Etika Bermu’amalah Model Tokoh Muhammadiyah (Kasus Hamka Kepada Soekarno)

Sejarah mencatat bahwa unuk menjaga mazhab politik yang dianutnya serta wibawa yang terus ditebar ke seantero khalayak, Soekarno, Sang Pahlawan Revolusi memenjarakan beberapa politisi dan budayawan yang dinilainya berseberangan dengan dirinya. Diantara sekian tokoh yang dipejarakan tanpa pengadilan itu adalah Sastrawan, Sejarawan, ulama ternama, Allah yarham Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang lebih dikenal dengan Hamka, Buya Hamka. 
Orde Lama pun ambruk tak lama setelah kejatuhan Soekarno dan lahirlah Orde Baru dan 4 tahun setelah iu “Sang Fajar” pun wafat. Karena memeluk Islam Soekarno pun perlu dishalati jenazahnya. Saat itulah kemurahan hati Buya Hamka mencuat ke publik yang dibuatnya ternganga bertanya-tanya. Buya Hamka bahkan ditanyai beberapa kawan dekatnya “Mengapa Saudara shalati janazah seorang munafiq seperti dia yang pernah memenjarakan Saudara?” dengan sangan santun penulis novel “Tenggelamnya Kapal Van Derwijk” ini menjawab, “Nabi saw menshalati Abdullah bin Ubay bin Salul yang menyusahkannya. Setelah itu Allah turunkan ayat yang beritahukan Nabi saw bahwa Muslim tidak boleh shalati seorang munafiq. Saya shalati jenazah Soekarno karena dia seorang Muslim. Siapa yang memastikan kepada saya bahwa almarhum (Soekarno) itu seorang munafiq?”. Subahanallah!