Sebuah Nalar Pada Ayat-Ayat Semesta & 99 Cahaya Di Langit Eropa

Beberapa
dekade ini wacana tentang Islam dan Umat Islam selalu identik dengan kekerasan
dan kebodohan. Bom, teroris, miskin, bodoh, kumuh dan stigma negatif yang lain.
Tak dapat dipungkiri memang Islam adalah agama yang mayoritas dipeluk oleh
manusia sejagat raya ini menampilkan begitu banyak bentuk wajah, mulai dari
yang kumuh, kotor, arogan hingga yang bersih, santun, high class, dan
cerdas. Tapi tak dapat dipungkiri pula bahwa dari sekian banyak wajah yang
tampil, jorok, arogan, dan terbelakang-lah yang banyak menghiasi wajah Islam
dan umat muslim-nya. Hingga seolah-olah agama Rahmatan lil ‘alamiin ini
sedikitpun tak menyisakan kebaikan dan keteduhan. Mungkin masih beruntung saat
umat Islam tinggal atau berada di sebuah Negara yang mayoritas penduduknya
adalah muslim. Budaya dan keyakinan yang sama akan membuat pemeluk Islam merasa
lebih nyaman. Namun bagaimana saat seorang muslim mesti tinggal di sebuah Benua
atau Negara yang penduduk muslimnya adalah kaum minoritas?
Membaca
pendahuluan buku Nalar Ayat-Ayat Semesta yang ditulis oleh Pak Agus Purwanto
membuat hati ini lebih melek, membaca Novel dan menonton Film 99 Cahaya di Langit
Eropa membuat jiwa ini lebih adem. Islam yang identik dengan kekumuhan dan
kekerasan memang sudah seharusnya dijawab dengan sebuah karya yang luar biasa
cerdas. Dan Pak Agus Purwanto beserta mbak Hanum dan suaminya mas Rangga Almahendra
telah melakukan ini dengan sangat cerdas.
Dalam  99 Cahaya di Langit Eropa sangat jelas
digambarkan bagaimana umat Islam di tengah wajah minusnya mesti tampil sebagai
agen yang damai, agen yang penuh senyum, saling membantu untuk sesama, membantu
sesama manusia yang berbeda keyakinan. Digambarkan bagaimana sosok Fatma Pasha
seorang imigran Turki yang membalas ejekan dari warga Austria (non muslim) dengan
cara yang sangat elegan. Lebih dari itu, 99 Cahaya Di Langit Eropa juga menguak
Sejarah Peradaban Islam yang sangat berperan di Eropa, yang mana Eropa saat itu
benar-benar dalam kondsi yang sangat menyedihkan. Bahkan hanya untuk urusan
mandi pun mereka tak faham. Umat Islam yang saat itu terdepan dalam Ilmu
pengetahuan dan tekonologi mampu membangkitkan Eropa dari keterpurukan. Menguak
sejarah, menggambarkan segala yang terjadi pada masa lalu adalah sebuah usaha
untuk membangkitkan diri, belajar apa yang membuat sebuah peradaban maju itu
terbentuk, dan belajar apa pula yang membuatnya runtuh. Di tengah kesumukan
wajah-wajah yang identik dengan teroris, dan kearogansian 99 Cahaya Di Langit
Eropa hadir dengan penuh kedamaian dan keteduhan. Pengamatan Hanum sekali lagi menunjukkan
bahwa kebudayaan dan tekonologi selalu berjalan berdampingan, saling mengisi,
menentukan masa depan suatu Bangsa.
Eropa,
tidak hanya kecantikan natural melainkan menyimpan kedalaman Sejarah dan
keunggulan Peradababan. Meskipun terdiri dari berbagai Negara,  Ras, dan Bahasa namun Eropa seakan menjadi
sebuah entitas tersendiri bagi siapapun yang mengenalnya. Segala yang berbau
Eropa pasti mengundang decak dan sambutan waah. Namun, Lagi-lagi Eropa
bukan hanya sekedar menara Eiffel, Eropa bukan hanya sekedar Colloseum atau
bahkan juga bukan hanya sekedar stadion-stadion raksasa milik Liga-Liga Eropa
penguasa jagad sepakbola dunia. Ya, Eropa menyimpan peradaban Islam yang begitu
Agung.
Pun
dengan buku Nalar Ayat-Ayat Semesta, dituliskan oleh Pak Agus Purwanto dalam
pendahuluan buku tersebut bagaimana beliau deg-degan, grogi saat harus mempresentasikan
buku Ayat-Ayat Semesta di Denpasar Bali, lebih tepatnya di kampus Universitas Udayana,
di depan khalayak yang mayoritas beragama Hindu, hadir saat itu nara sumber
dari Malaysia yang mengangkat topik “The Origin of Life: What Does
Bhagavad-gita Say?
Nara sumber dari Singapura yang mengemukakan makalah “Man,
Mind, and Consciouness,
dan nara sumber dari India membawakan makalah
berjudul Scientific Dimension of Bhagavad-gita”. Sebagai pemateri yang
tampil pada urutan ke tiga Pak Agus sangat ragu dengan tema makalahnya yang
sangat berbeda dengan pemateri-pemateri yang lain, namun satu hal yang membuat
Pak Agus tetap bersemangat menyampaikan materi tersebut.  Ya, beliau membawa misi khusus untuk buku
Ayat-Ayat Semesta, misi bahwa Islam bukanlah Bom Bali, Islam bukanlah teroris,
namun Islam adalah sebuah agama yang penuh dengan Peradaban Agung melalui Ilmu
Pengetahuan. Al Quran yang dikenal hanya sebagai ayat-ayat agama yang
membosankan, ditampilkan Pak Agus dengan penuh decak kekaguman, Al Quran yang
menjelaskan dengan detail bagaimana alam ini berinteraksi, bagaimana Al Quran
membawa penikmatnya menjelajah setiap detail alam dengan akal dan hati.
Dalam
buku Ayat-Ayat Semesta Pak Agus Purwanto mengingatkan bahwa menelaah Al Quran
bukan hanya sekedar membacanya beratus-ratus kali setiap hari, namun lebih dari
itu apa yang didapat dari kandungan Al Quran tersebut. Mengaplikasikan dalam
keseharian, mewujudkan dalam setiap ide gerak sang pelaku, agar tidak ada lagi
dikotomi antara dunia dan akhirat, namun yang ada adalah bagaimana amalan
tersebut membawa pelakunya pada tingkatan kemuliaan yang mengantarkannya menjadi
manusia-manuisa utuh kecintaan Tuhan.
Di
tengah hingar-bingarnya dan kesumukan dunia saat ini, 99 Cahaya di Langit Eropa
dan Ayat-Ayat Semesta hadir bagai sebuah oase di tengah padang gurun yang
gersang. Lagi-lagi memang Al Quran sangat perlu untuk lebih dibumikan, lagi-lagi
mendapati pesan bahwa Bahasa Arab hukumnya sangat wajib untuk diketahui oleh
umat Islam. Bahasa Arab adalah Bahasa Peradaban. Islam bukan teroris, Islam
bukan bom Bali, Islam bukan kekumuhan dan kearogansian. Peradaban Islam telah
meninggalkan banyak naskah dan literatur yang menunjukkan  bagaimana sebuah akhlaq mulia menyatu pada
diri seorang muslim dengan santun dan anggun.  
Akhirnya
bahwa Al Quran masih  dapat dan harus
dinalar, tidak sekedar didoktrinkan. Bagaimana umat Islam kembali unggul,
menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, bagaimana umat Islam kembali terdepan
menjadi pemimpin dalam Ilmu Pengetahuan dan Peradaban dunia, karena prestasi
nyata yang ditunjukkannya.
Gunung
bertasbih
Ombak
berdebur
Purnama
menyentuh
Horizon
menggelorakan jiwa
Burung-burung
berterbangan sambil melantukan pujian
Lebah
tidak sekedar menyengat
Semut
tidak hanya berebut gula
Melainkan
mengajak manusia mendekat dan menyatu dengan pencipta

Wisma
Lir Ilir, Solo, 11-12-2013

Nurul Ummatun
Anggota NA Kerek, Kab.Tuban – Jatim