dapat dilacak pada bayaran yang dinamakan ujrah. Ujrah yang sejatinya bermakna upah yang dibayarkan nasabah kepada sindikasi perbankan syariah untuk jatah seat haji yang diperolehnya. Dalam kenyatannya upah itu sama dengan penambahan pembayaran yang dikenakan kepada nasabah. Penambahan itulah yang terkena kaedah “kullu qardlin jarra manfa’atan fahuwa ribaan” setiap pinjaman yang menarik kelebihan dinamkan riba. Dengan logika ini sulit memposisikan ujrah untuk tidak dnamakan riba. 
Dengan kaedah al-asmaau laa tughayyirul haqiiqah, artinya meskipun Dewan Syariah Nasional (DSN MUI) menggunakan kata ujrah untuk pembayaran yang dikenakan kepada nasabah, namun karena subtsansinya sama dengan riba maka ujrah itu berkualifikasi riba. Natijahnya, opini ini merekomendasikan kepada Kemenag RI untuk hentikan Dana Talangan Haji. sedangkan solusi yang ditawarkan penulis adalah Berhaji dengan Tabungan Haji. Artinya Ummat didorong untuk menabung secara mandiri ketika uangnya sudah mencukupi untuk ongkos haji maka dia bayarkan untuk Ongkos Naik Haji. Wallahu Nga’lam bish-Shawab.
Wawan Gunawan Abdul Wahid, Lc. MAAg