Bagaimana Lafadz Penutup Doa Yang Benar ?

Pertanyaan Dari:

Sukaemi, Mergangsan Kidul,

MG II/1311 Yogyakarta, telp. 0274-379737

(disidangkan pada Jum’at, 19 Rabiul Akhir 1429 H / 25 April 2008 M)

Pertanyaan:

Assalamu ’alaikum Wr. Wb.

  1. Kebanyakan dari umat Islam bahkan pemimpin umat Islam termasuk dari kalangan Muhammadiyah sendiri, dalam menutup atau mengakhiri bacaan doa dengan membaca surat ash-Shaffat ayat 180-182 yang berbunyi:

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ. وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Saya telah membaca Tafsir al-Maraghi jilid 8 hal. 92-93 terdapat dua hadits yang berkaitan dengan penerapan lafadz dari ayat tersebut di atas:

1- وَ رَوَىْ الْبَغَوِيُّ عَنْ عَلِيٍّ كَرَّمَ الله ُوَجْهَهُ أنَّهُ قاَلَ: مَنْ أحَبَّ أنْ يُكْتَالَ بِالْمِكْيَالِ اْلأَوْفَى مِنَ اْلأَجْرِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَلْيَكُنْ آخِرَ كَلاَمِهِ فِيْ مَجْلِسِهِ: سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ. وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Artinya: “Al-Bagawi meriwayatkan dari Ali ra, ia berkata: barang siapa yang ingin diberikan timbangannya dengan timbangan yang penuh dengan pahala pada hari kiamat maka hendaklan di akhir majlisnya ia mengucapkan: subhana rabbika rabbil ‘izzati ‘amma yashifuun wa salamun ‘alal mursalin wal hamdulullahi rabbil ‘alamin.”

2- و عَنْ أبِيْ سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ قاَلَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ الله ِصَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَ سَلَّمَ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ يَقُوْلُ فِي آخِرِ صَلاَتِهِ أوْ حِيْنٍ يَنْصَرِفُ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah tidak hanya sekali dan tidak pula dua kali di akhir doanya atau ketika ia berpaling mengucapkan:subhana rabbika rabbil ‘izzati ‘amma yashifuun wa salamun ‘alal mursalin wal hamdulullahi rabbil ‘alamin.”

Kemudian saya juga membaca buku dzikir dan doa Rasulullah sesudah shalat oleh Abu Amsaka, pustaka as-Sabil halaman 286, 287 dan 288. Di dalam buku tersebut disebutkan bahwa mengakhiri doa dengan lafadz ayat ash-Shaffat 180-182 bukan merupakan sunnah Rasulullah saw.

Adapun hadits dari Said al-Khudri tersebut di atas dinilai dlaif jiddan (sangat lemah) oleh Abu Usamah Salim Bin ‘Id al-Hilali dalam Shahih Kitabul Adzkar wa Dla’ifuhu, I/120. Demikian juga dalam hadits dari Ibnu Abbas dan hadits lainnya dengan lafadz ini dlaif.

  1. Menurut pemahaman saya, mengakhiri atau menutup doa dengan lafadz surat ash-Shaffat ayat 180-182 sebagaimana doa-doa khutbah yang dimuat dalam Suara Muhammadiyah no. 18 th. Ke-89, 16-30 September 2005, saya kutip dari akhir doa:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ .

Artinya: “Ya Tuhan kami datangkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka. Maha Suci Tuhanmu, Tuhan yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan/katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para Rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.”

Dalam konteks bermuwajahah antara orang yang berdoa (mutakallimin) mengatakan kepada Allah yang dipanjatkan doa kepada-Nya (mukhathab) kalau begitu ada Tuhan di antara Tuhan yang Maha Suci. Ini dari segi makna ada unsur syiriknya, na’udzu billahi min dzalik. Sedang yang dimaksud dengan كَ (mu) dan رَبِّكَ di dalam ayat 180 QS. ash-Shaffat adalah Nabi Muhammad saw. Maka pertanyaannya: “Mengapa kita menyebut Muhammad (Tuhanmu-Muhammad) ketika kita sedang memohon langsung kepada Allah.” Lain halnya kalau kita membaca surat al-Qur’an setelah selesai membaca al-Fatihah dalam shalat. Misalnya surat al-A’laa, surat adl-Dluha dan lain-lain.

Kembali kepada permasalahan tentang menutup doa, menurut Nabi saw dalam hadits:الدُّعَاءُ هُوَ اْلعِبَادَةُ (doa adalah ibadah), dalam konteks ini adalah ibadah mahdlah, maka harus berdasarkan kepada nash yang shahih, tidak boleh hadits dlaif dijadikan hujjah dalam ibadah. Dan ternyata hadits dari Said al-Khudri adalah dlaif jiddan. Maka menutup doa dengan ayat 180-182 surat ash-Shaffat harus ditinggalkan dan kembali kepada kesepakatan ulama menutup doa dengan shalawat dan hamdalah saja.

  1. Bapak Kamiran Komar al-Haj ketika berdoa dalam upacara pelayatan Kepala Kandepag Bantul (Bapak Drs. H. Sya’roni) dengan lafadz:

سُبْحَانَكَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ. وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين.

Nah, lebih rancau lagi pengertian dhamir كَ dalam  سُبْحَانَكَ di sini, artinya: “Maha Suci Engkau Tuhan Engkau …”

Mohon penjelasan, dan atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih.

Wassalamu ’alaikum Wr. Wb.