Kampanye Hidup Sehat, Bukan Kampanye Kondom Gratis

Tepat
tanggal 1 hingga nanti tanggal 7 Desember, bahkan sampai saat ini pun kita
dihebohkan dengan berita adanya Program Pekan Kondom Nasional yang digulirkan
tanggal selama satu pekan kedepan, hal ini terus menuai kritik. Selain dikritik
adanya program tersebut, kemasan-kemasan programnyapun sangat ‘menjijikan’
bahkan saya pikir ini program yang bukan mengajarkan hidup sehat melainkan
mengajarkan masyarakat untuk melakukan hubungan seksual, bagaimana tidak,
program ini membagi-bagikan kondom gratis kepada masyarakat, parahnya lagi
sajian bus warna merah seolah-olah ‘menantang’ masyarakat untuk mencoba, lantas
dijadikannya kampus sebagai salah satu sasaran program dari peringatan
HIV/AIDS.
Pierre Frederick,
Senior Brand Manager Sutra dan Fiesta, mengatakan keberadaan “bus kondom”
berwarna merah akan ditunda untuk sementara. “Program games interaktif seputar
kesehatan seksual untuk sementara ini kita tunda dikarenakan banyaknya persepsi
yang salah tentang bus ini,” tulis Pierre dalam emailnya untuk detikHealth pada
hari Senin (2/12/2013).
Terlepas
dari apapun alasannya, program pembagian kondom gratis memang harus kita ‘HARAM’
kan, karena secara tidak langsung ‘memfasilitasi’ free sex dan prilaku-prilaku
sex yang menyimpang, lain halnya dengan menggunakan kemasan-kemasan seperti
memberikan pemahaman tentang pola hidup sehat, apakah dengan materi, brosur dan
famplet serta menkes sendiri memberikan penyuluhan dirasa tidak cukup…??
Lagi-lagi
saya berpikir entah apa yang ada dibenak menkes, jika ingin mengajarkan pola
hidup sehat tentunya gunakan cara-cara yang sehat pula, bukan cara-cara yang
malah mengundang penyakit yang akhirnya tinggal menunggu kehancuran, bukan lagi
malah menekan kenaikan pengguna atau masyarakat yang terjangkit virus HIV/AIDS
tapi malah akan meningkatkan peningkatan masyarakat yang terkena virus
HIV/AIDS.
Sadar
atau tidak sadar menkes kita sedang mengajarkan pola hidup yang sehat dengan
cara memberikan penyakit “bagi-bagi kondom’, terlebih fokus utamanya adalah
para remaja bukan orang tua yang sudah pada menikah. Aneh rasanya jika
anak-anak remaja bahkan kampus menjadi sasaran utama pembagian kondom gratis,
lantas setelah mendapatkan kondom gratis apakah bisa menyelesaikan masalah..??
Mubazir rasanya jika uang rakyat dibelikan kondom gratis, terlebih cara yang
paling ampuh adalah pemberian obat-obatan yang mampu mencegah virus tersebut,
periksa penyakit gratis, bukan malah membagi-bagikan kondom, membuat bus yang
‘menantang’ dan sasarannya dikampus-kampus.
Masyarakat
kita bukan masyarakat yang bodoh, coba tanya apakah untungnya mendapatkan
kondom gratis…?? terlebih bagi para mahasiswa, remaja dan anak-anak
tongkrongan…?? bukankah mereka pun jijik dengan hal itu.
Program
pembagian kondom itu jelas sangat menjijikan, sebagai seorang mentri tentu
banyak cara yang jauh lebih baik dan atraktif dalam mengemas pola hidup sehat.
Bukan malah menambah daftar penyebaran virus HIV/AIDS.
Menteri
Kesehatan RI Nafasiah Mboi bahkan dengan lantang mengatakan bahwa kondom
sekarang tidak berpori jadi akan aman digunakan untuk mencegah kehamilan dan
virus HIV/AIDS. “Bila dipakai dengan tepat, benar dan konsisten, sangat
efektif, hampir 100%. Sekarang yang dipakai adalah kondom
dari latex yang tidak berpori, dan makin banyak bukti-bukti yang
menunjukkan efektivitas kondom untuk pencegahan penyakit maupun kehamilan yang tidak
direncanakan,”.
Tapi
apakah kondom menjadi solusi aman untuk mencegah HIV / AIDS..?? Prof. DR. dr.
Dadang Hawari membantahnya. ”Saya bisa pastikan salah besar. Karena kondom
dibuat dari latex, berarti berserat berpori-pori. Kalau tidak berserat dan
tidak berpori-pori itu dari plastik. Ukuran pori-porinya 1/60 mikron, kecil
sekali. Kondom dirancang untuk Keluarga Berencana, untuk mencegah sperma.
Ukuran virus di banding sperma 1/450 kali lipat. Jadi virus HIV sangat kecil
sekali dibanding sperma yang bentuknya seperti kecebong itu.”
Prof.
Dadang mengingatkan penelitian di Indonesia lima tahun yang lalu untuk KB
dengan kondom, gagal 20 persen. “Apalagi untuk HIV/AIDS. Sekarang kenyataannya,
dengan menggunakan kondom ternyata semakin banyak pula yang terkena HIV/AIDS,
padahal kampanye sudah bertahun-tahun, pengidap HIV/AIDS semakin banyak
bukannya menurun.”
Prof
Dadang lanjut menjelaskan, “Di Amerika, 1/3 jumlah kondom yang  beredar di
pasar bocor. Kesimpulan dari penelitian dari Badan POM di Amerika tahun 2005,
tidak dikampanyekan lagi kondom karena mulai gagal. Kondom untuk sperma bukan
untuk virus HIV yang sangat kecil”.
Sangat
jelas sekali bahwa pekan kondom nasional dengan membagi-bagikan kondom gratis
yang sasaran utamanya adalah remaja bahkan rencananya dikampus-kampus adalah
solusi yang sangat menjijikan. Kondom dibagikan bagi para pasangan suami istri
yang sudah menikah bukan remaja yang masih sekolah, kuliah.

Sederhananya
jika ingin memperingati hari HIV/AIDS tentu lihat negara-negara maju yang
mengemasnya secara mendidik dan ‘terkesan’ menakuti para pelakunya bukan malah
‘memfasilitasi’ dengan kemasan-kemasan yang menggoda. Befikir cerdas dalam
upaya membangun karakter bangsa dimulai dari bagaimana para mentri yang ada
menciptakan solusi dan program-program yang mendidik dan membangun bukan
sebaliknya. Kampanyekan hidup sehat dengan pola dan prilaku hidup sehat BUKAN membagikan kondom gratis.
Abdurrahman

Sekretaris Umum PK IMM STKIP
Muhammadiyah Bogor