Winai Dahlan, Salah Satu Aset Muhammadiyah Diaspora

Bangkok (PCIM Malaysia) — Jaringan diaspora Indonesia yang dipelopori mahasiswa-mahasiwa Indonesia di luar negeri saat ini sedang berkembang, apalagi didukung oleh Kementerian Luar Negeri RI melalui perwakilan-perwakilan RI di beberapa negara belahan dunia sehingga telah mengadakan konggres kedua diaspora Indonesia di Jakarta beberapa bulan lalu (18-20/8/2013).
Demikian halnya dengan Persyarikatan Muhammadiyah yang telah menyebar ke seluruh provinsi di Indonesia dan juga telah mempunyai beberapa cabang istimewa di beberapa negara. Bahkan di negara jiran seperti Singapura dan Malaysia terdapat organisasi dan amal usaha bernama Muhammadiyah yang serupa nama dan logonya akan tetapi secara aset dan struktural tidak mempunyai hubungan resmi dengan Persyarikatan Muhammadiyah saat ini.
Diaspora Muhammadiyah seperti hal tersebut di atas telah terjadi puluhan tahun lalu yang disebarkan oleh para Da’i-da’i. Fenomena diaspora tersebut sempat beberapa kali dibahas seperti halnya oleh Abdul Muthi sewaktu berkunjung dan silaturahmi dengan PCIM Malaysia (22/1/2012).
Winai Dahlan, seorang professor pendiri Lembaga Riset Halal di Thailand adalah salah satu contoh sosok diaspora Muhammadiyah. Walaupun Winai bukan pengurus Muhammadiyah, akan tetapi merupakan salah satu aset Muhammadiyah juga yang “berdarah biru” karena merupakan cucu K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.
Sejarah Keluarga
K.H. Ahmad Dahlan mengirim putranya, Irfan Dahlan untuk belajar keluar negeri sejak masih muda. Putra keempat pendiri Muhammadiyah tersebut belajar di Madrasah Ahmadiah Lahor Pakistan. Karena belajar di sekolah Ahmadiah tersebut maka ada yang menfitnah bahwa Irfan adalah penganut faham Ahmadiah, tapi hal tersebut telah dibantahnya termasuk oleh putra-putrinya. Sepulang belajar dari Pakistan, Irfan tidak bisa kembali ke tanah air karena situasi politik di Hindia Belanda (Indonesia) pada saat itu sedang terjadi pergolakan politik antara Belanda dan Jepang.
Sehingga Irfan Dahlan pergi ke Pattani (sekarang merupakan bagian negara Thailand) menjadi asisten Dr. Khan dari Pakistan pada sekitar tahun 1930. Irfan menghabiskan waktu 27 tahun di Thailand dengan kehidupan sederhana (bahkan bisa dibilang kekurangan). Irfan selalu mengajarkan kepada anak-anaknya agar selalu berkontribusi positif bagi dunia Islam. Irfan meninggal pada tanggal 8 Mei 1967 di Bangkok dengan meninggalkan 10 anak dan satu istri.
Winai Dahlan (tiga dari kanan) dan Nashrul Hakiem Pengurus PCIM (dua dari kanan)
Pusat Halal Riset di Thailand

Salah satu putra Irfan adalah Winai Dahlan, lulusan doktor dari Universitas Bruxelles Belgia ini  merupakan pendiri dan direktur Pusat Ilmu Halal di Universitas Chulalongkorn. Professor di Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Chulalongkorn Bangkok ini telah menghasilkan puluhan publikasi ilmiah di jurnal ternama dan ribuan artikel tentang ilmu kesehatan di beberapa majalah.
Pusat riset halal yang didirikannya tidak hanya menjadi rujukan halal di Thailand saja, bahkan beberapa negara lain juga mengakuinya. Laboratorium dua lantai tersebut dilengkapi fasilitas modern dan menjadi pusat kajian halal pertama dan terbesar di dunia.
Salah satu Pengurus Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia, Nashrul Hakiem di akhir tugas kerjanya di Bangkok berkesempatan silaturahmi dan mengunjungi fasilitas laboratorium halal yang didirikan Winai. Pengurus PCIM juga memperkenalkan bahwa di Malaysia ada cabang Muhammadiyah yang didirikan oleh kakeknya beserta segala kiprahnya. Winai seakan tak percaya dan berharap bisa bersilaturahmi lagi dengan PCIM Malaysia di lain kesempatan. Nashrun minAllah  wa fathun qariib. (NlH)