Suatu Hal yang Dilupakan Oleh Aktivis Dakwah

Ini ditulis berdasarkan apa yang dialami penulis setelah penulis menyelesaikan mengurus perkemahan yang diadakan oleh Hizbul Wathon di sekolah tempat penulis masih menuntut ilmu. Penulis, di kepengurusan HW pada waktu itu memang bukan siapa-siapa. Karena penulis sudah “pensiun” atau “purna bakti” dari kepengurusan HW di sekolah itu. Di samping adanya regenerasi, juga dikarenakan penulis sedang duduk di kelas XII, kelas akhir SMA. Sehingga supaya lebih fokus UN. Tapi selama masih mampu dan mau untuk ikut membantu kegiatan persyarikatan, baik sekedar menyemarakkan, atau berperan aktif dalam syi’ar acara kegiatan da’wah di lingkungan persyarikatan dan ortom-ortomnya, sepertinya tidak masalah, bahkan dengan izin Alloh akan membuat Alloh memudahkan dalam masalah yang lain. Termasuk UN, dsb.
Sekalipun ini terjadi oleh seorang kader Muhammadiyah, tidak ada salahnya supaya menjadi pelajaran berharga bagi organisasi da’wah Islam yang lain. Mungkin diantara pembaca ada yang merasa cerita ini lucu, atau mungkin baisa-biasa saja. Tapi, bagi penulis, ini merupakan suatu pelajaran berupa peringatan dari Alloh.
Tanggal 25 Desember 2013, sebuah “sekolah kader” milik persyarikatan Muhammadiyah yang berada di daerah Sleman selesai mengadakan perkemahan yang diikuti oleh seluruh siswa dari sekolah tersebut. Perkemahan dilaksanakan di Bumi Perkemahan Secang, Kulonprogo. Upacara penutupan sudah dilakukan pada pagi hari. Setelah melakukan beberapa kegiatan “perpisahan” dengan bumi perkemahan dan sekitarnya seperti bersih-bersih, berkemas-kemas dan bersiap-siap, sebagian besar siswa bersiap untuk masuk ke bus masing-masing untuk persiapan pulang setelah mereka berekreasi dahulu di sebuah pantai masih di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tetapi diantara mereka ada beberapa siswa yang tidak ikut karena mengurusi barang-barang bawaan para siswa peserta kemah yang sengaja dibawa tersendiri dengan truk besar milik sekolah juga.
Tetapi, karena barang-barang milik siswi-siswi pada sekolah yang sama, tetapi tempat perkemahan agak jauh lebih banyak (kurang lebih 5 kali lipat) dari barang bawaan siswa, dan ditambah keterbatasan kendaraan pengangkut, memaksa beberapa siswa, beberapa guru yang mengurus barang-barang bawaan siswa-siswi ini menunggu giliran truk pengangkut barang bawaan yang ternyata hingga malam hari.
Tepat setelah sholat maghrib, truk itu datang kembali dari sekolah mereka di Sleman untuk mengangkut barang bawaan milik siswa putra. Sehingga pengangkutan barang-barang tersebut dilakukan hingga MENABRAK WAKTU SHOLAT ISYA’. Sehingga adzan isya’ berkumandang, pengangkutan barang tetap berjalan, tanpa sholat isya’ terlebih dahulu karena sudah masuk waktunya, kami langsung pulang ke Sleman.
Singkat cerita, beberapa siswa yang mengurus barang-barang ini –karena keterbatasan tempat- harus berboncengan dengan para guru yang juga mengurus barang. Dan para siswa ini MEMBONCENG TANPA HELM.
Salah satu diantara mereka ditengah perjalanan –mungkin karena kegiatan yang cukup banyak dan tenaga yang mulai habis- mengantuk ditengah jalan. Pada awal-awal, ngantuknya tidak begitu berbahaya. Tetapi ketika melewati suatu jalan raya, rasa kantuk siswa ini sudah mengalahkannya dan seketika itu, HAMPIR SAJA MOTOR GURU YANG MEMBONCENGNYA TERJUNGKAI, DAN SISWA INI HAMPIR JATUH KE JALAN RAYA DAN DIDAHULUI KEPALANYA YANG TANPA HELM. Qodarulloh, hal yang tidak diinginkan tidak terjadi dan alhamdulillah, mereka selamat sampai tujuan.
Kisah ini mungkin –seperti yang dikatakan di muqoddimah- bagi sebagian orang mengangapnya lucu, atau mungkin biasa saja, atau mungkin malah memberi nasehat “makanya jangan ngantuk”.
Bagi penulis, ini adalah sebuah peringatan dari Alloh. Sekalipun kita aktivis da’wah, jangan pernah meremehkan sholat fardhu tepat waktu. Bayangkan saja, apa jadinya jika Alloh berkehendak untuk tidak menahan terjungkainya sepeda motor guru itu, dan si siswa jatuh dan didahului kepalanya, dan membentur aspal  jalan raya, dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Kemudian si siswa yang juga aktivis da’wah ini kemudian ditanya oleh Alloh “bagaimana sholat isya’mu ?” atau “mengapa kamu belum sholat isya’ ? ”. apa yang harus dijawab oleh  si siswa aktivis ini, jika nantinya ia menghadap Alloh sedangkan dia belum sholat pada waktu itu ? sungguh pertanggungjawaban yang berat !
Teringat firman Alloh : ”Maka celakalah bagi orang-orang yang sholat, yaitu yang lalai dari sholatnya” (QS. Al-Ma’uun 4-5). Bayangkan saja, yang melalaikan saja dicap celaka.
Banyak orang – orang yang dengan santai menunda waktu sholat hanya karena masalah-masalah duniawi.
Mereka berdalih bahwa waktu sholat masih lama habisnya. Ya, memang betul, waktu sholat memang agak lama batas waktu atau habis waktunya, sedangkan umur kita / kita tidak tahu kapan batas waktu umur kita !
Sekalipun kita adalah seorang aktivis dakwah senior, atau lebih berpengalaman berkecimpung didunia dakwah, tidak menjamin kita ini bisa bebas dari neraka Alloh. Mau ketua PP Muhammadiyah, mau Komandan Kokam, Ketua IPM, IMM, NA, PM, HW, TS, Rohis, LDK, dsb.
Sekalipun kita aktivis dakwah yang menyerukan dan mengajak kebaikan, ibadah, dan berbagai aturan-aturan hidup dari Alloh lainnya, sama sekali kita tidak boleh meremehkan sholat lima waktu ini. Jangan pernah mengira bekal dakwah saja cukup untuk memperberat amal kita di mizan kelak. Sholat fardhu hukumnya wajib, dakwah juga hukumnya wajib. Tetapi, lebih utama dikerjakan pada waktunya jika telah tiba waktunya. Dalam hadits Ibnu Umar yang menyatakan mengenai amalan-amalan yang utama dikerjakan, sholat tepat waktu menduduki urutan pertama dari amalan-amalan lain. Karena itulah yang sekiranya amalan wajib yang mudah dikerjakan seketika itu juga. Sedangkan dakwah, jihad, dll bisa disesuaikan waktunya. maka dari itu, sekalipun kita membuat acara dakwah, waktu sholat harus diperhatikan !
Itulah sebuah pelajaran berharga, semoga saudara-saudarku seiman dan seperjuangan aktivis dakwah dari manapun bisa mengambil pelajaran.
Utama Al-Faruqi
aktivis Tapak Suci