Sang Penghancur: Misteri Dalam Tubuh Muhammadiyah

Diksi yang belum lama saya temukan. Paduan dua kata yang secara harfiah bertolak belakang. Kata ‘Sang’ biasa digunakan untuk ‘pengagungan’, tentu tak layak menyandingkannya dengan kata ‘Penghancur’. Kosakata ini tak terkait dengan Sang Murabbi, Sang Pencerah, Sang Pemimpi atau Sang Kyai. Apalagi dengan Ratih Sang.

Sekitar dua tahun lalu, saya berniat menjenguk seorang yang begitu bersahabat dengan keluarga kami. Beliau sedang terbaring di sebuah rumah sakit swasta dekat dengan PP Muhammadiyah Yogyakarta. Sayangnya saya gagal bertemu karena di bagian informasi tidak bisa menemukan nama yang saya maksud. Ketika menyebut dengan alamatnya pun petugas tetap gagal menemukan. Ternyata saya tak tahu nama asli beliau, saya hanya mengenal panggilan beliau, mbah Tun. Tak selang berapa lama terdengar kabar beliau wafat, innalillahi wa inna ilaihi ra jiuun…semoga rahmat dan ampunan terlimpah kepada beliau.

Saya cukup kaget, ketika riwayat hidup beliau dibacakan, saat prosesi sebelum pemakaman. Tersebutlah, jasa-jasa beliau kepada Muhammadiyah. Selain berhasil merintis amal usaha berupa Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) di Kecamatan Moyudan, dan aktivitas lainnya. Beliau juga mewakafkan sebagian tanahnya untuk Mualimin. Saya tak menyangka, mbah Tun yang bagi saya  tampak biasa, menyimpan begitu besar jasa dan perjuangan kepada Muhammadiyah. Begitu pun, beliau tak lantas menitipkan putra-putrinya menjadi anak emas di amal usaha Muhammadiyah.

Lalu apa yang akan kita katakan, ketika banyak orang berwajah Muhammadiyah justru menjadi penghancur Muhammadiyah? Dengan posisi mereka, dengan enteng memberikan jalan pintas bagi keluarga dan kolega untuk menduduki posisi di Muhammadiyah, tanpa kapasitas dan nir aktifitas di persyarikatan. Lalu apa yang pantas untuk menyebut, mereka yang menggunakan Muhammadiyah sebagai basis politik, ladang bisnis dan ajang mencari popularitas dengan mengabaikan ruh Muhammadiyah.

Tahukan jika Muhammadiyah sempat mengalami masa buruk dalam lingkaran bisnis? Kasus Bank Persyarikatan Indonesia (BPI) yang menyisakan tagihan hutang hingga setengah triliun. Dan ada lagi yang lain, menyisakan hutang sementara yang semestinya bertanggungjawab justru cuci tangan. Berlindung di balik nama besar Muhammadiyah demi meraup keuntungan pribadi tentu tak sejalan dengan semangat KH. Ahmad Dahlan, membentuk Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan bernafas sosial.


Golongan yang mencari hidup di Muhammadiyah namun enggan menghidupi Muhammadiyah mungkin layak disebut Sang Penghancur. Karena merekalah sebetulnya yang diam-diam merobohkan Muhammadiyah. Tentu kita berharap tak semakin banyak golongan semacam ini. Sebaliknya kita selalu rindu dengan sosok-sosok seperti Mbah Tun, tak tampak berwajah Muhammadiyah, namun diam-diam mendedikasikan hidup dan hartanya untuk kemajuan Muhammadiyah. Semoga Allah membalas segala amal Mbah Tun. Aamiin.
Eko Triyanto

PCPM Minggir