Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Dakwah Jamaah Muhammadiyah

Dakwah Jamaah merupakan ciri khas pengajian dalam organisasi Muhammadiyah. Sejak gerakan ini lahir, sudah dibiasakan dengan pengajian model ini. Biasanya dilakukan seminggu sekali di suatu kawasan tertentu. Ia tidak terikat dengan struktur organisasi secara formal, meski biasanya yang melaksanakan gerakan ini adalah unsur atau pimpinan organisasi. Ia berbasic “kawasan”, atau tempat domisili warga Muhammadiyah. Dengan kata lain, jika dalam sebuah ranting Muhammadiyah anggotanya banyak, dan kawasannya juga luas, maka sangat dimungkinkan untuk membuat dua atau lebih kelompok pengajian Dakwah Jamaah ini.
Dakwah Jamaah lebih familier dengan istilah “Pengajian Minggu Pagi, Pengajian Selasa Malam, Pengajian Jumat Malam” dan lain sebagainya. Nama-nama hari tersebut lebih mudah diingat oleh jamaah karena terkait dengan jadwal pengajian.
Umumnya, Dakwah Jamaah mengaji masalah etika (akhlak), baik tentang sabar, tawakal dan lain sebagainya. Ada juga yang mengaji kiitab hadis, atau tafsir. Namun tidak secara sistematis.
Agar Dakwah Jamaah lebih meningkat baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, penulis mengusulkan beberapa hal berikut:
Peningkatan Kualitas
Hendaknya Kakwah Jamaah dijadikan sebagai sarana peningkatan intelektual (tatskif) dan peningkatan keimanan bagi anggota.  Agar hal ini dapat terwujud, maka dapat dilakukan beberapa hal beriku:
  1. Materi dalam pengajian Dakwah Jamaah sudah sistematis dan mengacu kepada kitab tertentu. Contoh, mengaji kitab Tafsir Ibnu Katsir, mengaji kitab Hadis Bukhari, mengaji kitab fikih HPT atau kitab-kitab fikih lainnya. Tentu saja pengajian disesuaikan dengan kebutuhan jamaah. Jika selesai satu kitab, kemudian akan pindah pada kitab yang lain. Memang baiknya diajarkan kitab kuning. Selain sebagai upaya peningkatan wawasan keilmuan anggota, mengaji kitab kuning, juga dapat memberikan jembatan bagi jamaah untuk dapat beriteraksi dengan turats. Upaya ini sekaligus menepis anggapan bahwa anggota muhammadiyah tidak kenal kitab kuning.
    Ngaji kitab kuning, sekaligus mengingatkan jamaah Muhammadiyah kepada kejayaan Islam masa lampau. Dengan demikian, dalam menatap kemajuan dunia saat ini, jamaah tidak lepas dari semangat kemajuan Islam masa lalu. Ngaji kitab kuning, akan menjadi jembatan penghubung jamaah, dari sejarahnya menuju masa depan yang lebih cerah.
Jika tidal kitab kuning juga tidak mengapa. Yang terpenting ada kejelasan buku diktat bagi jamaah. Dengan demikian, jamaah juga bias membuka-buka terlebih dahulu sebelum beranbgkat ke pengajian, siapa tau ada hal-hal yang nantinya perlu dipertanyakan.
  1.  Hendaknya mereka yang memberikan materi, tidak berubah-ubah. Ia adalah pengampu dan kyai tetap bagi jamaah. Ia juga orang yang memang secara keilmuan, dipercaya oleh jamaah. Dengan demikian, pengajian akan lebih terarah dan sistematis. Hal ini karena setiap orang mempunyai alur pemikiran yang berbeda, sehingga untuk menghindari kebingungan jamaah, maka perlu ditetapkan satu orang saja sebagai pengampu jamaah. Sesekali boleh pematerti selain yang sudah mereka tetapkan untuk menambah wawasan. namun tetap harus ada kyai jamaah. 
  2. Selesai ngaji, hendaklah juga ada sesi dialog santai, terkait dengan perkembangan persoalan masa kini, terutama terkait dengan jamaah. Diharapkan, Dakwah Jamaah tidak hanya sebagai tempat ngaji, namun juga sebagai wadah untuk mencari solusi alternatif terhadap persoalan jamaah. Satu sama lain akan memberi masukan positif terkait perkembangan anggota jamaah. Bisa saja anggota jamaah ada yang sakit dan tidak dapat berobat, maka posisi jamaah lainnya untuk menguatkan dan memberikan bantuan semampu mereka. Atau ada jamaah yang tingkat ekonominya masih lemah, sehingga jamaah lain bisa memberikan solusi alternatif agar ia bisa keluar dari kesulitan ekonomi. Dengan saling “curhat” dalam dialog santai tersebut, maka persoalan jamaah pelan-pelan dapat diselesaikan. Dialog santai tersebut sekaligus pengikat ukhuwah Islamiyah bagi jamaah dan sarana untuk saling tolong menolong dalam kebaikan.
  3. Dialog santai  juga bisa dijadikan sebagai sarana untuk tukar pikiran tentang kebutuhan jamaah, seperti apakah perlu membangun amal usaha, koperasi bersama, atau lainnya. Jika amal usaha sudah ada, bisa dijadikan sebagai sarana mencari sisi-sisi positif agar kedepan lebih maju. Jika ada masalah, juga bisa dicari jalan keluarnya. Obrolan santai biasanya lebih menghasilkan, karena anggota bicara dari hati ke hati. Disini eko personal akan runtuh dengan kepentingan bersama. Beda jika persoalan dibicarakan secara resmi dalam forum khusus.
  4. Bagus juga jika diadakan tadarus bersama sebelum mulai pengajian, atau ditutup dengan renungan spiritual, agar jamaah mengingat kesalahan yang sudah ia laksanakan seminggu ini, supaya tidak terulang diminggu yang akan datang. Atau, sebulan sekali diadakan shalat malam bersama, sehingga akan memupuk kualitas ibadah dan keimanan jamaah.
Peningkatan Kuantitas Dakwah Jamaah
sementara itu, untuk meningkatkan kuantitas jamaah, dapat dilakukan beberapa hal berikut:
1. Dakwah Jamaah tidak hanya dilakukan di tempat domisili jamaah, namun bisa juga ditempat profesi jamaah berada. Hal ini mengingat, tidak semua anggota jamaah tinggal di daerah yang banyak mempunyai komunitas Muhammadiyah. Bisa saja dia satu-satunya jamaah yang tinggal di daerah situ.
2. Dengan demikian, Dakwah Jamaah bisa dilakukan di PKU Muhammadiyah, sekolahan Muhammadiyah, Universitas Muhammadiyah, sekretariat IPM, IMM, dan lain sebagainya. Selain sebagai tempat tatsqif, Dakwah Jamaah di tempat profesi juga sebagai penguatan ideologi jamaah serta upaya antisipasi terhadap infiltrasi jamaah dari gerakan lain.

Jika secara kualitas dan kuantitas Dakwah Jamaah mengalami peningkatan, maka secara otomatis, kualitas dan kuantitas anggota persyarikatan juga akan meningkat. Jamaah kuat, maka gerakan Muhammadiyah juga kuat.
Wahyudi Abdurrahim
*Alumni Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta (1996); Ma’had Bu’uts Al-Azhar Kairo (2001); mahasiswa SI Fakultas Ushuluddin Jurusan Aqidah dan Filsafat Universitas Al-Azhar Kairo; S2 di Ma’had Ali Lidirasah Islamiyah Kairo (2011)