Menjelang Tahun Baru Masehi Kok Bagi-Bagi Kondom ?

Penghujung tahun masehi, Desember
yang akan terus-terusan menjadi kelabu. Menumpuk-numpuk kenistaan,
mendukung-dukung kesesatan, mengagung-agungkan kedurhakaan. Penghujung tahun
sejak di awal waktu menjadi gelanggang pesta para inovator kemaksiatan.

“Di
awal tahun koq sudah bagi-bagi kondom ?!!” Tidak sedikit rakyat kita terheran
dengan kebijakan unik khas pemerintah Indonesia. Kebijakan yang mencoba
memperbaiki akhlaq dan kehidupan rakyatnya dengan jalan yang merusak. Argumen
bantahan dan persetujuan muncul di sana-sini, baik secara nyata maupun melalui
jejaring sosial di dunia maya. Tidak tanggung-tanggung, kebijakan ini dilakukan
selama 1 minggu, dari tanggal 1 sampai 7 Desember di kota-kota besar Indonesia
(walaupun kebijakan ini akhirnya dibatalkan). Maksud dan tujuan dari “pekan
kondom” ini adalah pemerintah Indonesia mencoba menanggulangi penyebaran virus
mematikan HIV AIDS dengan tema  “Protect
Youself, Protect Your Partner”. Maksud dan tujuannya memang bagus, namun
caranya yang kurang tepat, mengingat masyarakat kita yang bandel-bandel.

Sebenarnya
ada langkah jitu, tanpa harus membuang anggaran yang bermilyar-milyar. Semua
cara untuk menanggulangi penyebaran virus mematikan sekaligus menghilangkannya
tanpa jejak terangkum dengan indah dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Yang
paling utama perlu disimak adalah peringatan dari Allaah Swt dalam Q.S
Al-Israa’ ayat 32

Artinya
: “Dan janganlah kamu
mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan
suatu jalan yang buruk.”
(Q.S Al-Israa’[17] : 32)

Imam
Al Qurtuby dalam Al Jami’ li Ahkaam Al Qur’an mengungkapkan bahwa para ulama
berkata “Firman Allah swt, (وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى) ”Janganlah kamu mendekati zina” lebih
mendalam maknanya daripada perkataan (وَلاَ تَزَنُّوْا)  “Janganlah kalian berbuat zina”. Bila digunakan kalimat  “Janganlah kalian berbuat zina”, maka yang diharamkan
Allah adalah hanya zina saja melainkan segala sesuatu yang mendekatinya tidak
haram. Sedang Allah menggunakan kalimat ”Janganlah kamu mendekati zina”,
yang maknanya sangat mendalam, yaitu apa saja yang mendekati zina adalah haram
terlebih lagi berzinanya sudah sangat jelas diharamkan.

Sebelumnya
perlu diketahui, bahwa penularan virus HIV AIDS hanya bisa melalui 3 cara,
transfusi darah, hubungan seksual (baik yang termasuk zina maupun yang bukan)
dan melalui ASI. Dan sejauh ini cara kedualah yang menjadi penyebar terbesar
virus ini, terutama untuk kategori yang termasuk zina. Maka sebuah langkah yang
tepat jika yang pertama dilakukan adalah menjauhi dan hal-hal yang bisa
dikatakan mendekati zina antara lain seperti khalwat, ikhtilat, mengumbar
aurot, pandangan mata yang liar dan pikiran atau hati yang kotor.
1.      Khalwat

      Khalwat artinya
menyepi, menyendiri, mengasingkan diri bersama dengan seseorang tanpa
kersertaan orang lain. Istilah khalwat sering digunakan untuk mengungkapkan
hubungan antara dua orang dimana mereka menyepi dari pengetahuan atau campur
tangan pihak lain, kecuali hanya mereka berdua. Sedangkan kholwat laki-laki dan
wanita yang bukan mahram adalah hal yang diaramkan di dalam syariat Islam.
 “Janganlah salah seorang dari kalian
berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaitan menjadi orang
ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad)
2.      Ikhtilat
Makna
ikhtilat yaitu percampur bauran antara laki-laki dan perempuan yang tidak
hubungan mahram pada suatu tempat. Para ulama sependapat bahwa hukum ikhtilat
adalah haram dikarenakan ikhtilat merupakan jalan yang memudahkan terjadinya
berbagai kemaksiatan. Dikatakan ikhltilat jika memenuhi 2 syarat, yaitu adanya
pertemuan antara laki-laki dan perempuan (yang bukan mahramnya) di suatu
tempat, dan terjadi interaksi di antara laki-laki dan perempuan, dimana
pertemuan yang terjadi tidak memiliki kepentingan syar’i. Misalnya laki-laki
dan perempuan yang bukan mahram janjian untuk bertemu dan makan bersama di
sebuah rumah makan. Adapun untuk pertemuan-pertemuan dalam suatu
organisasi  yang mengharuskan adanya
kehadiran antara laki-laki dan perempuan, maka harus ada pemisah di antara
keduanya.
3.      Mengumbar Aurat
Aurat menurut istilah fiqih merupakan bagian tubuh seseorang
yang wajib diitutupi dan wajib dilindungi dari pandangan, artinya tidak boleh
terlihat kecuali oleh mahram.   Sedangkan
aurat sendiri diambil dari kata “Aurat” yang memiliki arti perkara yang kalau
dibuka bisa menimbulkan aib.  Oleh karena
itu, Islam mewajibkan umatnya untuk menjaga kehormatannya dengan jalan tidak
mengumbar aurat.
Allah swt dalam firman-Nya
Artinya  :“Hai
Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan
isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke
seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk
dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.
(Q.S Al-Ahzab[33] : 59)
Kewajiban
menutup aurat merupakan upaya untuk melindungi seseorang dari berbagai macam
gangguan. Terutama untuk perempuan, karena dalam keindahan tubuh perempuan,
setan selalu menghiasinya pada pandangan laki-laki. Hal ini dijelaskan dalam
sebuah hadits :
Artinya : “Wanita adalah aurat, apabila dia
keluar, setan menghiasinya .”
( HR. at- Tirmidzi
no. 1176, beliau berkata, “Hadits ini hasan sahih.”)
Maka
ketika seorang wanita membuka auratnya, maka secara terang-terangan dia telah
mengundang dan mepersilahkan laki-laki untuk mengganggunya. Dengan kata lain
sang wanita yang membuka auratnya padahal mengetahui hukumnya telah menggoda
laki-laki secara sengaja.
4.      Pandangan mata yang liar, pikiran
dan hati yang kotor
Pandangan yang haram, pikiran dan
hati yang tidak terkendali merupakan awal mula terjadinya perbuatan zina.
Sehingga Allaah swt dalam firman-Nya memerintahkan untuk menjaga pandangan
dalam Q.S An-Nuur[24] :30-31 bahwa laki-laki dan wanita beriman hendaklah
menahan pandangan.  Menahan pandangan
disini bukan berarti harus menundukkan kepala sehingga berjalan tidak karuan
atau malah memejamkan mata hingga mata tidak bisa melihat apapun. Yang dimaksud
menjaga pandangan yaitu menjaganya dan tidak melepas kendalinya
hingga menjadi liar. Pandangan yang terpelihara adalah apabila seseorang
memandang sesuatu yang bukan aurat orang lain, lalu ia tidak mengamat-amati
keelokan parasnya, tidak berlama-lama memandangnya, dan tidak memelototi apa
yang dilihatnya. Dengan kata lain, menahan dari apa yang diharamkan oleh Allah
Subhaanahu Wata’ala dan Rasul-Nya untuk kita memandangnya.
Jika
pandangan tidak bisa dijaga, maka kerusakan hati akan lebih mudah terjadi dan
ketika hati sudah rusak, maka tunggulah kerusakan-kerusakan lain menjangkiti
sendi kehidupan seroang manusia.
Menjauhi
keempat poin di atas  dan mengindahkan
firman Allaah dalam Q.S Al-Israa’ ayat 32 merupakan cara paling efektif untuk
mencegah penyebaran dan penularan virus HIV AIDS ditambah dengan menjaga
keadaan jasmani masing-masing individu. Dimana segala sesuatunya haruslah
dimulai dari diri sendiri. Wallahu a’lam bishshawab.
Semoga Bermanfaat…
Oleh
: IMMawati Tika Mawarni