Apa Hukumnya Mengundang Tasyakuran Rumah Baru?

Apa hukumnya mengundang tetangga untuk menggadakan Tasyakur menempati rumah baru? 

mohon pencerahannya ustadz, terima kasih
Tidak ada bacaan (dzikir atau doa spesifik) untuk menempati rumah baru. Namun bukan berati berdoa dan syukuran menjadi salah dan bid`ah. Itu dilakukan hanya semata-mata sebagai tanda syukur (tahadduts bin ni`mah) sambil ta`aruf dan mulai menjalin silaturahim dengan tetangga/masyarakat di sekitarnya.
Ada beberapa doa yang bisa dijadikan pilihan:
Siapa yang menempati rumah baru, maka disunnahkan untuk berdoa saat memulai untuk menempatinya, yaitu:
“A’udzu Bikalimaatillaahit Taammaati min Syarri Maa Khalaq..”
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya.”
Dari Khaulah binti Hakim Radhiyallahu ‘Anhuma , ia berkata:
AKu mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:


مَنْ نَزَلَ مَنْزِلًا ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ

“Siapa yang singgah di suatu tempat, lalu ia membaca:
A’udzuBikalimaatillaahit Taammaati min Syarri Maa Khalaq (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya ) maka tak ada sesuatupun yang membahayakannya sehingga ia beranjak dari tempatnya tersebut.”
(HR. Muslim )
Hadits ini berlaku bagi orang yang menempati suatu rumah untuk bermukim (tinggal) di situ, baik itu milik sendiri atau bukan atau rumah kontrakan.
Begitu juga dianjurkan untuk membaca:


اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ الْمَوْلَجِ وَخَيْرَ الْمَخْرَجِ بِسْمِ اللَّهِ وَلَجْنَا وَبِسْمِ اللَّهِ خَرَجْنَا وَعَلَى اللَّهِ رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu kebaikan rumah yang aku masuki dan kebaikan rumah yang aku tinggalkan, dengan menyebut Nama Allah aku masuk dan dengan menyebut nama Allah aku keluar dan kepada Allah, Rabb kami, kami bertawakkal.”(HR. Abu Dawud – al-Thabrani)

Atau membaca basmalah (Bismillah) saat memasukinya, seperti yang ditunjukkan oleh hadits berikut:

“Dari Jabir bin Abdullah bahwa dia mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ لَا مَبِيتَ لَكُمْ وَلَا عَشَاءَ وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ وَإِذَا لَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ

“Apabila seseorang hendak masuk rumahnya kemudian dia berzikir kepada Allah ketika masuk dan ketika akan menyantap makanan maka syaitan akan mengatakan -kepada pengikutnya-, ‘Kalian tidak bisa tidur di sini dan tidak pula mendapatkan bagian makanan’. Kemudian apabila dia memasuki rumahnya namun tidak berzikir kepada Allah ketika masuknya maka syaitan akan berkata, ‘Kalian bisa menginap malam ini’. Dan apabila dia tidak berzikir kepada Allah ketika menyantap makanan maka syaitan akan mengatakan, ‘Kalian bisa menginap dan makan di sini.. ”
(HR. Muslim)
Hanya saja kedua dzikir/doa di atas tidak khusus saat memasuki rumah untuk pertama kali, tapi dibaca oleh seseorang setiap ingin memasuki rumahnya sesudah bepergian. Juga dianjurkan untuk membacakan Al-Qur’an dirumah tersebut, khususnya surat al-Baqarah untuk mengusir syetan dan melindungi rumah dari gangguan mereka.
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:


لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

“Jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan, sesungguhnya syetan lari dari rumah yang dibacakan surat al-Baqarah di dalamnya..”

Semua yang dijelaskan di atas tidak ada bedanya, baik rumah tersebut miliknya sendiri atau bukan seperti ngontrak, menyewa, dipinjami.

Bisa juga ditambahkan doa:

“Rabbi anzilnii munzalan mubaarakan waAnta Khairul munziliin”(Q.23: 29).
“Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang terberkati. Dan Engkaulah se-baik-baik yang menempatkan.”
(Doa ini diajarkan Allah kepada Nabi Nuh AS)

Dan tambahkan doa ini:
Robbii inni as’aluka khaira haa wa khaira ahlihaa, wa khaira maa fiiha.
Wa a’uudzubika min syarrihaa wa syarri ahlihaa wa syarri maa fiiha

Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu kebaikan darinya (rumah/tempat yang akan dimasuki), dan dari kebaikan penghuninya dan kebaikan apa-apa yang ada di dalamnya. Dan aku berlindung kepadaMu dari keburukannya, keburukan penghuninya dan keburukan apa-apa yang ada di dalamnya.

مَا شَاء اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

MASYAA-ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH

Bacaan ini terdapat dalam firman Allah di surat Al-Kahfi,

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاء اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِن تُرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالاً وَوَلَداً

“Mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (QS. Al-Kahfi: 39).


Ketika membahas ayat ini, Ibnul Qayim mengatakan,

فينبغي لمن دخل بستانه أو داره أو رأى في ماله وأهله ما يعجبه ، أن يبادر إلى هذه الكلمة، فإنه لا يرى فيه سوءا

“Selayaknya bagi orang yang memasuki kebunnya, atau rumahnya, atau terheran terhadap harta dan keluarganya, hendaknya dia segera membaca kalimat ini. Karena dia tidak akan melihat sesuatu yang buruk terhadap nikmat itu.” (Al-Wabilus Shayyib, hlm. 165).
Kemudian Ibnul Qayim membawakan riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَا أَنعَمَ اللهُ عَلَى عَبدٍ نِعمَةً فِي أَهلٍ وَمَالٍ وَوَلَدٍ فَقَالَ : (مَا شَاءَ اللهُ لَا قُوَّةَ إِلا بِاللهِ)، فَيَرَى فِيهَا آفَةً دُونَ المَوتِ

Jika Allah memberi kepada seorang hamba nikmat kebaikan terhadap keluarga, harta, atau anak, kemudian dia membaca: “masyaa-allah, laa quwwata illaa billaah” maka dia tidak akan melihat adanya cacat dalam nikmat selain kematian. (HR. At-Thabrani dalam Al-Ausath 6/126, dishahihkan Ibnul Qoyim dalam Syifa Al-Alil, dan didhaifkan Al-Albani dalam Ad-Dhaifah).
Masih banyak lagi, inti bersyukur dan memohon kebaikan dari Allah SWT.
Semoga bermanfaat.
Ust.Dadang Syaripuddin,MA